Kompas.com - 05/12/2020, 12:56 WIB
Ilustrasi reksadana PrimusIlustrasi reksadana

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebagai salah satu instrumen investasi, reksadana memang cukup direkomendasikan bagi para pemula karena dana para investor akan dikelola oleh Manajer Investasi yang berpengalaman.

Menurut Undang-Undang Pasar Modal Nomor 8 Tahun 1995, seperti yang dikutip dari laman Otoritas Jasa Keuangan (OJK), reksadana merupakan salah satu wadah yang digunakan masyarakat untuk menghimpun dana.

Beberapa keuntungan yang bisa didapat lewat berinvestasi reksadana adalah, memiliki instrumen investasi yang terdiversifikasi otomatis, modal awal investasi yang kecil, bisa ditop-up dan dicairkan kapan saja, dan bebas pajak.

Secara sederhana, masyarakat melakukan urunan dana dan setelah terkumpul, dana tersebut dikelola sebagai bentuk investasi oleh manajer investasi ke dalam portofolio efek.

Baca juga: BI Pangkas Suku Bungan Acuan, Ini Reksadana yang Diuntungkan

Jika dilihat dari portofolio efeknya, reksadana memiliki banyak jenis. Selain reksa dana pasar uang, ada pula reksa dana pendapatan tetap, reksadana campuran, reksa danasaham, reksadana terproteksi, reksadana indeks, reksadana dengan penjaminan, hingga Exchanged Traded Fund (ETF).

Berikut adalah tips untuk memilih reksa dana untuk pemula seperti dilansir dari Lifepal, Sabtu (5/12/2020):

Kenali manajer investasi pengelola reksa dana dengan baik

Prospektus dalam sebuah produk reksadana berisikan banyak hal terkait strategi pengelolaan reksadana, pembatasan investasi, hingga orang-orang di balik perusahaan manajer investasi tersebut.

Mencari tahu soal rekam jejak manajer investasi (MI) adalah hal wajib yang harus dilakukan investor. Di era keterbukaan informasi seperti saat ini, sangat mudah untuk mengetahui apakah MI yang kita tuju pernah terlibat kasus, atau pelanggaran hukum lainnya.

Baca juga: Reksadana Terproteksi Masih Diminati Investor, Ini Sebabnya

Ketahui pula, jumlah dana kelolaan atau asset under management (AUM) perusahaan manajer investasi tersebut. Besarnya AUM menandakan tingginya kepercayaan investor terhadap MI.

Sebab, tidak mungkin investor mempercayakan dana mereka dikelola oleh MI yang kinerjanya buruk.

Cari benchmark untuk mengukur performa reksa dana

Data historis seputar imbal hasil sebuah reksadana secara bulanan hingga tahunan tidak bisa dijadikan satu-satunya acuan untuk memilih produk reksadana. Anda bisa melakukan perbandingan dengan menggunakan beberapa acuan atau benchmark.

Kinerja reksadana yang disertai benchmark bisa Anda temukan di fund fact sheet produk reksadana. Namun Anda pun bisa melakukan perbandingan secara mandiri dengan menggunakan benchmark sebagai berikut:

Baca juga: Investor Reksadana Terus Melonjak, Ini Penyebabnya

Reksadana pasar uang vs bunga deposito

Reksadana pasar uang merupakan reksa dana yang memiliki underlying asset atau aset dasar berupa instrumen pasar uang. Beberapa di antaranya adalah deposito dan surat utang jangka pendek yang jatuh temponya di bawah satu tahun.

Kinerja reksadana pasar uang memang tergolong lebih stabil ketimbang reksadana lainnya. Satu-satunya cara untuk mengukur performa reksa dana adalah dengan membandingkannya dengan deposito bank umum.

Reksadana campuran vs saham dengan IHSG

Jika reksadana yang Anda beli adalah reksadana saham, maka Anda bisa menggunakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) untuk mengukur performanya.

Ketika kinerjanya bisa mengalahkan IHSG secara konsisten, maka hal itu bisa Anda pertimbangkan. IHSG pun bisa dijadikan benchmark untuk mengukur performa reksadana campuran, asalkan komposisi portofolio efek di reksadana campuran tersebut, sebagian besarnya adalah saham.

Baca juga: Mau Beli Reksadana, Kenali Dulu Manajer Investasi

Reksadana pendapatan tetap vs indeks obligasi

Sementara itu, untuk reksadana pendapatan tetap, benchmark berupa Indonesian Indeks Obligasi Pemerintah, Indeks Obligasi Korporat, atau ICBI (Indonesia Composite Bond Index). Semuanya tergantung isi dari underlying asset dari reksadana pendapatan tetap yang dipilih.

Ketika sebagian besar underlying asset adalah obligasi pemerintah, maka Indeks Obligasi Pemerintah bisa menjadi benchmark. Namun ketika obligasi swasta yang lebih banyak, Indeks Obligasi Korporat boleh dijadikan acuan.

Perhatikan Sharpe Ratio

Ketika seseorang memilih instrumen investasi yang memiliki volatilitas tinggi maka mereka juga mengharapkan imbal hasil yang tinggi. Sharpe ratio bisa digunakan untuk tingkat risiko dari reksadana.

Tidak ada patokan berapa sharpe ratio yang terbaik. Sharpe ratio merupakan rasio yang mengukur kinerja reksadana dengan perbandingan imbal hasil dan risiko (standar deviasi). Makin tinggi sharpe ratio maka makin baik kinerja reksadana tersebut.

Baca juga: Mau Investasi Reksadana? Pahami Dulu Biaya yang Ditanggung

Jika Anda menemukan nilai sharpe ratio negatif di produk reksadana, maka akan lebih baik bagi kita untuk memilih reksadana yang sharpe ratio negatifnya paling kecil.

Sharpe ratio yang negatif menandakan tingkat risiko lebih besar dibanding dengan tingkat pengembalian.

Ketika Anda membeli reksadana di platform milik agen penjual efek reksadana atau perusahaan sekuritas, maka nilai rasio ini akan tertera di daftar reksadana.

Nilai sharpe ratio juga bisa berubah, bisa saja satu reksadana saham memiliki nilai sharpe ratio yang tinggi dalam 3 bulan namun minus di periode 1 tahun.

Baca juga: Ini 5 Reksadana Saham dengan Imbal Hasil Tertinggi

Perhatikan nilai draw down

Draw down bisa dimaknai sebagai tingkat kerugian maksimal yang ada di produk reksadana, atau bisa juga didefinisikan sebagai tingkat penurunan kinerja dari titik puncaknya ke titik terendah.

Apabila sebuah reksadana memiliki nilai draw down sebesar 30 persen setahun, berarti kinerja reksa dana tersebut pernah mengalami penurunan sebesar 30 persen. Sama seperti sharpe ratio, nilai draw down juga bisa dipengaruhi oleh time frame.

Draw down yang tinggi umumnya ditemukan di reksadana campuran maupun saham. Untuk sebagian besar reksadana pasar uang, nilai draw down ada di angka 0 koma sekian. Bahkan tidak sedikit pula yang nilainya 0,00 persen.

Waspadai expense ratio reksadana

Expense ratio bisa juga disebut sebagai perbandingan beban operasional reksadana dengan rata-rata NAB dalam setahun.

Pengelolaan sebuah reksadana tentu akan memunculkan biaya. Biaya-biaya tersebut sebut saja, biaya kustodian, trading, marketing, dan lainnya.

Baca juga: Begini Prospek Imbal Hasil Reksadana Campuran Tahun Depan

Semakin kecil expense ratio mencerminkan kehandalan Manajer Investasi dalam mengelola produknya.

Pilih reksadana sesuai dengan jangka waktu investasi Anda

Semakin pendek jangka waktu investasi, maka pilihan reksadana yang disarankan adalah reksadana yang volatilitas nilai aktiva bersih (NAB)-nya rendah.

Namun untuk jangka panjang, maka pilihan reksadananya akan semakin fleksibel, boleh yang rendah volatilitasnya atau yang tinggi karena mengharap imbal hasil yang besar.

Untuk jangka waktu pendek (1-3 tahun), sangat disarankan untuk memilih reksadana yang rendah fluktuasi seperti reksa dana pasar uang, atau pendapatan tetap.

Untuk jangka menengah (3-5 tahun), disarankan untuk memilih reksadana pasar uang, pendapatan tetap dan campuran. Sementara itu untuk kebutuhan dana pendidikan di atas 5 tahun, maka reksadana saham boleh dicoba.

Baca juga: 5 Produk Reksadana Pasar Uang dengan Imbal Hasil Tertinggi

Itulah hal-hal yang mesti diketahui ketika kita memilih reksadana.

Pada intinya produk investasi ini memang cocok bagi investor pemula, yang belum pernah berinvestasi. Namun sebelum memilih produknya, kenalilah lebih dalam seputar produk investasi ini.



Sumber Lifepal
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X