Saat Penjualan Sepeda Melonjak di Tengah Pandemi...

Kompas.com - 14/06/2020, 13:01 WIB
Ilustrasi sepeda shutterstockIlustrasi sepeda

Menurut William, kenaikan permintaan sepeda tidak hanya terpusat di kota-kota besar besar saja, namun juga terjadi secara cukup merata di kota-kota kecil. Besaran kenaikan permintaannya berbeda-beda.

“Dari beberapa laporan dealer ada yang melonjak 200 persen, ada yang 100 persen, ada yang 50 persen, jadi sangat bervariasi,” tutur William saat dihubungi Kontan.co.id pada Kamis (11/6/2020).

Faktor pendorong

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pengusaha Sepeda Indonesia (Apsindo), Eko Wibowo memprediksi wabah corona bisa menjadi momentum kenaikan pasar sepeda setelah sebelumnya sempat menurun pada tiga tahun belakangan.

Baca juga: Punya Bisnis Mebel, Berapa Kekayaan Presiden Jokowi Saat Ini?

Faktor pendorongnya ada beberapa. Pertama, wabah corona semakin meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berolahraga guna meningkatkan daya tahan tubuh. Dalam hal ini, olahraga bersepeda menjadi pilihan menarik sebab bermanfaat bagi kesehatan serta dapat dilakukan dengan tetap memerhatikan protokol pencegahan penyebaran virus corona.

Kedua, animo untuk bersepeda juga dipicu semakin banyaknya konten berisi aktivitas bersepeda yang dibagikan oleh komunitas dan pegiat hobi bersepeda di sosial media. Konsumsi informasi terhadap konten-konten tersebut juga semakin meningkat seiring berkurangnya aktivitas bekerja di luar rumah di tengah pandemi.

Tren ini didukung oleh kegiatan distribusi sepeda yang tidak terganggu. Di samping itu, kegiatan penjualan di tingkat pedagang toko juga masih berjalan di tengah penerapan PSBB meski dengan operasional yang terbatas, ditunjang dengan penjualan digital yang dilakukan oleh sebagian pedagang toko.

Meski begitu, kondisi ini bukannya berarti tanpa tantangan. Eko menuturkan, ketersediaan pasokan komponen berpotensi menjadi kendala. Menurut Eko, sejumlah komponen seperti misalnya gear dan shifter memang hanya diproduksi oleh beberapa brand tertentu seperti misalnya Shimano.

Baca juga: Telur Infertil Layak Konsumsi, Tapi Cepat Membusuk

Untuk kebutuhan dalam negeri sendiri, sebagian besar pasokan komponen-komponen tersebut biasanya dipasok secara impor dari China. Sayangnya, permintaan di komponen sepeda di negara tersebut sedang tinggi seiring melonjaknya permintaan sepeda.

Padahal, meski sudah berangsur normal, kegiatan produksi komponen sepeda di negara berjuluk Tirai Bambu tersebut belum maksimal. Akibatnya, pasokan komponen ke dalam negeri bisa berkurang.

“Belum semua pabrik di China full produksi,” kata Eko kepada Kontan.co.id, Kamis (11/6/2020).

Baca juga: Kala Nelayan Maluku Rindu Kebijakan Tegas Susi Pudjiastuti....

Halaman:


Sumber
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X