Pengusaha Rokok Klaim Revisi PP 109/2012 Sebabkan Pabrik Gulung Tikar

Kompas.com - 23/06/2021, 17:15 WIB
Ilustrasi rokok tembakau, konsumsi tembakau. SHUTTERSTOCK/Maren WinterIlustrasi rokok tembakau, konsumsi tembakau.

JAKARTA, KOMPAS.com - Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mengirimkan surat kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Dalam surat tersebut, asosiasi meminta Jokowi menolak rencana revisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan.

Ketua Umum GAPPRI Henry Najoan mengatakan, saat ini aturan yang berlaku masih memadai untuk mengendalikan konsumsi produk tembakau di Indonesia.

Baca juga: Gappri: Revisi PP Tembakau Perburuk Kondisi Industri Rokok

"Bahkan PP 109/2012 telah melampaui amanat Framework Convention on Tobocco Control (FCTC)," ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (23/6/2021).

Menurutnya, revisi PP tersebut akan berdampak buruk bagi kelangsungan industri kretek nasional yang belum pulih akibat pandemi dan kenaikan tarif cukai hasil tembakau tahun 2020 dan 2021.

"Memaksa melakukan revisi PP 109 di saat seperti ini, hanya akan menumbuhkan masalah karena menyebabkan pabrik rokok gulung tikar. Jika sampai itu terjadi, para petani dan pekerja juga yang akan menjadi korban," tutur dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Selain itu, Henry menilai, revisi PP 109/2012 berpotensi meningkatkan keberadaan rokok ilegal, yang selama ini terus diberantas keberadaannya oleh pemerintah.

Berdasarkan data GAPPRI, akibat kenaikan tarif CHT dan Harga Jual Eceran (HJE) keberadaan rokok ilegal pada tahun lalu meningkat 4,8 persen.

Baca juga: Tolak Revisi PP Tembakau, Ini Alasan Buruh Rokok

"GAPPRI memperkirakan, rokok ilegal bisa mencapai angka 10-15 persen dari angka yang disampaikan pemerintah," ujar Henry.

Oleh karenanya Henry meminta pemerintah tidak merevisi PP 109/2012, sebab dinilai berpotensi mengganggu rantai pasokan industri yang berakibat kepada penyerapan bahan baku dari petani tembakau, petani cengkeh, tenaga kerja, hingga pedagang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.