Sri Mulyani: Nanti Banyak Warga Punya Solar Panel Sendiri...

Kompas.com - 19/11/2021, 11:14 WIB
Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani saat Kompas 100 CEO Forum Ke-12 bertema Ekonomi Sehat 2022 di Jakarta Convention Center, Kamis (18/11/2021). KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOMenteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani saat Kompas 100 CEO Forum Ke-12 bertema Ekonomi Sehat 2022 di Jakarta Convention Center, Kamis (18/11/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, peralihan energi dari energi fosil menjadi energi terbarukan bakal membuat seluruh kehidupan bertransformasi.

Bendahara negara ini menyebut, kemungkinan peralihan energi itu akan diikuti gaya hidup. Nantinya banyak warga yang memiliki solar panel sendiri di rumah, mobil listrik, bahkan hingga kompor listrik.

"Mungkin banyak sekali masyarakat yang atap rumahnya menjadi atap solar. Mereka akan memiliki sendiri atap solar panel. Ini butuh suatu konversi dari PLN," kata Sri Mulyani dalam Kompas100 CEO Forum, Kamis (19/11/2021).

Baca juga: Sri Mulyani Waspada, Ada Fenomena Tenaga Kerja Mulai Betah di Rumah

Wanita yang akrab disapa Ani ini menuturkan, pengalihan energi memang membutuhkan dana yang tidak sedikit. Pemerintah perlu berinvestasi pada infrastruktur pendukungnya sekaligus memberikan kompensasi kepada kontrak yang telanjur berjalan.

Misalnya untuk mempensiunkan (early retirement) 5,5 gigawatt PLTU batu bara, Indonesia membutuhkan dana hingga miliaran dollar AS, yakni 20-30 miliar dollar AS. Angkanya setara dengan Rp 284 triliun - Rp 426 triliun (kurs Rp 14.200).

Dana sebesar itu juga digunakan untuk membayar kontrak yang masih berjalan. Jika dihentikan lebih cepat dari perjanjian awal, pemerintah harus mengkompensasi.

"Kalau untuk me-retire enggak bisa langsung bilang, 'Kamu harus tutup (PLTU batu bara) itu. Enggak bisa'. Kalau ada kontrak sampai 2030, dan PLN bilang (harus selesai tahun) 2015, PLN harus tetap bayar (investasi) 2015 sampai 2030. Inilah negoisasi sekarang ini sedang di-establish," ungkap Ani.

Di sisi lain, transisi energi terbarukan tidak bisa serta merta dilakukan secara masif. Pasalnya, transisi ini membutuhkan banyak kebijakan serta aturan lainnya. Saat ini saja, PLN masih menggunakan sekitar 60 persen batu bara.

"Retirement tidak berarti free, ada ongkos yang harus dikeluarkan. And then kita harus mengganti yang dipensiunkan ini, permintaan tehadap listrik kan makin naik, kalau semua mobil listrik, kompor jadi listrik, demand akan naik, bukan makin turun," tandas Ani.

Baca juga: Sri Mulyani Dilema, Mau Naikkan Harga Karbon, tetapi Takut Krisis Energi

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.