Serapan Anggaran Penanganan Covid-19 Rendah, Bakal Berimbas Pada Perekonomian?

Kompas.com - 18/06/2020, 09:31 WIB
Pekerja mengemas paket bantuan sosial (bansos) di Gudang Food Station Cipinang, Jakarta, Rabu (22/04). ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT Pekerja mengemas paket bantuan sosial (bansos) di Gudang Food Station Cipinang, Jakarta, Rabu (22/04).

JAKARTA, KOMPAS.com - Serapan anggaran penanganan pandemi virus corona yang dialokasikan pemerintah masih rendah.

Untuk anggaran penanganan kesehatan yang besarnya mencapai Rp 87,55 triliun, realisasinya hingga saat ini baru 1,54 persen.

Seleain itu, insentif dunia usaha realisasinya baru 6,8 persen dari Rp 120,61 triliun, insentif UMKM baru 0,06 persen dari Rp 123,46 triliun, serta untuk anggaran sektoral kementerian/lembaga (K/L) dan pemerintah daerah baru 3,65 persen dan Rp 106,11 triliun.

Baca juga: Sri Mulyani: Saya Berdoa Tidak Terjadi Gelombang Kedua Covid-19

Direktur Riset Centre of Reform on Economics (Core) Piter Abdullah mengatakan, serapan anggaran penanganan pandemi, khususnya untuk program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang berlangsung lambat bisa berpengaruh terhadap upaya pemerintah untuk mendorong perekonomian yang tengah tertekan.

Namun demikian, pihaknya meyakini pada kuartal III atau IV, serapan anggaran tersebut bakal membaik seiring dengan aktivitas sosial dan perekonomian yang sedang dilonggarkan.

"Saya kira hal ini sangat disadari oleh pemerintah. Dan serapan anggaran akan semakin membaik di kuartal III dan IV bersamaan dengan dilonggarkannya aktivitas sosial ekonomi," ujar dia kepada Kompas.com, Rabu (17/6/2020).

"Dengan demikian perlambatan ekonomi bisa ditahan," ujar dia.

Piter pun menjelaskan, dengan anggaran stimulus yang dialokasikan pemerintah, tidak serta merta mampu mengembalikan perekonomian tumbuh seperti normal.

Anggaran stimulus tersebut dialokasikan sebagai upaya untuk menahan laju ekonomi yang lebih lambat akibat pandemi.

"Jadi untuk mempercepat penanganan wabah, membantu Masyarakat terdampak, dan meningkatkan daya tahan dunia usaha sehingga bisa siap melakukan recovery ekonomi. Jadi ukuran efektivitas dari stimulus pemerintah bukan pertumbuhan ekonomi yang tinggi seperti saat normal," ujar dia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X