JAKARTA, KOMPAS.com – Sampai dengan Oktober 2021, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah merilis setidaknya ada 3.515 perusahaan pinjaman online (pinjol) ilegal.
Hal ini tentunya sangat mengkhawatirkan karena pinjol illegal berpotensi merugikan nasabah, mulai dari teror penagihan tanpa henti hingga penyebarluasan data pribadi.
Direktur Teknologi Informasi PT Mandala Multifinance Tbk Felix Nugroho mengungkapkan, umumnya korban jeratan pinjol ilegal ini minim pengetahuan terhadap layanan pembiayaan, ditambah lagi tengah menghadapi kebutuhan keuangan yang mendesak.
Baca juga: Pinjol Legal Mulai Berguguran, Kok Bisa?
“Ini menjadi penyebab banyaknya masyarakat yang terjebak dengan janji-janji pinjol ilegal. Ada baiknya, cek dan ricek terlebih dahulu sebelum menentukan kepada siapa dan melalui aplikasi apa Anda akan meminjam,” ujar Felix melalui siaran pers, Rabu (24/11/2021).
Agar tidak terjerat pinjol illegal, ada tiga tips cerdas yang bisa Anda lakukan, antara lain :
Dari sekian banyak pemain di industri pinjol, ada baiknya untuk melakukan pengecekan terlebih dulu tentang legalitasnya. Pengecekan terhadap kredibilitas pemberi kredit ke OJK dapat menjadi langkah awal dalam memitigasi potensi terjebak pinjol illegal.
“Keamanan ini menjadi salah satu prioritas yang dipastikan oleh perusahaan yang menyediakan layanan pembiayaan melalui aplikasi,” ungkap Felix.
Hal kedua yang perlu menjadi perhatian di masyarakat adalah meneliti tingkat suku bunga yang ditawarkan oleh pinjol. Selain itu, cek denda yang akan diberikan ketika pinjaman illegal Anda mengalami keterlambatan.
“Jika terkesan terlalu memudahkan apalagi menggampangkan, maka Anda perlu curiga. Normalnya, pihak peminjam yang legal tidak akan segegabah itu menghitung besaran bunga, seolah seperti hendak meminjamkan secara cuma-cuma karena minimal ada barang atau surat yang dijaminkan,” ujar dia.
Baca juga: Cara Membedakan Pinjol Legal dan Ilegal
Hal yang tidak kalah penting dalam memilih pinjaman online, yakni masyarakat harus mencermati dengan saksama mengenai layanan yang ditawarkan serta manfaat dan risikonya.
Melihat kembali kebutuhan dan kemampuan sehingga lebih teliti dan kritis terkait biaya, agunan, ataupun tenor.
“Masyarakat harus lebih selektif dengan mencari informasi tentang jumlah pengguna aplikasi pinjaman tersebut. Jika sudah banyak masyarakat yang menggunakan aplikasi tersebut, artinya pun sudah ada kepercayaan yang tumbuh terhadap brand itu sendiri,” ujar Felix.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.