BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan BCA

Sedang Marak, #AwasModus Pencurian Data Rahasia Perbankan!

Kompas.com - 21/11/2020, 10:01 WIB
Ilustrasi penipuan. FREEPIK/JCOMPIlustrasi penipuan.
|

KOMPAS.com – Aksi penipuan mengatasnamakan perbankan masih marak terjadi dengan beragam modus. Salah satunya social engineering alias rekayasa sosial.

Social engineering merupakan tindakan mengelabui dengan mengarang atau merekayasa suatu kondisi yang dapat memengaruhi sisi psikologi sang korban. Dengan begitu, pelaku akhirnya bisa mengendalikan dan mendapatkan data pribadi sang korban.

Pada kasus penipuan perbankan, praktik dari modus tersebut dilakukan oleh pelaku melalui panggilan telepon dan berpura-pura menjadi petugas bank.

Nomor telepon yang digunakan pelaku biasanya mirip dengan nomor resmi sebuah perusahaan atau institusi, plus memiliki kode area. Karenanya, tak sedikit nasabah terdorong untuk menjawab panggilan yang sebenarnya fake caller number.

Baca juga: Ini Ragam Modus Penipuan Atas Nama Bank dan Cara Mencegahnya

Saat panggilan diangkat oleh nasabah, oknum akan merekayasa cerita adanya aktivitas transaksi mencurigakan pada rekening atau kartu kredit dan menawarkan layanan pembatalan transaksi tersebut asal diberikan data pribadi.

Dengan pengucapan dan intonasi yang begitu meyakinkan bak customer service, serta dilakukan secara persuasif, tak sedikit nasabah terkecoh. Nasabah pun akhirnya memberikan data pribadi kepada pelaku setelah sebelumnya dirundung kepanikan.

Adapun data perbankan pribadi yang diminta pelaku modus social engineering terdiri dari kode personal identification number (PIN), nomor kartu ATM, username sekaligus PIN mobile banking, kode card verification value (CVV) maupun card verification code (CVC) kartu kredit, one time password (OTP) yang diterima, serta informasi penting lainnya.

Setelah itu, pelaku akan mengakses beragam produk perbankan milik korban, seperti mobile banking dan kartu kredit, serta menguras semua aset yang ada di dalamnya tanpa korban sadari.

Berdasarkan hasil riset Pusat Studi Masyarakat Digital Universitas Gadjah Mada (UGM), aksi penipuan mengatasnamakan bank, termasuk modus social engineering, sebenarnya sudah ada sejak teknologi masih berada di era klasik berbasis e-mail, handphone, dan pesan singkat (SMS).

Baca juga: Beli Token Listrik dan Pulsa di Tengah Pandemi #DibikinSimpel dengan Aplikasi ini

"Namun, seiring kemajuan teknologi, tindakan yang dilakukan para penipu mulai bergeser dari mengakses sistem menjadi memanipulasi psikologis pengguna. Targetnya adalah pihak yang punya otoritas di sistem elektronik tersebut,” ujar Peneliti CfDS UGM, Adityo Hidayat, dikutip dari Info Komputer, Minggu (1/3/2020).

Kepala Unit (Kanit) V Subdit Cyber Crime Polda Metro Jaya AKBP Dhany Aryandra dalam berita Kompas.com, Kamis (23/1/2020) mengatakan, ada 2.300 laporan masuk terkait penipuan aksi rekayasa sosial sepanjang 2019.

Bahkan, aksi tersebut menjadi kasus paling tinggi di antara lima tindakan kejahatan cybercrime lainnya yang rata-rata berjumlah 100 laporan per tahun.

Awas ModusDok. BCA Awas Modus

Tips #AwasModus waspada penipuan

Melihat maraknya kasus penipuan mengatasnamakan bank, Executive Vice President PT Bank Central Asia Tbk Nathalya Wani Sabu mengimbau agar para nasabah selalu waspada sehingga tidak menjadi korban dari kejahatan. Melalui laman #AwasModus ia membeberkan cara tersebut.

Pertama, jangan pernah mengangkat telepon dari nomor mencurigakan, sekalipun itu terlihat mirip dengan nomor resmi layanan pelanggan. Ingat, nomor customer call center BCA hanya 1500888. Tidak ada embel-embel kode di depannya, seperti +62, 021, atau sejenisnya.

Kedua, jika terlanjur mengangkat telepon dari nomor yang tidak dikenal sekaligus mencurigakan, seperti meminta data pribadi, usahakan tetap tenang dan jangan panik. Ada baiknya segera tutup panggilan tersebut.

“Jika memang kemudian dia (penipu) meminta data-data perbankan, segera akhiri panggilan tersebut. Sekali lagi disampaikan, bank tidak pernah minta data-data seperti PIN ATM, nomor kartu ATM, PIN mobile banking, CVV maupun CVC kartu kredit, OTP, dan data pribadi lainnya. Ingat, #DatamuRahasiamu,” tegas Wani.

Baca juga: Jaga Diri Selama Pandemi, Transaksi Nontunai Jadi Solusi

Ketiga, bila menemukan aktivitas mencurigakan seperti yang terjadi pada dua poin di atas, terlebih panggilan yang mengatasnamakan pihak BCA, segera hubungi Halo BCA di 1500888.

“Kami (BCA) dengan senang hati melanjutkan laporan tersebut ke pihak berwajib untuk ditindaklanjuti,” kata Wani.

Selain itu, kamu juga bisa lapor via WhatsApp BCA 08111500998, akun Twitter @HaloBCA, atau mengirimkan surat elektronik ke halobca@bca.co.id.

Wani berharap, tiga langkah #AwasModus tersebut dapat dibagikan kepada orang terdekat, seperti keluarga atau teman demi keamanan bersama. Kamu juga bisa mendapatkan informasi seputar modus kejahatan yang mengatasnamakan perbankan lainnya di sini.

“Dengan begitu, kita turut serta menjadi agent of change pencetak Generasi Anti Modus,” katanya.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya