Penjualan Meningkat, Laba Kimia Farma Justru Menurun, Kok Bisa?

Kompas.com - 31/10/2020, 06:34 WIB
Gedung Kimia Farma di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, Senin (24/10/2016). Gedung Kimia Farma dulunya adalah rumah pemujaan yang dipakai Loji La Vertueuse. Gedung seluas 20x27 meter dirancang oleh insinyur belanda J Tromp yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Gedung-gedung Negeri. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANGedung Kimia Farma di Jalan Budi Utomo, Jakarta Pusat, Senin (24/10/2016). Gedung Kimia Farma dulunya adalah rumah pemujaan yang dipakai Loji La Vertueuse. Gedung seluas 20x27 meter dirancang oleh insinyur belanda J Tromp yang juga Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Gedung-gedung Negeri.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Kimia Farma (Persero) Tbk melaporkan adanya penurunan laba bersih pada periode 9 bulan pertama tahun ini. Padahal, pada saat bersamaan pendapatan penjualan justru mengalami peningkatan.

Dikutip dari laporan keuangan per kuartal III-2020, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 32,07 miliar, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu mencapai Rp 41,83 miliar.

Sementara itu, pada saat bersamaan penjualan perusahaan farmasi pelat merah itu mengalami peningkatan menjadi Rp 7,05 triliun, dari sebelumnya Rp 6,88 triliun.

Baca juga: Kabar Baik, Kimia Farma Sudah Bisa Produksi Avigan

Lantas, apa yang menyebabkan laba bersih perseroan justru mengalami penurunan?

Jika dilihat dari laporan keuangan Kimia Farma, penurunan laba bersih utamanya diakibatkan peningkatan beban keuangan secara signifikan menjadi Rp 447,76 miliar, dari sebelumnya hanya Rp 357,07 miliar.

Beban pokok penjualan turut mengalami kenaikan menjadi Rp 4,41 triliun dari sebelumnya Rp 4,36 triliun.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lalu, beban usaha naik tipis dari sebelumnya Rp 2,21 triliun menjadi Rp 2,23 triliun.

Baca juga: Pertamina Ajak Kimia Farma Produksi Bahan Baku Farmasi, Buat Apa?

Selain itu, perseroan juga perlu menanggung selisih kurs mata uang yang mencapai Rp 4,06 miliar, padahal sebelumnya hanya sebesar Rp 476 juta.

Kemudian, pada postur pendapatan lain-lain mengalami penurunan dari sebelumnya Rp 128,6 miliar menjadi Rp 112,3 miliar.

Sebagai informasi, Kimia Farma merupakan salah satu perusahaan pelat merah yang ditugaskan bekerja sama dengan negara lain untuk mengembangkan vaksin Covid-19.

Kimia Farma ditunjuk untuk bekerja sama dengan Group 42 dari Uni Emirat Arab untuk mengembangkan vaksin Sinopharm.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X