Luhut Minta Perusahaan Farmasi Kebut Produksi Obat Covid-19

Kompas.com - 27/09/2020, 14:14 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memimpin rakor penanganan Covid-19 secara virtual di Kantornya, Jakarta, Rabu (16/9/2020). Dokumentasi Humas Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan InvestasiMenteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memimpin rakor penanganan Covid-19 secara virtual di Kantornya, Jakarta, Rabu (16/9/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wakil Ketua Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Luhut Binsar Pandjaitan meminta produsen farmasi nasional mempercepat produksi obat Covid-19, guna mendorong angka kesembuhan pasien. Salah satunya adalah obat Remdesivir.

Permintaan ini disampaikan Luhut dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Penyediaan Obat Covid-19 yang dilakukan secara virtual di Jakarta, pada Sabtu (26/9/2020) kemarin.

“Harus diupayakan untuk segera produksi dalam negeri. Kita cari bahan-bahannya itu nanti, jadi jangan ada hambatan,” ungkap Luhut yang juga menjaba sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi dalam keterangan resmi dikutip pada Minggu (27/9/2020).

Baca juga: Sri Mulyani: Meski Banyak Harapan soal Vaksin, Butuh Waktu Lama bagi Ekonomi untuk Pulih

Senada, Menteri Kesehatan Terawan yang juga hadir dalam rakor virtual tersebu mengatakan, pihaknya akan mendukung semua riset yang dilakukan untuk bisa memproduksi Remdesivir dalam negeri.

"Saya back up untuk kebutuhan obat, apapun pasti akan kami dukung karena kami tinggal ajukan dan adakan bersama dengan BUMN dan dengan BPOM. Kami akan koordinasi supaya segala sesuatu tepat sasaran, tepat waktu, dan kami tidak membuat kebijakan yang justru tidak bisa menyelamatkan (pasien Covid)," jelasnya.

Menanggapi permintaan Luhut, perwakilan Bio Farma yang hadir dalam rakor mengungkapkan, pihaknya telah mengurus izin untuk memproduksi Remdesivir. Untuk merealisasikannya ada dua cara yang tengah dilakukan Bio Farma.

"Pertama kita mengadakan kerja sama dengan India karena dia telah mendapatkan lisensi dari Gilead (perusahaan farmasi pemegang izin FDA untuk memproduksi obat antivirus Covid-19).  Sementara kita akan melakukan uji klinis nanti kerja sama dengan BUMN," sebut dia.

Kedua, di samping izin impor, Bio Farma juga sedang riset untuk produksi dalam negeri.

Perusahaan farmasi pelat merah itu tengah melakukan uji klinis skala pilot untuk produksi Remdesivir, namun terkendali dengan pasokan bahan baku.

"Izin kami pakai bahan baku dari China,” imbuhnya.

Luhut pun menanggapi hal itu dengan meminta Bio Farma segera mengambil langkah yang cepat dan tepat agar bahan baku untuk produksi nasional dapat segera dilakukan. Menurutnya, ini demi kepentingan nasional untuk dapat menangani pandemi.

"Strateginya untuk kepentingan emergency dan kepentingan nasional, kita harus cepat dan jangan terlalu kaku karena ini untuk kemanusiaan,” tegasnya.

Baca juga: Luhut: Sudah Terlalu Lama Negeri Ini Tidak Efisien

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X