Strategi Ancol Bertahan di Masa Pandemi, Potong Gaji Direksi hingga Tunda Rekrut Karyawan

Kompas.com - 24/08/2020, 16:34 WIB
Petugas menyemprotkan cairan disinfektan di depan pintu gerbang masuk di Ocean Drum Samudera Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (14/3/2020). Kegiatan ini untuk meminimalisir penyebaran penyakit akibat virus Covid-19 di Ancol. Pemerintah DKI Jakarta menutup semua tempat wisata di Jakarta mulai Sabtu (14/3/2020). Penutupan ini dilakukan selama dua pekan ke depan dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas menyemprotkan cairan disinfektan di depan pintu gerbang masuk di Ocean Drum Samudera Ancol, Jakarta Utara, Sabtu (14/3/2020). Kegiatan ini untuk meminimalisir penyebaran penyakit akibat virus Covid-19 di Ancol. Pemerintah DKI Jakarta menutup semua tempat wisata di Jakarta mulai Sabtu (14/3/2020). Penutupan ini dilakukan selama dua pekan ke depan dalam rangka pencegahan penyebaran virus corona.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk (PJAA) sangat terimbas dampak negatif pandemi Covid-19, lantaran sepanjang 14 Maret-19 Juni 2020 Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mewajibkan kawasan rekreasi ini ditutup.

Akibatnya, penghasilan Ancol menghilang sekitar 3 bulan karena pengunjung tidak ada. Kendati saat ini sudah dibuka, namun perseroan tetap harus melakukan pembatasan jumlah pengunjung.

Mengatasi kerugian akibat pandemi di tahun ini, perseroan pun memiliki sejumlah strategi untuk bisa bertahan. Mulai dari pemotongan gaji direksi dan komisaris, hingga tak membuka lowongan pekerjaan di tahun 2020.

Baca juga: Imbas Pandemi Covid-19, Ancol Rugi Rp 146,3 Miliar di Semester I-2020

Direktur Keuangan Pembangunan Jaya Ancol Hari Sundjojo menjelaskan, upaya efisiensi arus kas (cash flow) perusahaan diantaranya dengan pemotongan penghasilan dewan komisaris dan direksi periode Juli-Desember 2020.

"Selain itu, biaya pegawai di luar gaji atau penghasilan dihilangkan," ungkapnya dalam konferensi pers virtual, Senin (24/8/2020).

Perseoran juga melakukan pemotongan THR direksi dan senior management secara sukarela untuk diberikan kepada reseller, nelayan, dan warga sekitar. Di samping itu, perusahaan melakukan penyisihan penghasilan karyawan secara sukarela untuk keperluan perlengkapan dan peralatan.

Pembelian pakan dan obat-obatan bagi hewan pun dilakukan dari sumbangan sukarela penghasilan senior management.

"Penundaan pembayaran jasa produksi kinerja 2019 juga dilakukan," imbuh Hari.

Upaya lain untuk menjaga finansial perusahaan, kata dia, dengan mempertahankan formasi pegawai yang ada saat ini. Artinya, tidak akan melakukan penerimaan pegawai baru di tahun 2020.

"Untuk capital intensive, kami tahun ini tidak ada penerimaan. Kami coba bertahan dengan formasi yang ada, dan seluruh karyawan itu aktif untuk membantu operasional selama pembukaan kembali," jelasnya.

Efisiensi Biaya

Manajemen perseroan juga melakukan efisien dengan konsep basic cost yakni mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja yang ada saat ini, serta perawatan wahana-wahana. Sementara, untuk capex dan opex dengan nilai mulai Rp 1 perlu mendapatkan persetujuan Direktur Sector dan Direktur Keuangan.

Perusahaan turut menunda sejumlah proyek pengembangan kawasan wisata, dan hanya fokus pada penyelesaian renovasi taman pantai atau proyek symphony of the sea. Proyek taman ini memiliki luas sekitar 51.000 meter persegi.

"Kami harus berhemat sekali, memilih pengeluaran secara tepat dan akurat. Apa yang bisa ditunda maka kami tunda, apa yang bisa kami kurangi maka kami kurangi. Tapi ini tanpa kurangi kebutuhan untuk hewan, wahana, dan perawatann lainnya, serta gaji karyawan," pungkas Hari.

Baca juga: Hampir Separuh Anak Muda di Dunia Pendapatannya Turun akibat Covid-19

Sekedar diketahui, Ancol membukukan rugi Rp 146,3 miliar sepanjang semester I-2020. Jumlah tersebut merosot tajam 306 persen dari kinerja di periode sama tahun 2019 yang berhasil mengantongi laba bersih Rp 71,2 miliar.

Sejalan dengan itu, perseroan turut mencatatkan penurunan pendapatan usaha sebesar 58 persen menjadi Rp 254,2 miliar di periode Januari-Juni 2020. Padahal periode sama di tahun 2019 pendapatan mencapai Rp 607,8 miliar.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X