Tertekan Sentimen BBM, Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 14.907 Per Dollar AS

Kompas.com - 05/09/2022, 16:50 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot ditutup melemah pada sesi perdagangan Senin (5/9/2022). Pelemahan ini tidak terlepas dari sentimen kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan hari ini, nilai tukar uang Garuda terhadap dollar AS ditutup pada level Rp 14.907 per dollar AS, turun 11,5 poin atau 0,08 persen dari penutupan kemarin. Pada sesi perdagangan hari ini, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bergerak pada rentang Rp 14.889 - Rp 14.935.

Mengacu pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar rupiah juga melemah. Tercatat rupiah berada pada level Rp 14.920 per dollar AS pada Senin hari ini, melemah dari posisi Jumat (2/9/2022) pekan lalu sebesar Rp 14.900 per dollar AS.

Baca juga: Tertekan Kenaikan Harga BBM, Rupiah Pagi Melemah

Analis PT Sinarmas Futures Ariston Tjendra mengatakan, kenaikan BBM subsidi berpotensi menjadi pemberat rupiah pada pekan ini. Sebab, harga BBM subsidi yang lebih tinggi berpotensi mengkerek tingkat inflasi, sehingga pada akhirnya berdampak ke pertumbuhan ekonomi nasional.

"Kenaikan BBM akan menaikan harga barang konsumsi sehingga terjadi penurunan daya beli masyarakat yang akan menekan laju pertumbuhan ekonomi," ujar dia, kepada Kompas.com, Senin.

Namun demikian, Ariston menilai, dampak kenaikan harga BBM terhadap pasar keuangan bisa ditekan. Ini bisa dilakukan dengan meminimalisir gejolak sosial di masyarakat.

Baca juga: Meski Harga BBM Naik, IHSG Masih Mampu Ditutup Menguat

Dari sisi eksternal, sentimen bank sentral The Federal Reserve (The Fed) juga dinilai masih mendongkrak indeks dollar AS, yang dinilai sebagai safe haven. Ini kemudian membuat banyak mata uang tertekan pagi hari ini.

Terpantau sejumlah mata uang Asia terkoreksi pagi hari ini, mulai dari yen Jepang (0,21 persen), dollar Taiwan (0,52 persen), won Korea Selatan (0,65 persen), peso Filipina (0,36 persen), rupee India (0,06 persen), yuan China (0,48 persen), hingga ringgit Malaysia (0,12 persen).

"Sentimen The Fed juga masih besar di pasar keuangan yang membuat dollar AS masih menguat terhadap nilai tukar lainnya," ucap Ariston.

Baca juga: OJK Yakin Pertumbuhan Ekonomi di Atas 5 Persen Meski Harga BBM Naik

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.