Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agus Herta
Dosen

Dosen FEB UMB dan Ekonom Indef

Mewaspadai Potensi Kartel di Balik Swasembada Beras

Kompas.com - 17/09/2022, 11:38 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Dalam beberapa tahun terakhir, produktivitas sawah dalam menghasilkan GKG mengalami peningkatan dari sekitar 5,1 ton per hektar menjadi 5,4 ton per hektar.

Pembangunan infrastruktur pertanian yang telah dibangun pemerintah seperti bendungan, embung, dan jaringan irigasi diduga kuat menjadi faktor utama peningkatan produktivitas lahan sawah saat ini.

Tercapainya swasembada beras ini diharapkan mampu berlangsung secara berkelanjutan sehingga mampu menciptakan ketahanan pangan dalam jangka panjang. Namun, untuk mewujudkan harapan ini sepertinya tidak akan semudah membalik telapak tangan.

Banyak cerita yang selama ini masih terpendam dalam struktur pasar dan industri perberasan yang berpotensi menghambat terjadinya swasembada beras secara berkesinambungan.

Struktur pasar

Struktur pasar dalam industri perberasan terbagi menjadi dua sektor, yaitu sektor hulu dan sektor hilir. Struktur pasar perberasan di sektor hulu belum mengalami banyak perubahan, masih warisan turun temurun dari masyarakat pertanian tradisional.

Penguasaan lahan sawah masih berbentuk piramida dengan jumlah petani di bagian terbawah terus membesar seiring dengan fenomena konversi lahan pertanian dan pembagian lahan warisan antar keluarga petani.

Menurut data BPS, lebih dari 76 persen petani padi adalah petani gurem yang penguasaan lahannya tidak mencapai 0,5 hektar. Bahkan sebagian besar dari kelompok gurem ini hanya menguasai lahan 0,20 sampai dengan 0,25 hektar.

Kondisi itu menjadikan struktur pasar di sektor hulu sangat rapuh dan sangat sensitif terhadap berbagai perubahan yang terjadi. Petani yang jumlahnya sangat besar ini tidak serta merta menjadikan skala usaha pertanian padi menjadi kuat dan efisien.

Baca juga: Teliti Bisnis Perberasan, Ini Temuan KPPU

Sebaliknya, dengan jumlah petani gurem yang sangat banyak ini mengakibatkan usaha pertanian padi menjadi sangat tidak ekonomis. Sedikit saja gelombang “kejut” ekonomi menghambat proses produksi dan perdagangan padi, maka struktur pasar bisa berubah seketika.

Oleh karena itu, struktur pasar di sektor hulu sangat mudah dipengaruhi dan dikuasai oleh berbagai pihak yang berkepentingan, khususnya para pemburu rente. Ketika ada kekuatan pasar besar dari para kapitalis bermodal besar yang ingin menguasai struktur pasar di sektor hulu, maka akan dengan sangat mudahnya penguasaan pasar tersebut dilakukan.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Soal Merger Damri dan PPD, Stafsus Erick Thohir: Tinggal Proses Teknis Saja

Soal Merger Damri dan PPD, Stafsus Erick Thohir: Tinggal Proses Teknis Saja

Whats New
Januari 2023, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tipis Jadi 78,54 Dollar AS Per Barrel

Januari 2023, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Tipis Jadi 78,54 Dollar AS Per Barrel

Whats New
Mau Nonton F1 Power Boat Danau Toba? Cek Harga Tiketnya, Mulai dari Rp 50.000 Per Orang

Mau Nonton F1 Power Boat Danau Toba? Cek Harga Tiketnya, Mulai dari Rp 50.000 Per Orang

Whats New
Simak Lelang Rumah di Jakarta dan Surabaya, Nilai Limit Rp 200 Jutaan

Simak Lelang Rumah di Jakarta dan Surabaya, Nilai Limit Rp 200 Jutaan

Spend Smart
Ramai PBB Kota Solo Naik, Apa Itu Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan?

Ramai PBB Kota Solo Naik, Apa Itu Pengertian Pajak Bumi dan Bangunan?

Work Smart
Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen Dalam Sepekan, Apa Sebabnya?

Harga Minyak Dunia Turun 5 Persen Dalam Sepekan, Apa Sebabnya?

Whats New
Cara Beli Tiket MRT Online, Bisa Bayar Pakai OVO, GoPay, atau DANA

Cara Beli Tiket MRT Online, Bisa Bayar Pakai OVO, GoPay, atau DANA

Spend Smart
Stabil, Simak Rincian Harga Emas Antam Hari Ini

Stabil, Simak Rincian Harga Emas Antam Hari Ini

Whats New
Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Rincian Harga Emas Hari Ini di Pegadaian, dari 0,5 Gram hingga 1 Kg

Spend Smart
[POPULER MONEY} KAI Bagi-bagi Hadiah Umrah Gratis | Beli Minyakita Pakai KTP

[POPULER MONEY} KAI Bagi-bagi Hadiah Umrah Gratis | Beli Minyakita Pakai KTP

Whats New
Gaji UMR Sidoarjo 2023, Tertinggi ke-3 se-Jatim

Gaji UMR Sidoarjo 2023, Tertinggi ke-3 se-Jatim

Work Smart
Ekosistem Pembiayaan Komprehensif, Upaya BTN Selesaikan'Backlog' Perumahan

Ekosistem Pembiayaan Komprehensif, Upaya BTN Selesaikan"Backlog" Perumahan

Whats New
Ramai Penipuan Bermodus File APK, Pahami Cara Kerja dan Tips Menghindarinya

Ramai Penipuan Bermodus File APK, Pahami Cara Kerja dan Tips Menghindarinya

Work Smart
Mendag Larang Pedagang Jual Beras Bulog Oplosan

Mendag Larang Pedagang Jual Beras Bulog Oplosan

Whats New
Garuda Buka Opsi Penggunaan Jilbab Bagi Pramugari

Garuda Buka Opsi Penggunaan Jilbab Bagi Pramugari

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+