Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Heryadi Silvianto
Dosen FIKOM UMN

Pengajar di FIKOM Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan praktisi kehumasan.

Menjaga Sensitivitas Identitas Dalam Strategi Branding Global

Kompas.com - 06/05/2023, 16:04 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Corporate brand hasil yang diperoleh melalui proses membangun nama perusahaan dengan cara mengomunikasikan nama perusahaan, mengembangkan citra sehingga nama perusahaan di balik brand berkembang menjadi identitas yang memperkuat product brand. Brand dibangun untuk menghasilkan imbalan yang optimal, sedangkan reputasi dilindungi untuk menjaga kredibilitas.

Brand berorientasi pada konsumen (consumer centric), reputasi berorientasi pada perusahaan (company centric). Brand menyangkut relevansi dan diferensiasi, reputasi menyangkut legitimasi.

Baca juga: Reputasi

Ada sejumlah faktor yang menuntut sinergi antara brand dan reputasi. Pertama, availability of and speed of access to information, hampir semua informasi dapat diperoleh secara online dan mudah diakses.

Jika seseorang mempunyai pengalaman baik atau buruk dengan produk atau layanan, dalam hitungan detik mereka dapat mengidentifikasi perusahaan di balik produk atau jasa.

Kedua, low levels of trust (tingkat kepercayaan yang rendah), kecenderungan tidak mempercayai media, sehingga komunikasi antar-pribadi maupun media sosial pilihan sendiri (self-selected news sources) membuat orang tidak lagi memperoleh informasi lengkap tentang realitas.

Ketiga, post truth world (dunia pascafakta), media sosial cenderung membuat batas antara fakta dan fiksi membuat kabur. Bagi banyak orang persepsi yang sangat penting.

Keempat, information overload (kelimpahan informasi), informasi yang menerpa orang semakin berlimpah dari pelbagai sumber, sehingga orang cenderung menjalankan rutinitas mengabaikan informasi (information avoidance routine). Akibatnya informasi banyak yang mubazir dan informasi penting mengenai perusahaan cenderung terabaikan.

Kelima, stakeholders versus consumers, seluruh pemangku kepentingan akhirnya sekaligus menjadi konsumen, sekalipun mereka tidak mengonsumsi jasa atau produk dari perusahaan. Informasi tidak sekedar sampai pada captive audience, tetapi pada mereka yang mungkin sama sekali tidak berkepentingan.

Dalam dunia yang semakin terkoneksi dan berkembang pesat seperti saat ini, merek harus memperkuat sinergi antara brand dan reputasi agar dapat menghadapi tantangan dan risiko yang muncul. Merek yang sensitif dan responsif terhadap perubahan dalam masyarakat dan pasar akan memiliki keunggulan kompetitif dalam jangka panjang.

Oleh karena itu, merek harus memastikan bahwa setiap kampanye pemasaran dan promosi merek mereka mencerminkan nilai-nilai positif dan memperkuat sinergi antara brand dan reputasi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com