Kompas.com - 22/10/2020, 20:32 WIB
Kemenkop UKM Teten Masduki saat memberikan kata sambutan Humas Kemenkop UKM Kemenkop UKM Teten Masduki saat memberikan kata sambutan

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, UMKM pangan memerlukan korporatisasi untuk bisa berkembang.

Ia menjelaskan, sebanyak 60 persen sektor UMKM bergerak di bidang makanan. UMKM tersebut menyerap sebanyak 66 persen terigu nasional.

Sementara di bidang produksi pertanian dan perikanan lebih dari 90 persen merupakan sektor UMKM. Sayangnya, kata Teten, Indonesia belum ada korporatisasi pertanian.

"Sektor produksi di UMKM pangan punya potensi dikembangkan tapi terhalang inefisiensi karena kepemilikan lahan yang sempit, pembiayaan, kepastian pasar dan harga, serta inovasi teknologi," ujar Teten dalam Rapat Koordinasi Nasional Pengendalian Inflasi Tahun 2020 secara virtual, Kamis (22/10/2020).

Baca juga: Ada Fasilitas Kredit hingga Rp 8 Juta di Blibli PayLater

Oleh sebab itu, sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pihaknya diminta melakukan inovasi kelembagaan melalui program korporatisasi UMKM, yang didalamnya juga mencakup petani dan nelayan.

Pemerintah berharap usaha-usaha yang kecil dan bergerak perseorangan bisa terkonsolidasi dalam satu kelembagaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dengan kelembagaan ini maka para petani kecil dan berlahan sempit bisa dikonsolidasi dalam skala berkeekonomian," kata dia.

Di sisi lain, dengan korporatisasi UMKM tersebut, maka penyaluran bantuan dari pemerintah, khususnya untuk pertanian seperti pupuk, alat mesin pertanian (alsintan), hingga pelatihan bisa dikonsolidasikan dengan baik.

Namun kata dia, dalam model bisnis korporatisasi, UMKM pangan harus didukung sarana produksi hulu hingga pengolahan dan manajemen profesional.

Baca juga: Kookmin Masuk, Bos Bukopin Yakin Bakal Dorong Transformasi Bisnis

Teten mengatakan, produksi dan pasar pun harus terhubung agar pembiayaan sektor UMKM pangan dapat bergairah. Menurutnya, saat ini perbankan maupun koperasi simpan pinjam porsinya masih kecil untuk pembiayaan di sektor pangan.

Ia menambahkan, untuk pengembangan UMKM pangan diperlukan pula penggunaan teknologi digital dalam proses bisnis dan pemasaran. Maka, pihaknya bersama PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau BGR Logistics mengembangkan aplikasi pangan digital.

Aplikasi tersebut bertujuan membangun rantai distribusi pangan melalui jaringan warung sembako tradisional yang jumlahnya mencapai 3,5 juta. Saat ini, aplikasi tersebut dalam tahap pilot project di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi).

Jaringan warung sembako tradisional tersebut juga bisa dimanfaatkan untuk program operasi pasar guna mengendalikan inflasi.

Teten menekankan, proyek besar korporatisasi UMKM pangan hanya dapat dilakukan dengan kerja sama antar kementerian dan lembaga (K/L) terkait, seperti Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN, Kementerian BUMN, Kemenkop UKM, hingga pemerintah daerah.

Baca juga: Berkat PayPal, Harga Bitcoin Tembus Rp 190 Juta



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Transaksi Digital Banking Diprediksi Capai Rp 35.600 Triliun pada 2021

Transaksi Digital Banking Diprediksi Capai Rp 35.600 Triliun pada 2021

Whats New
Alih Kelola Blok Rokan, 2.691 Karyawan Chevron Setuju Gabung Pertamina

Alih Kelola Blok Rokan, 2.691 Karyawan Chevron Setuju Gabung Pertamina

Whats New
Juli 2021, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi 71,17 Dollar AS per Barel

Juli 2021, Harga Minyak Mentah Indonesia Naik Jadi 71,17 Dollar AS per Barel

Whats New
[TREN FILM KOMPASIANA] Romansa Musim Panas 'Words Bubble Up Like Soda Pop' | 'Rurouni Kenshin: The Beginning' Anti Klimaks | Trailer Kedua Sekuel 'Venom' Dirilis

[TREN FILM KOMPASIANA] Romansa Musim Panas "Words Bubble Up Like Soda Pop" | "Rurouni Kenshin: The Beginning" Anti Klimaks | Trailer Kedua Sekuel "Venom" Dirilis

Rilis
BEI: Penggalangan Dana di Pasar Modal Semester II Masih Menjanjikan

BEI: Penggalangan Dana di Pasar Modal Semester II Masih Menjanjikan

Rilis
Erick Thohir Minta Direksi BUMN Perhatikan Karyawannya yang Terkena Covid-19

Erick Thohir Minta Direksi BUMN Perhatikan Karyawannya yang Terkena Covid-19

Rilis
Terus Tumbuh, Transaksi QRIS Meroket 214 Persen

Terus Tumbuh, Transaksi QRIS Meroket 214 Persen

Whats New
Modalku Luncurkan Pinjaman Terproteksi untuk Pendana, Apa Itu?

Modalku Luncurkan Pinjaman Terproteksi untuk Pendana, Apa Itu?

Rilis
Catat, Ini Tiga Perbedaan Skema Subsidi Gaji Tahun 2021 dengan 2020

Catat, Ini Tiga Perbedaan Skema Subsidi Gaji Tahun 2021 dengan 2020

Whats New
Bantuan UKT Rp 2,4 Juta Segera Cair, Begini Syarat dan Cara Daftarnya

Bantuan UKT Rp 2,4 Juta Segera Cair, Begini Syarat dan Cara Daftarnya

Whats New
Anthony Salim Lakukan Aksi Gadai Saham DCII, Ini Penjelasan Manajemen

Anthony Salim Lakukan Aksi Gadai Saham DCII, Ini Penjelasan Manajemen

Whats New
Serikat Karyawan Garuda Indonesia Minta Syarat Tes PCR Bagi Penumpang Diganti Jadi Antigen

Serikat Karyawan Garuda Indonesia Minta Syarat Tes PCR Bagi Penumpang Diganti Jadi Antigen

Whats New
Batas Maksimum Gaji Pegawai DKI Rp 4,5 Juta Untuk Dapat Subsidi Upah

Batas Maksimum Gaji Pegawai DKI Rp 4,5 Juta Untuk Dapat Subsidi Upah

Whats New
Harga Batu Bara Acuan Tembus 130 Dollar AS per Ton, Tertinggi Dalam 1 Dekade

Harga Batu Bara Acuan Tembus 130 Dollar AS per Ton, Tertinggi Dalam 1 Dekade

Whats New
Lawan Pandemi, Kadin Gandeng PMI Sediakan Sarana dan Prasarana Plasma Konvalesen

Lawan Pandemi, Kadin Gandeng PMI Sediakan Sarana dan Prasarana Plasma Konvalesen

Whats New
komentar di artikel lainnya
Close Ads X