Gantikan Amran, Mantan Gubernur Sulsel Jadi Menteri Pertanian

Kompas.com - 23/10/2019, 09:35 WIB
Mantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode Syahrul Yasin Limpo menyambangi Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/10/2019). KOMPAS.com/IhsanuddinMantan Gubernur Sulawesi Selatan dua periode Syahrul Yasin Limpo menyambangi Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (22/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua DPP Partai Nasdem Syahrul Yasin Limpo ditunjuk menjadi Menteri Pertanian di Kabinet Kerja Jilid 2 oleh Presiden Joko Widodo.

Dia menggantikan Menteri Pertanian sebelumnya, Amran Sulaiman, yang menjabat di Kabinet Kerja Jilid 1.

"Bapak Syahrul Yasin Limpo, Menteri Pertanian. Mengoordinasikan petanian, meningkatkan produktivitas pertanian berada di wilayah Pak Syahrul. Beliau dulu adalah Gubernur di Sulawesi Selatan," kata Presiden Joko Widodo saat mengumumkan jajaran menteri untuk Kabinet Kerja Jilid 2 di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/10/2019).

Seperti kata Jokowi, pria kelahiran Makassar, Sulawesi Selatan, 16 Maret 1955 ini adalah seorang politisi Indonesia yang pernah menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan dari 8 April 2008 hingga 8 April 2018.

Dia menjadi Gubernur Sulawesi Selatan dari 2008 hingga 2018.

Dikutip dari berbagai sumber, saat itu Syahrul menargetkan peningkatan posisi Sulawesi Selatan sebagai provinsi penyangga beras untuk kebutuhan nasional pada tahun pertama menjabat sebagai Gubernur Sulsel.

Target produksi padi pada 2008 sebanyak 4.042.471 ton gabah kering giling (GKG) yang didukung luas lahan sekitar 792.641 ha dengan tingkat produktivitas 51,00 kuintal per ha.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara target tanam padi untuk musim tanam 2009 seluas 868.411 ha dengan sasaran produksi 5.084.323 ton GKG dengan produktivitas 58,55 kuintal per hektar.

Pada 2009, pergerakan ekonomi Sulawesi Selatan mengalami pertumbuhan sekitar 7,8 persen.

Hal tersebut dipicu dengan pertumbuhan produksi jagung sehingga Syahrul mengatakan akan melakukan terobosan di tengah krisis global dengan melayani kebutuhan ekspor ke Malaysia dan Filipina, menyusul pengiriman yang sudah dilakukan sekitar 8.000 ton ke Filipina, pada Maret 2009.

Marmer juga menjadi salah satu barang ekspor yang menjadi keunggulan Sulawesi Selatan. Saat itu, Syahrul menyatakan kesiapannya mengekspor marmer dengan kapasitas ekspor dari Pelabuhan Kabupaten Barru sebanyak 5.000 ton.

Syahrul meniti karier sebagai pegawai negeri sipil (PNS) sejak 1980. Ia menjabat sebagai Kepala Seksi Tata Kota Makassar pada 1982. Kemudian, ia diangkat menjadi Kepala Subbagian Perangkat IV dan V Biro Pemerintahan Makassar pada 1983.

Adapun sebelum menjabat sebagai Gubernur, Syahrul juga pernah menjabat sebagai Bupati di Kabupaten Gowa selama dua periode.

Kemudian, ia menjabat jadi Wakil Gubernur selama satu periode sebelum akhirnya menjadi Gubernur Sulsel.

Meski awalnya diusung oleh Partai Golkar, Syahrul akhirnya berpindah ke Partai Nasdem pada Maret 2018. Dia tertarik karena Nasdem tidak meminta mahar kepada kadernya yang ingin menjadi kepala daerah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ataupun DPRD.

Pada Pemilu Legislatif 2019, Syahrul kembali mencalonkan diri sebagai calon anggota legislatif (Caleg) dari daerah pemilihan II Sulsel.

Hingga akhirnya, dia dipilih oleh Presiden Joko Widodo menjadi Menteri Pertanian pada Kabinet Indonesia Maju hari ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER MONEY] Direktur Indomaret Meninggal akibat Kecelakaan | Kapan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Beroperasi

[POPULER MONEY] Direktur Indomaret Meninggal akibat Kecelakaan | Kapan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Beroperasi

Whats New
Kapal Kandas di Lombok Timur, KKP Minta Perusahaan Tanggung Jawab Pulihkan Terumbu Karang

Kapal Kandas di Lombok Timur, KKP Minta Perusahaan Tanggung Jawab Pulihkan Terumbu Karang

Whats New
Harta Elon Musk Setara Total Kekayaan Bill Gates dan Warren Buffett

Harta Elon Musk Setara Total Kekayaan Bill Gates dan Warren Buffett

Whats New
Cara Isi Saldo OVO Lewat M-Banking BCA, BRI, BNI, dan Bank Mandiri

Cara Isi Saldo OVO Lewat M-Banking BCA, BRI, BNI, dan Bank Mandiri

Whats New
 Apa Itu Reksa Dana Indeks?

Apa Itu Reksa Dana Indeks?

Spend Smart
Apakah yang Dimaksud dengan Distribusi dan Distributor?

Apakah yang Dimaksud dengan Distribusi dan Distributor?

Whats New
Mengenal Beda ETF dan Reksa Dana Biasa yang Perlu Kamu Tahu

Mengenal Beda ETF dan Reksa Dana Biasa yang Perlu Kamu Tahu

Spend Smart
Baragam Faktor Utama Pendukung Keberhasilan Usaha

Baragam Faktor Utama Pendukung Keberhasilan Usaha

Work Smart
Direktur Indomaret Yan Bastian Meninggal Akibat Kecelakaan di Tol Cipularang

Direktur Indomaret Yan Bastian Meninggal Akibat Kecelakaan di Tol Cipularang

Whats New
Cara Mengisi Shopeepay di Alfamart dan Indomaret

Cara Mengisi Shopeepay di Alfamart dan Indomaret

Spend Smart
Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, Serta Biaya-biaya Lainnya

Jenis Tabungan, Jumlah Setoran Awal BRI, Serta Biaya-biaya Lainnya

Whats New
Program Makmur Integrasikan Petani dengan BUMN, Erick Thohir: Tidak Mungkin Kita Berdiri Sendiri

Program Makmur Integrasikan Petani dengan BUMN, Erick Thohir: Tidak Mungkin Kita Berdiri Sendiri

Rilis
Siap-siap, Kemensos Bakal Cairkan Bansos Rp 74,08 Triliun Tahun 2022

Siap-siap, Kemensos Bakal Cairkan Bansos Rp 74,08 Triliun Tahun 2022

Whats New
Dengan Program Makmur Pupuk Kaltim, Pendapatan Petani Padi di Banyuwangi Naik Jadi Rp 24 Juta per Hektare

Dengan Program Makmur Pupuk Kaltim, Pendapatan Petani Padi di Banyuwangi Naik Jadi Rp 24 Juta per Hektare

Rilis
Apa Itu PPN: Definisi, Tarif, Pemungut, dan Objek Pajaknya

Apa Itu PPN: Definisi, Tarif, Pemungut, dan Objek Pajaknya

Spend Smart
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.