KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant

Mengelola Rasa Takut

Kompas.com - 31/07/2021, 08:08 WIB
Ilustrasi rasa takut Shutterstock/ADraganIlustrasi rasa takut

KEADAAN ekonomi, ketegangan politik, berita buruk, hingga tidak tersedianya fasilitas kesehatan yang memadai dalam beberapa waktu terakhir membuat kita sangat takut dan khawatir.

Saat dilanda rasa takut, ketegangan dan kepenatan juga membuat kita merasa lelah seolah sudah berjalan jauh, meskipun sebenarnya tidak banyak bergerak. Kelopak mata terasa sembab, jantung bekerja lebih cepat, dan napas tidak teratur, seolah-olah kita sedang dikejar sesuatu, entah apa.

Sejak kecil, kita sudah diperkenalkan dengan rasa takut. Namun, rasa takut di masa pandemi Covid-19 seperti saat ini memang istimewa. Selain tidak berkesudahan, rasa takut yang dialami makin meningkat.

Baca juga: Saatnya Mereset Kepemimpinan

Ketika berada di tengah kerumunan, antena ketakutan langsung menjulur. Satu penumpang yang tidak sengaja batuk atau bersin pun bisa membuat seluruh penumpang dalam gerbong MRT berhamburan turun.

Kita tahu rasa takut tersebut berlebihan, bahkan ketakutan yang terus bertambah dapat membuat otak menjadi kelelahan. Akan tetapi, kita sering kali kesulitan mengontrolnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Padahal, setiap orang memiliki tanggung jawab untuk mengurus diri sendiri. Tidak ada yang bisa menolong kita untuk meredakan ketakutan selain diri sendiri.

Karenanya, dengan obyek ketakutan yang masih membayangi di depan mata, kita perlu menjaga kewarasan diri. Tentunya, hal ini tidak semudah yang diucapkan, tetapi tetap harus diusahakan.

Rasa takut mengurangi imunitas

Seorang teman yang akan melakukan pemeriksaan darah tiba-tiba menerima kabar buruk yang sangat mengejutkan, persis sebelum darah diambil. Setelah hasilnya keluar, angka-angkanya menunjukkan hasil yang tidak normal.

Dokter kemudian menginstruksikan untuk mengulang pengetesan. Ternyata, hasil yang kedua menunjukkan angka normal.

Dari kisah itu dapat terlihat bahwa rasa takut, kaget, dan berbagai emosi lainnya benar-benar berpengaruh terhadap kondisi fisik. Itulah sebabnya banyak ahli kesehatan menasihati kita untuk tetap berpikir positif agar imunitas terjaga.

Reaksi otak manusia tidak banyak berubah sejak zaman primitif, era ketika manusia menghadapi binatang buas dan merasa ketakutan. Namun, pada waktu itu, imajinasi manusia belum secanggih sekarang.

Baca juga: Membangun “The Hybrid Workplace”

Saat ini, rasa takut yang dialami manusia bisa berupa banyak hal. Misalnya, rasa takut terhadap penjahat. Bisa juga berupa imajinasi yang belum tentu terjadi, seperti membayangkan jika tertular Covid-19 atau membayangkan terkena pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sebenarnya, ketakutan bisa dikendalikan oleh otak. Ada dua bagian otak yang berpengaruh di sini. Pertama, frontal lobe yang mengendalikan fungsi kognitif tubuh. Kedua, amygdala yang mengatur emosi.

Bila bagian emosional lebih dominan daripada bagian kognitif, ketakutan dan kecemasan akan menguasai kita. Saat kondisi ini terjadi, amygdala bekerja sangat keras karena ingin menjaga kita dari ancaman kehidupan.

Oleh karena itu, bila rasio tidak mendorong kita untuk memeriksa kebenaran dari obyek penyebab rasa takut, kita akan semakin terpuruk dalam kecemasan.

Amygdala yang sering juga disebut sebagai reptilian brain, sangat impulsif dan bisa tidak terkontrol. Padahal, kita sebagai pemimpin harus berperan sebagai lentera untuk pengikut kita.

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman
Seorang pemimpin perlu realistis, dapat berpikir jernih, dan membuat keputusan yang tepat. Selain itu, pemimpin juga perlu menyebarkan ketenangan pada orang-orang di sekitar.

Berikut beberapa latihan yang dapat dilakukan agar mental tetap sehat.

1. Sadari persepsi pribadi

Pada masa pandemi seperti saat ini, banyak beredar informasi mengenai obat, herbal, susu dan vitamin yang diyakini dapat mengatasi Covid-19. Masyarakat pun ramai-ramai memborongnya tanpa pikir panjang sehingga membuat harganya melangit.

Padahal, pada zaman digital saat ini, kita bisa dengan mudah mencari informasi dari sumber-sumber ilmiah yang lebih tepercaya kredibilitasnya. Namun, sering kali otak kita hanya ingin menerima hal-hal yang dipercaya.

Oleh karena itu, sebaiknya kenali persepsi pribadi kita dan cari data sebanyak-banyaknya sehingga rasionalitas dapat bekerja dengan baik.

2. Identifikasi "trigger point" ketakutan Anda

Agar bisa membawa rasa takut ke tahap rasio untuk dianalisis oleh diri sendiri atau bersama orang lain, sebaiknya kita mendefinisikan dan memberi nama pada ketakutan itu.

Rasionalitas orang lain biasanya lebih segar ketika membicarakan yang bukan miliknya sendiri. Namun, hati-hati jangan sampai rasa takut itu menimbulkan domino effect yang malah menular kepada orang lain.

3. Berprinsip gelas setengah penuh

Krisis yang ditimbulkan pandemi Covid-19 membuat banyak orang khawatir melihat masa depan. Banyak yang bertanya, apa yang akan terjadi jika krisis ini berlanjut atau bagaimana kalau peluang bisnis semakin menyempit?

Namun, ada seorang pimpinan perusahaan yang terlihat tenang-tenang saja, meski terpaksa menutup perusahaannya yang sudah berjalan puluhan tahun karena kondisi keuangan yang terus minus.

Baca juga: Mengelola Amarah

“Saya tidak memandang hidup dari kekurangan saya, tetapi dari kecukupannya. A half empty glass can still be filled with other nice things,” katanya.

Berkaca dari kisah tersebut, sebenarnya prinsip hidup kita pun dapat diarahkan. Dengan begitu, ketakutan yang dulu sering muncul dapat diredakan.

4. Kata-kata baru dalam self-talk

Amygdala, si pusat emosi senang menyimpan kata-kata. Misalnya, kata-kata yang muncul dari kecemasan ketika mendengar bunyi sirene ambulans atau saat membaca berita buruk mengenai pandemi. Kata-kata ini akan tersimpan dan terus menghidupkan rasa takut.

Karenanya, kita perlu mendidik amygdala untuk berpikir berbeda. Contohnya, mempelajari kiat sukses mereka yang sembuh dengan cepat, membuat kita berjanji dalam hati untuk memilih makanan sehat, berolahraga, dan berlatih pernafasan.

5. Tingkatkan keamanan

Vaksinasi memang tidak menjamin kita tak akan tertular penyakit. Ibarat menggunakan payung di tengah hujan, bila hujan kecil, kita akan aman. Sekalipun hujan cukup besar, paling tidak payung menjaga kita agar tidak sampai basah kuyup. Apalagi, bila ditambah dengan jas hujan dan sepatu bot.

Vaksinasi ditambah dengan upaya 3M–yang sekarang sudah menjadi 7 M–merupakan usaha yang dapat meningkatkan ketenangan. Sebab, kita tahu bahwa kita sudah melakukan upaya terbaik dalam menghadapi situasi yang ada.

The oldest and strongest emotion of mankind is fear, and the oldest and strongest kind of fear is fear of the unknown,” kata penulis asal Amerika Serikat, HP Lovecraft.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jaga Keamanan Pelayaran, Indonesia Punya 285 Menara Suar

Jaga Keamanan Pelayaran, Indonesia Punya 285 Menara Suar

Rilis
Rights Issue, BRI Sudah Raup Rp 26,1 Triliun dari Publik hingga 21 September 2021

Rights Issue, BRI Sudah Raup Rp 26,1 Triliun dari Publik hingga 21 September 2021

Whats New
Gandeng Polri, KSPSI Lakukan Vaksinasi Covid-19 untuk 40.000 Buruh

Gandeng Polri, KSPSI Lakukan Vaksinasi Covid-19 untuk 40.000 Buruh

Whats New
Ada Isu Evergrande dan Tapering, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Ada Isu Evergrande dan Tapering, Apa yang Harus Dilakukan Investor?

Earn Smart
Semakin Modern, Petani di Sinjai, Sumsel Gunakan Alsintan

Semakin Modern, Petani di Sinjai, Sumsel Gunakan Alsintan

Rilis
Survei: Seimbangkan Karier dan Keluarga, Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Memburuk Selama Pandemi

Survei: Seimbangkan Karier dan Keluarga, Kesehatan Mental Pekerja Perempuan Memburuk Selama Pandemi

Whats New
Cara Daftar Jadi Mitra Pelatihan Kartu Prakerja

Cara Daftar Jadi Mitra Pelatihan Kartu Prakerja

Whats New
BRI Luncurkan BRI Shops Master Class, Apa Itu?

BRI Luncurkan BRI Shops Master Class, Apa Itu?

Whats New
Sebut Revisi UU BUMN Perlu, Erick Thohir: Kadang Perusahaan Terbitkan Surat Utang untuk Bonus dan Tantiem...

Sebut Revisi UU BUMN Perlu, Erick Thohir: Kadang Perusahaan Terbitkan Surat Utang untuk Bonus dan Tantiem...

Whats New
Sri Mulyani: Saat ini, Kami Belum Lihat Bank Pulih Secara Kuat

Sri Mulyani: Saat ini, Kami Belum Lihat Bank Pulih Secara Kuat

Whats New
Erick Thohir Bentuk Holding BUMN Pangan, Apa Kelebihannya?

Erick Thohir Bentuk Holding BUMN Pangan, Apa Kelebihannya?

Whats New
Soal Jadi Investor Bank Muamalat, Ini Kata BPKH

Soal Jadi Investor Bank Muamalat, Ini Kata BPKH

Whats New
PT BNP Paribas AM dan PT Bank DBS Indonesia Luncurkan Reksa Dana Bertema Teknologi Global

PT BNP Paribas AM dan PT Bank DBS Indonesia Luncurkan Reksa Dana Bertema Teknologi Global

Whats New
Upah Minimum 2022 Mulai Dibahas, Menaker Masih Pertimbangkan Situasi Pandemi Covid-19

Upah Minimum 2022 Mulai Dibahas, Menaker Masih Pertimbangkan Situasi Pandemi Covid-19

Rilis
Kemenkeu Dapat Tambahan Anggaran Jadi Rp 44 Triliun, Buat Apa Saja?

Kemenkeu Dapat Tambahan Anggaran Jadi Rp 44 Triliun, Buat Apa Saja?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.