Nasib Miris Warga Korsel yang Berpenghasilan Rendah Saat Corona

Kompas.com - 30/03/2020, 15:05 WIB
Tes Covid-19 - Seorang pria berbicara kepada seorang perawat selama tes COVID-19 di sebuah bilik pengujian di luar rumah sakit Yangji di Seoul pada 17 Maret 2020. Sebuah rumah sakit Korea Selatan telah memperkenalkan bilik telepon. Hal tersebut dilakukan guna menghindari staf medis yang harus menyentuh pasien secara langsung dan mengurangi waktu disinfeksi. Ed Jones/AFPTes Covid-19 - Seorang pria berbicara kepada seorang perawat selama tes COVID-19 di sebuah bilik pengujian di luar rumah sakit Yangji di Seoul pada 17 Maret 2020. Sebuah rumah sakit Korea Selatan telah memperkenalkan bilik telepon. Hal tersebut dilakukan guna menghindari staf medis yang harus menyentuh pasien secara langsung dan mengurangi waktu disinfeksi.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jung Mi-kyeong, lebih banyak termenung di toko kecilnya yang menjual pakaian outdoor. Biasanya di bulan Maret seperti sekarang, jadi periode paling sibuk di tokonya karena banyak orang Korea Selatan berbelanja mencari pelaratan liburan outdoor seperti kemah dan hiking selama musim semi.

Tetapi, apa yang terjadi dalam sebulan terakhir, tokonya sangat sepi pembeli. Selama 25 tahun menjual pakaian di Kota Paju, Barat Laut Seoul, dia mengaku tak pernah mengalami periode sesulit sekarang.

"Saya mulai pulang lebih awal pada pada jam 5 sore, karena tak pelanggan yang datang," kata dia seperti dikutip dari SCMP, Senin (30/3/2020).

Di Korsel, lebih dari 9.300 kasus positif virus corona atau Covid-19 ditemukan dengan angka kematian lebih dari 130 orang. Pemerintah Korsel terpaksa menerapkan langkah pembatasan aktivitas dengan menutup sejumlah fasilitas umum, perkantoran, dan sekolah-sekolah untuk menekan infeksi.

Baca juga: Asosiasi Peritel Minta Akses Ojek Online ke Mal Dipermudah, Kenapa?

Tetapi di sisi lain, kebijakan ini berdampak negatif pada mereka yang menggantungkan hidup pada usaha kecil dan sektor-sektor informal.

Menurut Jung yang tinggal bersama suaminya, masa selama wabah corona berlangsung adalah waktu yang sulit bagi pekerja yang berpenghasilan di bawah rata-rata pendapatan bulanan sebesar 2.991.910 won atau sekitar 2.408 dollar AS (Rp 39,55 juta).

"Kalau sekarang, saya dianggap sudah beruntung kalau bisa menghasilkan 10.000 won (8 dollar AS) per hari," kata Jung.

Kondisi serba susah ini tak dirasakan para pekerja kantoran yang memiliki penghasilan cukup tinggi dan berpenghasilan tetap. Mereka tetap mendapatkan gaji meski diharuskan bekerja dari rumah.

Baca juga: Asosiasi Peritel Minta Akses Ojek Online ke Mal Dipermudah, Kenapa?

Sebelum datang corona, hidup Jung bukan berarti bisa ditakatakan berkecukupan. Penghasilan bulanannya di bawah 900.000 won (716 dollar AS). Dia bersama suaminya menerima uang bantuan dari pemerintah.

Bagaimana mereka bertahan hidup?

Banyak para pedagang kecil di pasar-pasar tradisional Korsel yang mengalami nasib serupa. Mereka mengalami kesulitan keuangan saat pembatasan diberlakukan pemerintah.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X