Sri Mulyani Sebut Perekonomian Mulai Bergeliat, Ini Indikatornya

Kompas.com - 20/07/2020, 19:59 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu (26/2/2020). KOMPAS.COM/MUTIA FAUZIAMenteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati di Jakarta, Rabu (26/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut, perekonomian Indonesia kembali berdenyut memasuki bulan Juni.

Hal tersebut terlihat dari kinerja impor yang sudah mulai menujukkan pertumbuhan. Sementara di bulan sebelumnya, impor berdasarkan sektor masih menunjukkan kinerja negatif.

"Ekspor dan impor kita sedikti lebih baik di bulan Juni, di mana surplus 2,6 miliar. Ekspor kita tumbuh 15 persen untuk month to month aja. Jadi baik untuk ekspor atau impor secara month to month, membaik," jelas Sri Mulyani dalam video conference, Senin (20/7/2020).

Lebih lanjut, Bendahara Negara itu menjelaskan meski untuk impor bahan baku masih menunjukkan kinerja negatif, namun sudah lebih baik.

Baca juga: Menkeu Selandia Baru: Kondisi Perekonomian Lebih Baik dari yang Diproyeksi

Pertumbuhan impor bahan baku pada bulan Juni tercatat mengalami kontraksi 10,25 persen, angka tersebut lebih baik jika dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mengalami pertumbuhan negatif hingga 41 persen.


Adapun untuk pertumbuhan barang konsumsi tercatat mengalami lonjakan pertumbuhan hingga 24,7 persen. Sementara pada bulan Mei, tercatat impor barang konsumsi mengalami kontraksi hingga 41,23 persen.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sementara untuk impor barang modal juga sudah memasuki zona positif, meski masih tipis. Impor barang modal pada Juni 2020 tercatat tumbuh 2,7 persen, dari tang tadinya mengalami kontraksi cukup dalam, yakni 47,1 persen.

"Ini menggambarkan, bahwa kegiatan ekonomi sudah mulai menunjukkan adanya aktivitas cukup positif," jelas dia.

Baca juga: Luhut Tegur Staf Ahli Kemenko Perekonomian agar Tak Beberkan Data Pemerintah

Meski demikian, Sri Mulyani menyoroti tingkat inflasi yang masih relatif rendah pada posisi Juni, yaitu di ksiaran 1,96 persen.

Angka tersebut relatif lebih rendah dari pola historis inflasi Juni yang biasanya di kisaran 2 persen.

"Kalau kita lihat, inflasi pada Ramadhan dan Idul Fitri sangat rendah karena terjadi PSBB, karena pada saat itu kita puncaknya mengalami Ramadhan dan Idul Fitri," jelas dia.

"Kalau dilihat dari komponennya, semua komponen mengalami inflasi, termasuk untuk volatile food yang selama ini menjadi penyumbang inflasi. Konsumsi masyarakat, meskipun mengalami perlemahan, kelihatan sekali pada Maret-April, namun pada bulan Mei mengalami meningkat dan turn around, jadi dalam hal ini telah terjadi adanya pembalikan di tren konsumen," ujar dia.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.