Bos OJK Sebut Suku Bunga Kredit Bank Besar Sudah Mulai Turun

Kompas.com - 25/02/2021, 16:06 WIB
Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan sambutan di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 ( Instagram OJK @ojkindonesia) Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menyampaikan sambutan di Pertemuan Tahunan Industri Jasa Keuangan 2020 ( Instagram OJK @ojkindonesia)

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengungkapkan suku bunga kredit di beberapa bank sudah mulai menurun.

Wimboh pun menungkapkan, penurunan suku bunga kredit cenderung lebih cepat untuk kredit modal kerja di bank-bank besar. Namun demikian, penurunan suku bunga kredit cenderung terbatas untuk kredit konsumsi, terutama di bank-bank yang kental dengan operasi ritel.

"Sudah mulai turun di beberapa bank besar, kredit modal kerja sudah single digit. Kami sampaikan percepatan terutama untuk kredit konsumsi, untuk bank secara khusus yang beroperasi ritel, memang belum bisa melakukan percepatan," ujar Wimboh dalam acara Economic Outlook CNBC Indonesia, Kamis (25/2/2021).

Baca juga: Ada Transparasi Suku Bunga, BI: Masyarakat Bisa Pilih Bank Berbunga Kredit Paling Murah

Data terakhir OJK, per Desember 2020, SBK Kredit Modal Kerja turun 88 bps menjadi 8,88 persen, lalu SBK Kredit Investasi turun 102 bps menjadi 9,21 persen, dan SBK Kredit Konsumsi turun 65 bps menjadi 10,97 persen.

Kemudian, Suku Bunga Dasar Kredit (SBDK) seluruh segmen kredit telah berada pada level single digit, yaitu SBDK ritel 8,88 persen, SBDK korporasi 8,75 persen, SBDK KPR 8,36 persen, SBDK non KPR 8,69 persen, dan SBDK Mikro 7,33 persen.

Bank Indonesia (BI) sendiri baru saja menurunkan kembali suku bunga acuan menjadi sebesar 3,5 persen bulan ini.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Bank-bank ritel ini tidak bisa dilakukan percepatan yang sama dengan bank-bank besar, karena tekanannya berbeda," ujar Wimboh.

Ia mengatakan, saat ini banyak bank yang harus melayani restrukturisasi kredit yang secara keseluruhan nilainya mencapai Rp 987 triliun.

Wimboh menjelaskan, dari jumlah tersebut sebagian besar restrukturisasi dilakukan dengan skema penundaan pembayaran bunga.

Di sisi lain, saat ini Dana Pihak Ketiga (DPK) atau dana masyarakan di perbankan terus meningkat. Sehingga membuat bank harus membayarkan bunga atas dana tersebut.

"Sehingga ini terjadi trade off, bagaimana bank bisa mengadjust dengan baik, tapi kami juga harus menjaga bagaimana stabilitas, kita yakinkan, sehingga jangan sampai trade off penurunan suku bunga tetapi membuat masalah di individu perbankan," ujar Wimboh.

Baca juga: BI Tegaskan Ruang Penurunan Suku Bunga Acuan Makin Terbatas

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.