Kariernya Hancur dan Alami Stres, Seorang Pilot Tuntut Boeing

Kompas.com - 25/06/2019, 17:25 WIB
Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.AFP PHOTO/GETTY IMAGES/STEPHEN BRASHEAR Pesawat generasi terbaru Boeing 737 MAX 8 mendarat di Boeing Field seusai menyelesaikan terbang pertamanya di Seattle Washington, Amerika Serikat, 29 Januari 2016. Pesawat ini merupakan seri terbaru serta populer dengan fitur mesin hemat bahan bakar dan desain sayap yang diperbaharui.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Seorang pilot yang tak disebutkan identitasnya menuntut pabrikan pesawat asal AS Boeing. Sebab, ia menyatakan Boeing menunjukkan ketidakpedulian dan secara sadar abai terhadap publik dalam pengembangan pesawat Boeing 737 MAX.

Dilansir dari CNN, Selasa (25/6/2019), tuntutan tersebut juga menyatakan Lembaga Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) bersama Boeing dalam menutupi kelemahan desain pesawat MAX. Ini menyebabkan dua kecelakaan yang melibatkan pesawat tersebut dan larangan terbang di seluruh dunia. 

FAA tidak disebut sebagai tergugat. Namun, pengacara penerbangan Joseph Willer, salah satu dari tim pengacara sang pilot menyatakan pihaknya telah memulai prosedur administratif yang diperlukan untuk menuntut lembaga tersebut.

Baca juga: 3 Bulan Sepi, Boeing Akhirnya Umumkan Adanya Pesanan Pembelian Pesawat 

Tuntutan dilayangkan sang pilot di pengadilan di Cook County, Ilinois, lokasi kantor pusat Boeing di Chicago. Pesawat Boeing 737 MAX dilarang terbang di seluruh dunia sejak Maret 2019 lalu setelah pesawat Lion Air dan Ethiopian Air jatuh dan menewaskan total 346 orang. 

Dalam tuntutannya, pilot itu menyatakan mengalami kerugian ekonomi dan nonekonomi, termasuk di dalamnya adalah penurunan gaji secara signifikan. Ini adalah hasil dari larangan terbang pesawat Boeing 737 MAX. 

Tidak hanya itu, ia menyatakan pula mengalami stres mental maupun emosional dalam taraf parah. Karena dipaksa tetap menerbangkan pesawat itu, sang pilot terpaksa harus mempertaruhkan nyawa dirinya, kru, dan penumpang. 

Baca juga: Soal 737 Max, Boeing Mengaku Telah Membuat Kesalahan

Tuntutan tersebut termasuk tuntutan kelompok. Dinyatakan bahwa lebih dari 400 orang pilot dari maskapai yang tak disebutkan namanya dapat ikut melayangkan tuntutan.

Di dalam tuntutan tersebut tidak disebutkan banyak informasi terkait identitas sang pilot, kecuali dirinya berkebangsaan Kanada dan bekerja di sebuah maskapai internasional. Dalam tuntutannya, sang pilot hanya disebutkan sebagai Pilot X lantaran kekhawatiran ada tindakan balasan dari Boeing dan diskriminasi dari maskapai-maskapai pengguna pesawat Boeing. 

 

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X