Imbas Perang Dagang, Lebih dari 50 Perusahaan Asing Kabur dari China

Kompas.com - 21/07/2019, 06:33 WIB
Ilustrasi perang dagang AS dan China. SHUTTERSTOCKIlustrasi perang dagang AS dan China.

WASHINGTON, KOMPAS.com - Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan China belum benar-benar usai. Selama periode ketegangan tersebut, puluhan perusahaan multinasional dilaporkan hengkang dari China.

Presiden AS Donald Trump pun kerap menyatakan bahwa perang dagang akan memaksa perusahaan-perusahaan memindahkan produksinya dari China ke AS. Pernyataan Trump tersebut sebagian benar.

Dilansir dari The Washington Post, Minggu (21/7/2019), sebanyak lebih dari 50 perusahaan multinasional telah mengumumkan rencana atau mempertimbangkan pemindahan manufaktur keluar dari China.

Menurut laporan Nikkei Asian Review, beberapa perusahaan tersebut antara lain Google, Nintendo, dan Dell. Puluhan perusahaan itu menghindari tarif impor yang diberlakukan terhadap produk-produk dari China senilai 250 miliar dollar AS.

Baca juga: Ini Penyebab Indonesia Tak Menikmati Kue Perang Dagang

Akan tetapi, bukannya memindahkan produksi ke AS seperti desakan Trump, banyak di antara perusahaan itu yang malah membangun rantai pasok di luar Negeri Paman Sam. Salah satu kawasan yang dipilih adalah Asia Tenggara.

Raksasa gim Jepang Nintendo, misalnya, telah memindagkan produksi perangkat gim Switch dari China ke Vietnam, menurut warta Wall Street Journal. Sementara itu, Google memindahkan produksi motherboard Cloud dan Nest ke Taiwan dan Malaysia.

Pun Hewlett-Packard (HP) dan Dell berencana memindahkan produksi komputer ke Asia Tenggara.

Sebuah survei edisi Juli 2019 yang dirilis auditor rantai pasok dan kontrol kualitas China QIMA menunjukkan, permintaan untuk inspeksi China dari perusahaan AS anjlok 13 persen pada semester I 2019. Pada saat bersamaan, keseluruhan permintaan untuk inspeksi di Asia Tenggara melompat 34 persen.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Dampak Perang Dagang ke Indonesia Moderat, Mengapa?

Di tengah melemahnya bisnis dan produksi, China pun berusaha memikat perusahaan-perusahaan baru. Pemerintah China telah memangkas sejumlah larangan investasi asing dalam sejumlah sektor penting, seperti minyak bumi, pertanian, pertambangan, dan manufaktur.

Perubahan tersebut berlaku efektif pada 30 Juli 2019 mendatang. Eksodus perusahaan- perusahaan asing termasuk dari AS sebagai imbas perang dagang berdampak pada merosotnya pertumbuhan ekonomi China.

Pekan lalu, China mengumumkan pertumbuhan ekonomi terendah dalam 27 tahun.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X