Kaleidoskop 2020: Setahun Urusan Investasi di Tangan Luhut, Lobi-lobi hingga ke Gedung Putih

Kompas.com - 27/12/2020, 11:12 WIB
Menko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menemui Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, Selasa (17/11/2020). Dokumentasi Gedung Putih ASMenko Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menemui Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih, Washington DC, Selasa (17/11/2020).

Lobi-lobi

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menggenjot pertumbuhan investasi di tengah pandemi Covid-19. Salah satunya berkunjung ke berbagai negara, melakukan pertemuan dan lobi-lobi kepada calon investor.

Pada 9-10 Oktober 2020 misalnya, Luhut diutus oleh Presiden Jokowi untuk melakukan kunjungan resmi ke Yunan, China. Kunjungan tersebut dalam rangka untuk menemui Menteri Luar Negeri China Wang Yi.

Pertemuan itu membahas diantaranya soal perdagangan dan investasi, kesehatan, vaksin, pendidikan dan riset, e-commerce, kecerdasan buatan, serta pertukaran budaya dan masyarakat. Selain itu, keduanya juga ingin agar masing-masing negara makin erat dan bersinergi dalam menghadapi situasi dunia di tengah pandemi.

Pemerintah China disebut akan menindaklanjuti permohonan RI agar ada peningkatan akses pasar untuk buah tropis, produk perikanan dan seafood, serta sarang burung walet dan penambahan impor batu bara dari Indonesia.

Baca juga: Penerimaan CPNS 2021 Akan Dibuka, Ini Formasi yang Dibutuhkan

Kerja sama Two Countries Twin Parks yang sejak tahun lalu diusulkan oleh Pemprov Fujian juga akan ditindaklanjuti oleh Menlu Wang Yi. Luhut mengharapkan kerja sama ini bisa segera direalisasikan. Dari sisi Indonesia, sudah ada lokasi di Bintan seluas 4.000 hektar dengan infrastruktur pendukung yang sudah relatif baik.

Konsep kerja sama menurut Menko Luhut juga bisa dikembangkan menjadi Two Countries Twin Parks with Multiple Zones, dengan menyiapkan setidaknya tiga kawasan industri yakni, Bintan, Batang dan Aviarna Semarang. Pengembangan Tsinghua South East Asia Center di Pulau Kura-Kura, Bali juga menjadi perhatian pemerintah China.

Pada pertemuan tersebut Luhut menyampaikan harapannya agar pemerintah China dapat mendorong para profesor dan pakarnya melakukan kolaborasi riset, Selain itu, perusahaan teknologi seperti Huawei dan Tencent diharapkan ikut berinvestasi.

Masih di kawasan Asia Timur, Luhut juga merayu Jepang untuk berinvestasi di RI. Luhut datang ke Tokyo, Jepang pada 2-5 Desember 2020.

Luhut mengklaim, Jepang bakal investasi sebesar 4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 57 triliun untuk pembentukan Lembaga Pengelola Investasi (LPI) Indonesia.

Baca juga: Cukai Naik, Harga Rokok Makin Mahal Tahun Depan

"JBIC siap mendukung pendanaan SWF Indonesia sebesar 4 miliar dollar AS atau Rp 57 triliun, dua kali lipat lebih besar dari yang disampaikan the US International Development Finance Corporation (DFC)-Lembaga pembiayaan asal Amerika Serikat," ujar Luhut dalam keterangan resminya, Sabtu (5/12/0202).

Usai dari Jepang, Luhut bersama Menteri BUMN Erick Thohir datang ke Uni Emirat Arab (UEA) pada. Kedua menteri tersebut bertemu dengan Putera Mahkota Abu Dhabi Mohamed Bin Zayed Al Nahyan serta Menteri Keuangan Arab Saudi yang juga Pelaksana tugas Menteri Ekonomi dan Perencanaan Mohammed Al-Jadaan.

Juru Bicara Menko Marves Jodi Mahardi mengatakan, kunjungan Pemerintah Indonesia ke UEA ini dilakukan untuk mempererat hubungan strategis dan persahabatan dibidang investasi dan ekonomi terutama pada saat paska Covid-19.

Sebelumnya, Luhut pernah mengatakan, Uni Emirat Arab akan berinvestasi di Indonesia sebesar 20 miliar dollar AS atau setara Rp 280 triliun.

Luhut mengatakan investasi tersebut akan meliputi berbagai hal mulai dari bidang energi, kesehatan sampai pendidikan. Para investor UEA sendiri dikabarkan sangat tertarik menggarap proyek kilang Pertamina.

Sebelumnya pada 4 September 2020, Luhut juga melakukan penandatanganan kesepakatan awal (The letter of intent/LOI) dengan orang terkaya di Australia sekaligus Pendiri perusahaan bijih besi Andrew Forest.

Kesepakatan tersebut adalah mengenai kelanjutan pembahasan rapat koordinasi sebelumnya terkait mengembangkan energi baru terbarukan untuk mendukung industri ramah lingkungan (green economy).

Baca juga: Kaleidoskop 2020: Pandemi Covid-19 Bikin Indonesia Terjerumus ke Jurang Resesi Pertama Kalinya Sejak 1998

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X