Ini Cara Kerja dan Risiko Produk Pasar Modal Dengan Return Pasti

Kompas.com - 23/06/2020, 13:00 WIB
ilustrasi investasi FREEPIK/JCOMPilustrasi investasi

Karena umur yang lebih panjang, bisa saja pada waktu terbit pertama kali, kondisi ekonomi sangat baik dan kinerja perusahaan baik. Tapi pada saat menjelang jatuh tempo, kinerja perusahaan berubah atau tertimpa musibah COVID-19 seperti pada tahun 2020 ini.

Memang, yang namanya risiko gagal bayar memang sulit untuk diperkirakan. Apalagi perusahaan yang menerbitkan obligasi juga beraneka ragam mulai dari sektor keuangan, properti, infrastruktur, komoditas, konsumsi, pangan, dan sebagainya.

Standarisasi terhadap risiko gagal bayar atau disebut juga kualitas kredit dilakukan oleh perusahaan pemeringkat. Di Indonesia, terdapat 2 lembaga pemeringkat yang jasanya sering digunakan yaitu PEFINDO (Pemeringkat Efek Indonesia) dan Fitch Rating Indonesia.

Baca juga: Pesan BI ke Bank: Jangan Ragu Masuk ke Term Repo

Peringkat atau rating merupakan informasi publik dan biasanya dapat diakses pada website perusahaan yang melakukan pemeringkatan. Secara umum, terdapat 2 hasil yaitu Peringkat Layak Investasi (Investment Grade) dan Peringkat Tidak Layak Investasi (Non Investment Grade).

Peringkat Investment Grade terdiri dari paling tinggi AAA, AAA-, AA+, AA, AA-, A+, A, A-, BBB+, BBB, dan BBB-. Sementara untuk non investment grade terdiri dari BB+, BB, BB-, B+, B, B-, CCC, dan D.

Non investment grade bukan berarti gagal bayar, hanya saja kemungkinan untuk mengalami gagal bayar lebih tinggi dibandingkan yang investment grade. Rating bisa berubah. Umumnya rating dievaluasi setiap 1 tahun, namun jika ada kondisi insidentil, bisa dilakukan sewaktu-waktu.

Di Indonesia, terdapat banyak aturan yang melarang perusahaan keuangan untuk membeli surat hutang dengan peringkat non investment grade. Investor juga sebaiknya menghindari surat hutang kategori ini kecuali jika benar-benar memahaminya.

Bank dan Perusahaan Sekuritas yang menjadi agen penjual dari instrumen tersebut juga tidak berkewajiban mengganti apapun pada saat risiko gagal bayar terjadi. Untuk itu, investor obligasi harus benar-benar memahami risiko ini sebelum memutuskan untuk berinvestasi.

Terdapat instrumen surat hutang yang disebut Medium Term Notes (MTN). Pada dasarnya ini adalah obligasi tapi yang ditawarkan secara terbatas maksimal hanya 49 pihak kepada pemodal profesional (memiliki kemampuan keuangan dan mampu memahami risiko).

Dalam berinvestasi pada obligasi pemerintah, investor mesti sudah siap dengan risiko fluktuasi harga. Sementara ketika berinvestasi pada Obligasi dan MTN korporasi, investor harus memperhatikan risiko gagal bayar pertama kali, baru imbal hasilnya dengan melihat rating dan prospek bisnisnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X