Luhut: India Lockdown, Ekonominya Jeblok!

Kompas.com - 15/08/2020, 10:17 WIB
Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan memberikan keterangan pers di Kantor Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (9/3/2020). KOMPAS.com/ADE MIRANTI KARUNIA SARIMenko Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan memberikan keterangan pers di Kantor Kemaritiman dan Investasi, Jakarta, Senin (9/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, menegaskan pemerintah selalu mengambil keputusan secara terukur karena memiliki data dan informasi, yang paling lengkap.

"Kami kan punya informasi yang paling lengkap. Jadi, proses pengambilan keputusan tidak akan mungkin orang lebih baik dari kami," kata Luhut dilansir dari Antara, Sabtu (15/8/2020).

"Data-data, informasi, dan intelijen kami punya lebih baik sehingga pengambilan keputusan betul-betul dilakukan secara terukur," kata dia lagi.

Ia juga menyebut dengan informasi yang lengkap dan kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang rinci dan tidak ragu mengecek langsung hingga tingkat bawah, kebijakan akan diputuskan secara terukur.

Baca juga: Luhut Akui Indonesia Terlalu Banyak Punya Bandara Internasional

"Apalagi dengan Presiden Jokowi yang mau ngecek ke bawah, itu betul-betul sangat membuat kita tajam buat keputusan," imbuh mantan Dubes Indonesia untuk Singapura ini.

Luhut pun mengaku sedih melihat banyak kalangan intelektual yang hanya melihat kebijakan sepotong-sepotong lalu langsung memberi komentar.

Ia mencontohkan saat pemerintah memutuskan untuk memberlakukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di saat banyak pihak mendesak untuk diberlakukan penguncian ( lockdown).

"Kita terus terang Maret-April itu agak grogi karena orang desak lockdown. Tapi, kami sarankan Presiden untuk tenang dulu, karena ini barang baru dan kita belum tahu ini," kata Luhut.

Baca juga: Luhut: Dulu Kita Anggap China Seperti di Glodok Saja...

"Kita kaji, lihat, akhirnya sepakat jangan lockdown. Padahal, di luar ada yang kasih (pilihan lockdown) meski informasinya cuma satu. Kita (pemerintah) kan dengar semua," tambah Luhut.

Kini, ekonomi sejumlah negara yang menerapkan lockdown jeblok. Sementara Indonesia, yang di awal dikritik karena keputusan PSBB, justru kini dipuji banyak pihak karena berhasil menekan perlambatan ekonomi karena dampak lockdown.

"Begitu terapkan PSBB, India lockdown, negara mana (lakukan) lockdown, boom! Ekonominya jeblok. Sekarang orang puji kita tidak melakukan lockdown ini," kata jenderal purnawirawan TNI AD ini.

Luhut juga menyinggung para intelektual yang kerap mengkritik pemerintah. Menurut dia, para intelektual tersebut mengkritik tanpa mengetahui informasi secara utuh.

Baca juga: Luhut Ingin Turis Asing Bekerja dari Bali

"Kita harus bersaing global. Kita enggak boleh introvert, hanya lihat ke dalam. Kita harus lihat ke luar. Kadang-kadang saya sedih melihat intelektual kita itu, hanya melihat sepotong-sepotong, kemudian memberikan komentar," ucap Luhut.

Banyak bandara internasional di Indonesia

Luhut menyebut Indonesia terlalu banyak memiliki bandara berskala internasional. Saat ini Indonesia memiliki 30 bandara berskala internasional.

“Saya melihat airlines hub yang kita miliki terlalu banyak. Tadi saya singgung itu, ada 30 landasan internasional, kenapa harus ada 30?,” ujar Luhut.

Luhut mengakui dahulu dirinya tak menyadari bahwa bandara berskala internasional di Indonesia terlalu banyak. Setelah melihat hasil dari survei, barulah dia menyadarinya.

Baca juga: Luhut: Saya Sedih, Intelektual Hanya Lihat Sepotong kemudian Beri Komentar...

“Dulu memang mungkin saya termasuk, dulu Pak Menteri Perhubungan juga sama mikirnya. Tapi setelah ada kajian, kita lihat apakah ini enggak kebanyakan, malah yang bikin kebanyakan yang menikmati orang lain,” kata Luhut.

Saat ini, kata Luhut, pemerintah tengah mengkaji mana saja bandara berskala internasional yang akan jadi prioritas.

“Sekarang kami bikin lebih kecil. Kita menjadi pusat, kalau orang mau datang melalui Medan, Jakarta, Jogja, Surabaya, Bali, kemudian Makassar atau Manado. Itu saja yang mau kami lihat sehingga kalau ada konsenterasi itu kita akan jadi lebih hemat,” ucap dia.

(Sumber: KOMPAS.com/Ade Miranti, Akhdi Martin Pratama | Editor: Erlangga Djumena, Yoga Sukmana)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X