Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Investasi Saham Haram? Ini Kata BEI

Kompas.com - 26/01/2024, 13:09 WIB
Kiki Safitri,
Erlangga Djumena

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik mengungkapkan,  saat ini pihaknya memiliki 26 fatwa DSN MUI dan 11 POJK yang mengatur tentang pasar modal syariah yang mengatur mulai dari transaksi, penjaminan, hingga penyelesaiannya.

Hal itu disampaikannya, terkait masih adanya anggapan bahwa investasi saham haram.

“Kami selalu menyampaikan hanya di Indonesia yang memiliki 26 fatwa DSN MUI, 11 POJK yang mengatur tentang pasar modal syariah secara komplit,” kata Jeffrey di BEI, Kamis (25/1/2024).

Baca juga: Harga Saham 2 Emiten Baru Turun Menuju Gocap

"Dari mulai produknya, transaksinya, penyelesaiannya, penyimpanannya, dan penjaminannya. Semua ada fatwanya,” tambahnya.

Jeffrey mengatakan, pihaknya terus mendorong masyarakat untuk berinvestasi di pasar modal. Namun demikian, berdasarkan beberapa kunjungan ke daerah, tidak sedikit masyarakat yang menganggap bahwa investasi di pasar modal adalah hal yang haram.

“Terlepas dari itu, apa yang kita amati dan kita lihat di Indonesia, banyak masyarakat yang menggap bahwa investasi saham itu haram,” kata jeffrey.

“Kalau kita ke daerah-daerah, ada jawaban bahwa investasi saham itu haram,” tambahnya.

Jeffrey mengatakan, pasar modal Indonesia saat ini memiliki jumlah investor 12,2 juta, dengan jumlah perusahaan tercatat 110 perusahaan, dan kapitalisasi pasar Rp 11.700 triliun.

“Itu adalah angka tertinggi di ASEAN. Jadi, kapitalisasi pasar kita itu tertinggi di bandingkan dengan bursa Singapura, Malaysia, dan Thailand,” kata Jeffrey.

Jumlah investor yang tinggi itu, juga tiga kali lipat dari jumlah penduduk Singapura. Tapi, jika dibandingkan dari jumlah penduduk di Indonesia, jumlah investor tergolong kecil, yakni hanya 5 persen.

Jumlah investor yang masih kecil itu, juga dilatarbelakangi beberapa anggapan atau stigma yang salah. Seperti, anggapan bahwa investasi saham haram.

Di sisi lain, ada juga masyarakat yang menganggap bahwa investasi di pasar modal butuh uang besar, hanya untuk orang kaya, sulit, dan berisiko tinggi.

Jeffrey bilang, untuk menumbuhkan setidaknya 20-30 persen masyarakat Indonesia yang berinvestasi, butuh income per kapita yang tinggi.

“Kalau 30 persen penduduk, mau menjadi investor saham, minimal incomnya misalkan per kapitanya sekian belas ribu dollar AS,” ujarnya.

“Jadi, persepsi-persepsi itu kita dapatkan di publik,” tambah dia.

Baca juga: Saham Bank Mayapada Ambles, Harta Keluarga Tahir Susut Rp 1,1 Triliun

Jeffrey mengungkapkan, investasi saham sangat inklusif, siapaun dan dimanapun bisa menjadi investor saham. Pihaknya juga terus melakukan edukasi kepada anak muda, bahwa investasi saham bisa dilakukan hanya dengan bugdet yang kecil.

“Kita selalu sampaikan kepada mahasiswa dan anak muda, investasi saham bisa dengan Rp 20.000 atau Rp 50.000 di pasar modal. Anak muda juga kalau menjadi investor itu 1-2 kali lebih keren daripada temannya yang bukan investor,” tambah dia.

Namun, menjadi investor tentunya tidak sekedar bertransaksi dan mencapatkan cuan saja. Investor dituntut untuk cerdas, rasional, dan memahami analisis, baik fundamental maupun teknikal.

“Harus cerdas, analisis fundamental dan teknikal bisa dipelajari dimana-mana. Mengambil keputusan investasi juga harus rasional,” tegas dia.

Baca juga: Saham Netflix Melonjak, Nasdaq da S&P 500 Berakhir Menguat

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Ajinomoto Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 dan S2, Ini Syaratnya

Ajinomoto Indonesia Buka Lowongan Kerja untuk Lulusan S1 dan S2, Ini Syaratnya

Work Smart
Momen Idul Adha, Kantor Pusat dan Cabang ASDP Salurkan Kurban 20 Ekor Sapi dan 100 Kambing

Momen Idul Adha, Kantor Pusat dan Cabang ASDP Salurkan Kurban 20 Ekor Sapi dan 100 Kambing

Whats New
BCA Raih Predikat Bank Terbaik di Indonesia Versi Forbes

BCA Raih Predikat Bank Terbaik di Indonesia Versi Forbes

Whats New
Rupiah Tertekan, Bank Mulai Jual Dollar AS seharga Rp 16.500

Rupiah Tertekan, Bank Mulai Jual Dollar AS seharga Rp 16.500

Whats New
Tips Nabung untuk Liburan Seru Tanpa Bikin Kantong Jebol

Tips Nabung untuk Liburan Seru Tanpa Bikin Kantong Jebol

Earn Smart
Menguji Kekuatan Jenama Otomotif China

Menguji Kekuatan Jenama Otomotif China

Whats New
Harga Emas Terbaru 18 Juni 2024 di Pegadaian

Harga Emas Terbaru 18 Juni 2024 di Pegadaian

Spend Smart
Apple Setop Produk 'Paylater' di AS

Apple Setop Produk "Paylater" di AS

Whats New
Lebih dari 1,6 Juta Orang Gunakan KRL Jabodetabek Selama Libur Idul Adha 2024

Lebih dari 1,6 Juta Orang Gunakan KRL Jabodetabek Selama Libur Idul Adha 2024

Whats New
Harga Emas Antam 1 Gram Turun Rp 5.000, Simak Rincian Lengkapnya Selasa 18 Juni 2024

Harga Emas Antam 1 Gram Turun Rp 5.000, Simak Rincian Lengkapnya Selasa 18 Juni 2024

Spend Smart
Harga Bahan Pokok Selasa 18 Juni 2024: Bawang Putih, Telur, dan Daging Ayam Naik

Harga Bahan Pokok Selasa 18 Juni 2024: Bawang Putih, Telur, dan Daging Ayam Naik

Whats New
Menteri PUPR Optimistis Tanggul Laut Mampu Atasi Rob di Semarang

Menteri PUPR Optimistis Tanggul Laut Mampu Atasi Rob di Semarang

Whats New
Volatilitas Tinggi, Rata-rata Cuan Bitcoin Tembus  100 Persen Per Tahun

Volatilitas Tinggi, Rata-rata Cuan Bitcoin Tembus 100 Persen Per Tahun

Whats New
[POPULER MONEY] Kata OJK dan Menko Airlangga soal Korban Judi 'Online' Jadi Penerima Bansos | Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Bisnis MLM

[POPULER MONEY] Kata OJK dan Menko Airlangga soal Korban Judi "Online" Jadi Penerima Bansos | Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Bisnis MLM

Whats New
'Long Weekend' Berakhir, KAI Prediksi Hari Ini Puncak Arus Balik

"Long Weekend" Berakhir, KAI Prediksi Hari Ini Puncak Arus Balik

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com