KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Experd Consultant
Eileen Rachman dan Emilia Jakob
HR Consultant/Konsultan SDM EXPERD

EXPERD (EXecutive PERformance Development) merupakan konsultan pengembangan sumber daya manusia (SDM) terkemuka di Indonesia. EXPERD diperkuat oleh para konsultan dan staf yang sangat berpengalaman dan memiliki komitmen penuh untuk berkontribusi pada perkembangan bisnis melalui layanan sumber daya manusia.

Politik Kantor

Kompas.com - 25/09/2021, 08:03 WIB
Ilustrasi dua eksekutif kantor tengah berbincang Dok. ShutterstockIlustrasi dua eksekutif kantor tengah berbincang

SEORANG eksekutif yang profesional, loyal, dan berprestasi sangat dihormati oleh atasan yang kebetulan juga empunya perusahaan. Sang atasan menilai bahwa ia memiliki potensi besar untuk menjadi pimpinan perusahaan di masa depan.

Sayangnya, ia tidak suka bergaul ataupun berbincang hal-hal yang tidak terlalu penting. Bila ditanya alasannya, ia selalu mengatakan tidak suka bergunjing atau berpolitik. Akibatnya, walaupun semua orang tahu dan mengenalnya, ia jarang memiliki kesempatan untuk mengemukakan pendapat dalam rapat-rapat. Power-nya tidak terasa.

Namun, ketika suatu saat pemimpin perusahaan mengumumkan bahwa eksekutif tersebut akan menduduki jabatan sebagai pengambil keputusan, tiba-tiba saja banyak orang bersikap lebih ramah kepadanya, mendekatinya saat makan siang, bahkan menanyakan pendapatnya pada setiap kesempatan.

Sang eksekutif pun sampai merasa heran karena selama ini ia merasa invisible di antara teman-teman kantornya. Ia baru menyadari bahwa politik kantor itu memang ada dan bergerak dengan powerful.

Seorang teman lain menyatakan diri sebagai antipolitik kantor. Ia menolak mengikuti berbagai grup Whatsapp di kantor, kecuali terkait langsung dengan proyek tertentu. Prestasinya pun baik-baik saja karena baginya, hal terpenting adalah get things done.

Namun, ketika ada pengurangan karyawan akibat krisis, ia justru menjadi salah satu yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Berdasarkan isu yang beredar, keputusan itu dikarenakan ia tidak terlalu dikenal oleh manajemen sehingga mereka tidak tahu apakah ia memiliki sense of belongingness pada perusahaan atau tidak.

Semakin dipelajari, maka semakin kita yakin bahwa politik kantor terjadi di lembaga-lembaga pemerintah, kantor swasta besar ataupun kecil, bahkan di gereja dan organisasi keagamaan sekalipun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jadi, mau tidak mau, dalam setiap tahapan karier, setiap orang memang perlu mengembangkan keterampilan diri dalam politik organisasi.

Politik kantor tidak selamanya negatif

Terlepas dari konotasi negatif atau positif, politik kantor sebenarnya meliputi dua hal penting, yakni pengaruh dan hubungan. Kekuatan pun muncul dari kedua hal ini.

Sayangnya, masih banyak anggapan miring terhadap seseorang yang berpolitik. Mereka pun kerap dinilai sebagai seseorang yang "tidak baik".

Dalam satu survei kecil, sekelompok orang diminta menggunakan tiga kata untuk mendeskripsikan kegiatan politik kantor. Hasil yang didapatkan adalah toksik, mengecewakan, berbahaya, melelahkan, tidak adil, tidak perlu, berkomplot, dan gosip. Bahkan, ada yang berkomentar “menyakitkan hati”.

Bila pandangan banyak orang bahwa politik kantor itu negatif, mengapa ada orang yang dengan sengaja mempelajarinya? Berpolitik di kantor memang bisa dilakukan secara tidak etis, tetapi dapat pula dilakukan dengan etis, bukan?

Sebenarnya, politik kantor adalah rangkaian upaya informal, tidak resmi, yang bertujuan tercapainya agenda sang "politikus".

Bila ingin meloloskan proyek divisi kita dalam rapat tahunan di organisasi, kita dapat melakukannya dengan dua cara. Pertama, mencari tahu prioritas dan perspektif para pembuat keputusan.

Kemudian, buat diri kita dikenal oleh para pembuat keputusan untuk meraih kepercayaan mereka. Dengan begitu, kita dapat meyakinkan mereka bahwa proyek tersebut akan berhasil.

Cara kedua, kita juga dapat menyebarkan rumor tentang kejelekan atau kelemahan proyek-proyek lain sehingga mereka tidak diprioritaskan.

Meski berbeda cara, kedua upaya tersebut memiliki tujuan yang sama, yakni meloloskan agenda pribadi kita. Bedanya pun tampak tipis. Prinsip dasar dari masing-masing cara yang membuatnya jadi berbeda.

Untuk itu, kita perlu berlatih tetap memegang etika sambil berusaha mengembangkan kekuatan posisi kita menjadi lebih efektif.

“As human beings, we are social creatures and the use of relationships, informal influence, and power plays is part of how we engage — for better or for worse,” tulis Niven Postma di laman Harvard Business Review, Rabu (14/7/2021).

Eileen RachmanDok. EXPERD Eileen Rachman

Self-promotion itu penting

“You can’t let your work speak for you; work doesn’t speak”. Ungkapan ini benar karena yang dapat berbicara hanya manusia, baik diri kita sendiri maupun orang lain.

Berbicara tentang pekerjaan kita bukanlah seperti membacakan job description. Kita perlu mengemasnya dalam konteks yang dapat menggambarkan seberapa pentingnya pekerjaan kita dalam menunjang pencapaian tujuan organisasi.

Kuatkan relationship currency

Dalam berkarier, sering kali kita berfokus pada performance currency. Hal ini memang penting untuk mendapatkan kredibilitas dan beragam konsekuensi positif yang menyertainya.

Namun, kita perlu ingat bahwa berinvestasi dalam network dan koneksi yang bisa menjadi advocate sebagai pemberi referensi tentang diri kita tidak kalah penting. Inilah yang dinamakan strategic relationship.

Jangan pernah berhenti membangun pertemanan, baik dengan calon kawan maupun lawan. Bila jejaring ini dibina secara teratur, suatu saat kita akan merasakan political savvy kita semakin kuat dalam menghadapi para stakeholder dalam organisasi.

Kekuatan berpolitik kita tidak boleh luntur meskipun sesekali kita mengalami kegagalan. Ingat perkataan Winston Churchill, “In war you can only be killed once. In politics you can be killed many times.”

Berpolitik di lingkungan kerja virtual

Ketika kita tidak bertemu muka, apakah permainan power dan manuver informal dalam politik kantor ini menghilang?

Ternyata, walaupun tidak bertatap muka, sebagai makhluk sosial, karyawan tetap lebih suka berkomunikasi informal daripada secara baku dan formal. Kita tidak bisa menilai hal ini gejala negatif karena ini adalah hakikat manusia.

Dengan demikian, kita perlu jeli mencari di mana orang melakukan hangout secara virtual. Apakah di grup Whatsapp, Zoom, atau media lainnya.

Selain sebagai hiburan dan ajang pergaulan informal, media sosial dapat dimanfaatkan untuk berkoalisi, baik dengan teman sekantor maupun dengan yang di luar kantor.

Akhir kata, politik kantor adalah hal yang tidak bisa kita hindari. Bagaimana kita melakukannya tergantung pada prinsip yang kita anut. Politik kantor selalu melibatkan relationship currency dan modal pengaruh. Selain itu, power dari kedua hal ini bisa menguntungkan atau bisa meninggalkan kita.


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.