Apa Kabar Proyek Smelter Freeport? Ternyata Masih Pemadatan Tanah

Kompas.com - 23/01/2020, 14:54 WIB
Pemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, Minggu (15/2). Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017 nanti.

Kompas/Aris Prasetyo (APO)
15-02-2015     ARIS PRASETYOPemandangan area tambang Grasberg Mine di Kabupaten Mimika, Papua, yang dikelola oleh PT Freeport Indonesia, Minggu (15/2). Lubang menganga sedalam 1 kilometer dan berdiameter sekitar 4 kilometer itu telah dieksploitasi Freeport sejak 1988. Hingga kini, cadangan bijih tambang di Grasberg Mine tersisa sekitar 200 juta ton dan akan benar-benar habis pada 2017 nanti. Kompas/Aris Prasetyo (APO) 15-02-2015
|

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Freeport Indonesia tengah fokus menyelesaikan kesiapan lahan pabrik pengolahan dan pemurnian atau smelter di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur.

Vice President Corporate Communications Freeport Indonesia Riza Pratama mengatakan, saat ini pihaknya sedang melakukan proses pemadatan tanah di lahan seluas 100 hektar.

Hal ini dilakukan Freeport untuk memperkuat tanah di lahan tersebut. Pasalnya, lahan yang sebelumnya dimiliki oleh PT Pelindo III itu memiliki kandungan air yang cukup tinggi.

"Sekarang itu sedang memadatkan tanah. Karena itu bekas tambak, pond. Tanahnya harus dipadatin dulu dikeluarkan airnya," kata dia di Jakarta, Kamis (23/1/2020).

Baca juga: Saat Bos Inalum Analogikan Manajemen Freeport dengan Mohammad Salah

Riza menjelaskan proses pemadatan tanah ini memerlukan waktu 18 bulan. Sehingga, proses pemadatan yang sudah dilakukan sejak akhir tahun 2018 ini, diharapkan rampung pada pertengahan 2020.

"Sekarang sudah mendekati padat," ujar dia.

Setelah proses ini rampung, Freeport akan langsung melakukan konstruksi smelter tembaga. Dengan demikian, proses pembangunan fisik smelter ditargetkan mulai pada semester II tahun ini.

"Kira-kira semester II tahun ini dibuat, 2023 mudah-mudahan selesai," katanya.

Baca juga: Ini Alasan Erick Thohir Masih Pertahankan Fuad Rizal di Direksi Garuda

Untuk biaya investasi pembangunan smelter sendiri, sebesar 3 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 42 triliun (kurs Rp 14.000 per dollar AS), Riza memastikan masih berasal dari internal perusahaan.

Di mana Freeport akan melakukan pinjaman ke 15 bank, dengan menjaminkan aset perusahaan.

"Udah ada kira-kira 13 sampai 15 bank yang sudah setuju," ucap dia.

Sebagai informasi, smelter yang akan mulai beroperasi pada 2023 ini akan mampu memproses hingga dua juta ton  konsentrat tembaga per tahun.

Baca juga: Lowongan Kerja BUMN PT Pindad 2020, Cek Formasi dan Syaratnya



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X