Filipina Resesi, Pertumbuhan Ekonomi Minus 16,5 Persen

Kompas.com - 07/08/2020, 09:42 WIB
Para calon penumpang memakai masker untuk melindungi diri dari Covid-19, saat menanti kedatangan bus di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 14 Juli 2020. REUTERS/ELOISA LOPEZPara calon penumpang memakai masker untuk melindungi diri dari Covid-19, saat menanti kedatangan bus di Quezon City, Metro Manila, Filipina, 14 Juli 2020.

MANILA, KOMPAS.com - Perekonomian Filipina mencatat rekor kontraksi terdalam pada kuartal II 2020.

Pemerintah Filipina pun merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan ekonomi untuk tahun 2020 sebagai dampak kebijakan lockdown akibat pandemi virus corona.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat (7/8/2020), pertumbuhan ekonomi Filipina minus 16,5 persen pada kuartal II 2020 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ini berdasarkan data badan statistik nasional negara tersebut.

Baca juga: Ekonom Senior Indef Yakin RI Bakal Masuk Jurang Resesi

Capaian tersebut merupakan yang terburuk sejak pencatatan pertumbuhan ekonomi Filipina pertama kali dilakukan pada tahun 1981. Pada kuartal I 2020, pertumbuhan ekonomi Filipina tercatat minus 15,2 persen.

Karena pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi atau minus selama dua kuartal berturut-turut, maka Filipina resmi masuk ke jurang resesi ekonomi.

Pemerintah Filipina memprediksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2020 minus 5,5 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya, yakni tumbuh 2 hingga 3,4 persen pada tahun ini.

"Biaya ekonomi dari upaya mencegah (penularan) virus (corona) memberikan luka besar kepada kinerja keuangan rumah tangga dan korporasi, yang sangat memberatkan permintaan untuk beberapa bulan ke depan," kata Alex Holmes, analis di Capital Economics.

Baca juga: Mengenal Bedanya Resesi dan Depresi, Lebih Parah Mana?

Holmes memandang, kegagalan dalam mencegah penularan virus corona, berlanjutnya kebijakan lockdown, dan ketidakseimbangan dukungan kebijakan membuat Filipina juga diprediksi mengalami pemulihan paling lambat di kawasan Asia Tenggara.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte menerapkan kebijakan lockdown yang sangat ketat, memaksa bisnis dan transportasi umum berhenti beroperasi selama periode Maret hingga Mei 2020. Lonjakan kasus positif virus corona membuat pemerintah Filipina kembali menerapkan lockdown di ibu kota Manila dan sekitarnya.

Angka pengangguran yang mencapai rekor tertinggi dan merosotnya jumlah uang yang dikirim oleh pekerja Filipina di luar negeri menekan konsumsi dalam negeri. Konsumsi dalam negeri menyumbang dua pertiga dari produk domestik bruto (PDB) Filipina.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Sumber Bloomberg
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X