KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan BCA

Mau Tenang? Ya, Punya Dana Jaga-jaga

Kompas.com - 27/11/2020, 14:13 WIB
Ilustrasi dana darurat. Dok. KredivoIlustrasi dana darurat.

KOMPAS.com - Saya enggak begitu suka menonton film. Namun, ada dua genre film yang bisa bikin saya bela-belain untuk nonton. Pertama, komedi—termasuk komedi romantis. Kedua, sejarah.

Nah, khusus genre sejarah, saya agak nyandu atau istilah anak muda sekarang, freak. Saya suka sekali film yang menceritakan sejarah suatu negara atau perjalanan hidup seorang tokoh. Misalnya saja, film Soekarno, Evita—film tentang mantan ibu negara Argentina Evita Peron—atau The Last Emperor yang menceritakan kisah hidup kaisar terakhir China, Pu Yu.

Cuma satu subgenre film sejarah yang kadang saya hindari: film perang. Buat saya, nonton film perang itu enggak enak. Sebab, isinya cuma tembak-tembakan, orang luka parah, banyak darah, dan mati di mana-mana karena bom.

Jika diibaratkan sebuah pemandangan, film perang menurut saya seperti tanah gersang. Film itu enggak enak ditonton dan memberikan efek negatif pada pikiran. Apalagi, kalau isi film dari awal sampai akhir perang melulu dan tidak ada unsur dramanya, bisa-bisa jadi stres saat dan usai menonton.

Baca juga: Ini Cara Kelola Dana Darurat di Masa Pandemi

Namun, ada satu yang saya ingat setiap nonton film perang. Tiap ada perang, orang sipil maupun tentara seringkali ngumpet di bungker. Bungker ini adalah sebutan untuk tempat persembunyian yang bentuknya mirip-mirip gua kecil, tapi buatan.

Lalu, ngapain mereka di bungker? Ya… sembunyi lah. Sembunyi dari apa? Dari tembakan, asap peluru, atau segala bahaya yang mengintai di luar. Dengan ngumpet di bungker, mereka akan selamat. Kecuali, tentu saja, kalau bungkernya dibom.

Nah, pertengahan Maret 2020 lalu, Pak Jokowi mengimbau masyarakat untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah. Masyarakat diminta tidak keluar rumah kecuali hanya kalau benar-benar terpaksa. Ini karena ada pandemi ganas di luar.

Plus, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan sekitar awal April lalu dan orang-orang memilih “bersembunyi” di rumah karena benar-benar takut beraktivitas di luar, saya jadi ingat bungker yang ada di film-film perang.

Saat perang, orang sembunyi di bungker karena bisa terkena tembakan, bau mesiu, dan semua yang mengancam jiwa mereka bila keluar.

Kondisi itu sama seperti PSBB. Kita berada di rumah karena kita takut dengan ancaman wabah yang ada di luar. Jadi buat saya, rumah itu mirip seperti bungker ketika perang.

Sekarang, apa sih sisi enggak enaknya ketika seseorang ngumpet di bungker? Ya, mereka tidak bisa beraktivitas normal. Kalau mau aktivitas normal, ya harus keluar bungker. Namun, bahaya karena di luar kan ada perang. Ya, jadi serbasalah.

Baca juga: Cegah “Latte Factor” Mendarah Daging, Coba Buka Tabungan Berjangka

Sama dengan ketika pandemi, orang terpaksa harus di rumah dan banyak aktivitas di luar rumah yang tidak bisa dilakukan.

Nah, kalau Anda bekerja dan pekerjaannya bisa dilakukan di rumah sih enggak apa-apa. Lha, tapi banyak pekerjaan memang hanya bisa dilakukan di luar rumah sehingga ketika harus di rumah, banyak orang mengalami penurunan penghasilan, bahkan terhenti.

Kalau Anda karyawan sebuah perusahaan yang industrinya sangat terpengaruh oleh pandemi sehingga penjualannya menurun, bisa jadi posisi Anda sebagai karyawan juga terancam. Bisa saja sewaktu-waktu Anda di-PHK. Itu kalau Anda karyawan.

Kalau Anda freelancer atau pekerja paruh waktu, pandemi bisa jadi membuat order pekerjaan Anda berkurang sehingga penghasilan Anda terpengaruh. Kalau punya usaha sendiri gimana? Jika bisnis Anda terpengaruh pandemi, ya bisa jadi Anda pusing karena harus tetap bisa menggaji karyawan di tengah penurunan penjualan.

Jadi, mau Anda karyawan, pekerja paruh waktu, atau pebisnis, semua terancam penurunan penghasilan atau bahkan hilang sama sekali akibat pandemi.

Padahal, tiap bulan ada pengeluaran yang harus dibayar. Cicilan rumah, kendaraan, cicilan panci, sandal, bayar telepon, listrik, air, dan sekolah anak—yang seringkali tidak dapat potongan meskipun murid-muridnya sekolah dari rumah. Belum lagi ditambah biaya langganan TV kabel, ngopi, beli ini beli itu, semuanya.

Bagaimana Anda bisa membayar semua itu kalau penghasilan turun atau bahkan hilang sama sekali? Di sinilah perlunya Anda punya dana jaga-jaga.

Pada prinsipnya, dana jaga-jaga adalah dana cadangan yang Anda simpan dan hanya dipakai kalau terjadi sesuatu pada penghasilan Anda, seperti berkurang atau berhenti. Dana ini bisa Anda pakai untuk membiayai pengeluaran bulanan tadi.

Umumnya, dana jaga-jaga tersebut dihasilkan dengan cara menyisihkan sebagian penghasilan kita setiap bulan dan dikumpulkan dalam jangka waktu tertentu.

Baca juga: Berapa Uang yang Dibutuhkan untuk Dana Darurat? Ini Panduannya

Sekarang bayangkan kalau Anda tidak punya dana jaga-jaga seperti ini. Kalau penghasilan Anda sedang baik-baik saja, mungkin Anda tenang-tenang saja.

Namun, bagaimana kalau tiba-tiba penghasilan Anda berhenti karena berbagai macam sebab, seperti PHK tanpa pesangon kalau Anda karyawan (mudah-mudahan sih enggak) atau kalau Anda adalah pekerja paruh waktu dan semua order pekerjaan Anda tiba-tiba dibatalkan?

Kalau Anda pebisnis, bagaimana jika bisnis harus ditutup karena tidak ada pembeli, misalnya, selama 2 bulan?

Anda bisa repot kalau tidak punya dana jaga-jaga karena dari mana Anda bisa bayar semua pengeluaran? Anda bisa saja sih menjual aset atau barang-barang berharga. Namun, menjual atau menggadai barang seringkali butuh waktu kan? Anda juga bisa saja meminjam uang ke orang, tapi enggak semua orang juga mau kasih pinjaman, apalagi saat pandemi.

Nah, di sini pentingnya punya dana jaga-jaga atau dana darurat yang betul-betul siap diambil sewaktu-waktu. Pertanyaannya sekarang, apakah Anda siap #BeraniKomit menyisihkan sebagian uang setiap bulannya untuk dana jaga-jaga?

Siap dan berani komit

Menyisihkan sebagian uang setiap bulan untuk ditabung itu gampang-gampang susah. Dibutuhkan keberanian untuk berkomitmen menyisihkan sebagian penghasilan tiap bulan selama jangkat waktu tertentu. Agar Anda berani komit, cobalah berlatih mulai dari hal-hal yang kecil terlebih dulu.

Baca juga: Persiapan Dana Darurat, Investor Berburu Reksa Dana Pasar Uang

Nah, sekarang, bagaimana kalau Anda belum punya dana jaga-jaga dan ingin berkomitmen menyisihkan pengeluaran bulanan Anda?

Kalau sekarang Anda beruntung dan masih punya penghasilan tiap bulan, ya sisihkan saja sebagian penghasilan bulanan Anda saat ini. Berani komit! Rutinlah menabung dana jaga-jaga tiap bulan demi tujuan yang baik, yaitu punya cash untuk persiapan situasi darurat.

Di mana menaruh dana jaga-jaga?

Pertanyaan selanjutnya, di mana sebaiknya Anda taruh dana jaga-jaga itu? Anda bisa menaruhnya di tempat yang tidak terlalu mudah diambil, tapi juga tidak terlalu sulit untuk diambil.

Anda hanya membutuhkan rekening yang bisa menampung dana yang disisihkan setiap bulannya, proses membukanya gampang, serta mutasinya bisa dicek dari mana pun dan kapan pun.

Nah, produk perbankan yang menyediakan solusi seperti ini adalah Tahapan Berjangka. Anda bisa menyimpan dana yang disisihkan setiap bulannya dengan cara debit otomatis dari rekening. Jadi, Anda enggak susah karena harus transfer ke rekening dana jaga-jaga dari rekening tabungan reguler.

Kemudahan ini bisa membantu Anda untuk tetap komitmen menabung setiap bulan. Salah satu provider yang menawarkan produk seperti ini adalah BCA.

Baca juga: Ingin Siapkan Dana Darurat? Ini yang Harus Diperhatikan

BCA memiliki produk Tahapan Berjangka BCA yang dapat membantu Anda belajar untuk #BeraniKomit nabung. Anda bisa menabung mulai dari Rp 500.000 per bulan dengan jangka waktu yang juga fleksibel, mulai dari 12 bulan. Jika dihitung-hitung, Anda hanya diminta berkomitmen menyisihkan Rp 17.000 per hari.

Menariknya lagi, Anda tidak perlu setor tiap bulan karena bisa memilih fitur autodebet dari rekening sumber dana. Cara buka rekening Tahapan Berjangka BCA ini relatif mudah dan dapat dilakukan dari rumah melalui KlikBCA! Cek informasi lainnya di sini.

Namun, di mana pun Anda menaruh dana jaga-jaga, ingat prinsip tadi ya. Taruh di tempat yang tidak terlalu mudah untuk diambil, tetapi juga tidak terlalu sulit untuk diambil.

Intinya sekali lagi, hanya ambil dana jaga-jaga kalau memang penghasilan Anda bermasalah. Jangan pakai dana jaga-jaga bila tidak ada masalah dengan penghasilan. Apalagi, hanya untuk membeli barang yang kebutuhannya tidak mendesak.

Ingat, dana jaga-jaga sangat penting karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selama vaksin Covid-19 belum ditemukan. Bisa saja ada PSBB jilid ke-3 kan? Paling tidak, kalaupun ada PSBB lagi, Anda sudah siap dengan dana jaga-jaga.

Satu lagi, ingatlah bahwa jumlah saldo dana jaga-jaga yang Anda punya biasanya akan memengaruhi ketenangan hati Anda. Mau tenang? Ya, punya dana jaga-jaga di Tahapan Berjangka BCA.


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya