Kompas.com - 27/06/2021, 13:39 WIB
Corporate Deputy Director of Passenger Transport Marketing and Sales PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) Mukti Jauhari dalam Pembukaan KAI Expo 2018 di ICE BSD City, Tangerang, Sabtu (3/11/2018) KOMPAS.com/Putri Syifa NurfadilahCorporate Deputy Director of Passenger Transport Marketing and Sales PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) Mukti Jauhari dalam Pembukaan KAI Expo 2018 di ICE BSD City, Tangerang, Sabtu (3/11/2018)

JAKARTA, KOMPAS.com – Direktur Utama PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter atau KCI) Mukti Jauhari pagi ini meninggal dunia pada pukul 10.00 WIB di usia 55 tahun.

Mendiang meninggalkan istri, tiga orang putra dan satu orang putri. Jenazah selanjutnya akan dibawa ke rumah duka dan dimakamkan di Klaten.

"Kami sangat kehilangan figur seorang pemimpin yang hangat, pekerja keras, dan memiliki banyak ide untuk meningkatkan layanan KRL di tengah berbagai tantangan pada masa pandemi ini. Mohon doa bagi beliau, serta keluarga dan kerabat yang ditinggalkan agar diberi ketabahan," ungkap VP Corporate Secretary KAI Commuter Anne Purba melalui siaran pers, Minggu (27/6/2021).

Baca juga: PT KAI Optimalkan Aset untuk Genjot Bisnis Non-penumpang

Sebelumnya, Mukti dikabarkan mengalami henti jantung pada pukul 09.00 WIB pagi ini dan kemudian dilakukan Resusitasi Jantung Paru (RJP) dan Return of Spontaneous Circulation (ROSC).

Namun, kembali mengalami henti jantung, dan dinyatakan meninggal dunia pada pukul 10.00 WIB.

Mukti juga dikabarkan sempat melakukan perawatan akibat Covid-19 di RS Radjak Salemba sejak tanggal 21 Juni 2021.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, hingga kini pihak KAI Commuter belum memberikan konfirmasi, terkait perawatan akibat Covid-19 tersebut.

Meskipun dalam suasana duka, Anne memastikan KAI Commuter tetap melayani masyarakat dengan protokol kesehatan sangat ketat.

Baca juga: KAI Buka Rute Bandung-Purwokerto dan Cilacap-Yogyakarta, Ini Tarifnya

Namun, mengingat jumlah kasus positif Covid-19 yang meningkat belakangan ini, Anne menimbau masyarakat untuk sebisa mungkin tetap beraktivitas dari rumah.

“Kami menerapkan protokol kesehatan sebagaimana aturan yang ada yaitu mengikuti pengukuran suhu tubuh, wajib memakai masker, mencuci tangan sebelum dan sesudah naik KRL, dan menjaga jarak aman sesama pengguna ketika berada di stasiun maupun di dalam kereta,” ujar dia.

KRL hadir sebagai layanan transportasi untuk kebutuhan yang benar-benar mendesak.

Jika masih harus keluar rumah dan menggunakan transportasi publik, gunakan masker ganda dengan salah satunya adalah masker medis sesuai anjuran para dokter.

Seluruh aturan tambahan di dalam KRL juga tetap berlaku antara lain larangan balita menggunakan KRL dan larangan untuk berbicara secara langsung maupun melalui sambungan telepon selama berada di dalam kereta.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.