Kompas.com - 15/03/2021, 09:39 WIB
Ilustrasi : Bursa Efek Indonesia KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGIlustrasi : Bursa Efek Indonesia

Sebagai informasi, pekan lalu imbal hasil Treasury 10 tahun AS kembali naik 10 basis poin menjadi 1,64 persen. Ini merupakan level tertinggi sejak Februari 2020 dan mendorong suku bunga acuan 2021 ke level 0,92 persen.

Menurut Hans, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah USA telah mendorong investor untuk menjual saham-saham teknologi di Nasdaq. Ini menyebabkan indeks saham acuan teknologi AS tersebut ditutup negatif pagi ini dengan penurunan 0,5 persen.

Di sisi lain, kenaikan suku bunga yang tajam dapat memberikan tekanan yang sangat besar pada saham-saham teknologi dengan pertumbuhan tinggi karena mengurangi potensi keuntungan di masa depan. Menurut dia, Bank Sentral AS The Fed juga kurang dovish dan merupakan ancaman terbesar bagi aset berisiko.

Sementara itu, rotasi diperkirakan masih akan terjadi. Investor akan membeli saham yang diuntungkan dengan adanya pembukaan dan pemulihan ekonomi setelah disahkannya stimulus fiskal sebesar 1,9 triliun dollar AS menjadi undang-undang.

Menurut Hans, saham-saham siklikal yang diuntungkan pemulihan ekonomi di buru pelaku pasar. Di sisi lain tekanan jual masih akan terjadi terhadap emiten sektor teknologi yang mengandalkan pertumbuhan dengan menggunakan pinjaman berbunga rendah.

“Kenaikan yield obligasi pemerintah USA berpeluang mendorong naiknya biaya pinjaman. Rotasi ini mungkin akan terus terjadi dalam beberapa bulan kedepan dan cenderung sentimennya naik turun seiring dengan perubahan Yield oblgiasi pemerintah AS,” tegas dia.

Hans memproyeksikan hari ini IHSG berpeluang bergerak dengan support di level 6,298 sampai dengan 6.225 dan resistance di level 6.364 sampai 6.400 masih

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Sepekan IHSG Naik 1,59 Persen, Kapitalisasi Pasar Capai Rp 7.438 Triliun

Sementara itu, nilai tukar rupiah pagi ini juga berada di zona merah.

Melansir data Bloomberg, rupiah pada pukul 09.08 WIB berada pada level Rp 14.403 per dollar AS atau melemah 18 poin (0,12 persen) dibandingkan dengan penutupan sebelumnya Rp 14.385 per dollar AS.

Lukman Leong Analis Asia Valbury Futures mengatakan, tren rupiah masih melemah meskipun di akhir pekan berhasil di tutup menguat di level Rp 14.385 per dollar AS. Menurut dia, pelemahan rupiah bisa terjadi karena obligasi AS yang terus naik.

“Saya kira rupiah akan tertekan lagi ya. Ini terjadi dari ekspektasi pasar mengenai perekonomian yang akan segera pulih. Selain itu, pengesahan stimulus AS juga menyebabkan obligasi di AS kembali naik terus dan dollar AS akan menguat,” kala Lukman.

Baca juga: Rupiah Hari Ini, Mampukah Lanjutkan Penguatan?

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.