Apakah Bisa Indonesia Maju?

Kompas.com - 19/10/2020, 06:06 WIB
Ilustrasi SHUTTERSTOCKIlustrasi

ADA beberapa ramalan tentang Indonesia yang akan menempatkan diri pada posisi yang sangat tinggi pada tataran negara negara maju di permukaan bumi.

Pricewaterhouse Coopers (PwC), konsultan ekonomi internasional telah mengumumkan proyeksi pertumbuhan global jangka panjang sampai dengan tahun 2050. Pada proyeksi tersebut tertera negara Indonesia yang berpotensi menjadi Raksasa Ekonomi Terbesar ke-4 Dunia, setelah China, India dan Amerika Serikat.

Sebagai catatan pengumuman ini keluar beberapa waktu sebelum pandemic covid 19, yang tentu saja akan banyak pengaruhnya pada pertumbuhan ekonomi dunia. Hal yang pasti sedikit banyak akan berdampak pula pada proyeksi yang dibuat oleh PwC tersebut.

Ada beberapa lembaga dunia lainnya juga menyebutkan hal yang mirip-mirip seperti yang diutarakan PwC tersebut bahwa Indonesia akan masuk dalam kelompok negara maju.

Ramalan atau prediksi dari sebuah proyeksi yang sangat masuk akal. Negara Indonesia yang begitu luas dan kaya dengan kandungan kekayaan alam ketika mendekati tahun 2050 sudah diperkirakan penduduknya akan berjumlah lebih kurang 320 juta jiwa.

Baca juga: Tangani Covid-19, Indonesia Tetap Kejar Ambisi Jadi Negara Maju 2045

Ramalan dan prediksi tentang Indonesia yang akan menjadi sebuah negara maju ke depan, banyak dilakukan oleh pihak luar negeri. Orang dari luar yang melihat Indonesia dengan sedemikian banyak potensi yang dimiliki hampir tidak ada yang bisa membuat perkiraan bahwa Indonesia akan menjadi negara gagal.

Pasti akan jauh berbeda, apabila mereka melakukan pengamatan dari dalam negeri Indonesia. Salah satu persyaratan utama bagi Indonesia yang menyimpan banyak perbedaan untuk mampu menjadi negara maju adalah faktor kebersamaan persatuan dan kesatuan, di samping tentu saja masih banyak persyaratan-persyaratan lainnya.

Dalam menyoroti faktor kebersamaan ini terkandung di dalamnya makna dari bersama-sama bekerja keras untuk memperjuangkan Indonesia menjadi makmur dan sejahtera. Masih merajalelanya korupsi, tajamnya perbedaan pendapat para elit dan hambatan birokrasi dalam banyak urusan serta disiplin masyarakat yang masih rendah, hanyalah beberapa hal saja dari sekian banyak kompleksitas hambatan yang dapat menjadi faktor penghalang kemajuan Indonesia.

Belum lagi berbicara tentang tata kelola pemerintahan yang katanya berdasar pada sistem demokrasi yang pada kenyataannya diisi dengan banyak kegiatan demonstrasi yang tidak kunjung padam. Hal itu memunculkan pertanyaan “kapan kerja”-nya, dan juga “kapan bersama”-nya ?

Sangat menarik untuk disimak apa yang tengah terjadi sekarang ini dengan hot issue Omnibus Law atau Undang-undang Cipta Kerja. Gagasan dari sebuah ide terobosan yang ingin dilakukan oleh pemerintah untuk menembus berbagai rintangan yang selama ini dinilai sangat menghambat gerak kemajuan Indonesia.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Wika dan CNI Bangun Pabrik Nikel di Kolaka

Whats New
Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Pengusaha Sebut Hanya 3 Persen Pekerja yang Bekerja di Perusahaan Besar

Whats New
Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Nadine Chandrawinata: Selain Plastik, Sampah Puntung Rokok Juga Banyak Ditemukan di Laut

Whats New
Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Pengusaha Ingin Buruh Tak Sekadar Demo, tapi Berdialog untuk Menyelesaikan Masalah

Whats New
[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

[POPULER DI KOMPASIANA] Menyiapkan Guru Masa Depan | Siap-siap 5G | 7 Kesalahan dalam Bisnis

Rilis
Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Luhut: Saya Enggak Mau Lama-lama, Kerjaan Saya Banyak

Whats New
Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Menaker Akui Iklim Terciptanya Lapangan Kerja Baru Masih Belum Bersahabat

Whats New
779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

779 Warga Kota Serang Dapat Kompensasi Tumpahan Minyak dari Pertamina

Whats New
7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

7 Posisi Menteri yang Pernah Dijabat Luhut, Apa Saja?

Whats New
Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Menaker Sebut Nilai Upah Minimum RI Tak Sepadan dengan Produktivitas Pekerja yang Rendah

Whats New
Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Ini 7 Kiat Sukses Calon Pemimpin ala Gubernur BI

Rilis
KKP Bantu Permodalan Pembudi Daya Rumput Laut di Sulsel

KKP Bantu Permodalan Pembudi Daya Rumput Laut di Sulsel

Whats New
Kemenkeu Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Penyediaan Satu Juta Rumah

Kemenkeu Beri Pinjaman Rp 650 Miliar ke Perumnas untuk Penyediaan Satu Juta Rumah

Whats New
Pulihkan Ekonomi, Mendag Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Malaysia-Thailand

Pulihkan Ekonomi, Mendag Dorong Penguatan Kerja Sama Indonesia-Malaysia-Thailand

Rilis
Jadi Polemik di RI, Berapa Harga Lobster di Pasar Dunia?

Jadi Polemik di RI, Berapa Harga Lobster di Pasar Dunia?

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X