Daya Beli Masyarakat Miskin Tertekan, Pemerintah Diminta Tingkatkan Efisiensi Penyaluran Bansos

Kompas.com - 27/02/2021, 10:13 WIB
Tangkapan layar mengenai profil kemiskinan di Indonesia September 2020 BPSTangkapan layar mengenai profil kemiskinan di Indonesia September 2020

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah perlu meningkatkan efisiensi dalam penyaluran program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) yang berguna mendongkrak konsumsi masyarakat.

Beberapa penyaluran tersebut antara lain Bantuan Langsung Tunai (BLT), Transfer Daerah, dan Dana Desa.

Ekonom Bahana Sekuritas Putera Satria Sambijantoro mengatakan, efisiensi diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat yang berpendapatan rendah. Pasalnya, daya beli masyarakat berpendapatan rendah ini masih di bawah tekanan.

"Ini menggarisbawahi pentingnya pemerintah meningkatkan efisiensi dalam penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT), Transfer Daerah, dan Dana Desa untuk menjaga daya beli masyarakat berpendapatan rendah," kata Satria dalam laporannya, Sabtu (27/2/2021).

Baca juga: Penduduk Miskin Indonesia Naik Jadi 27,55 Juta akibat Covid-19, Tren Penurunan Kemiskinan Terhenti

Tercatat, tingkat kemiskinan RI naik ke level tertinggi selama dua tahun, di angka 10,19 persen pada September 2020. Angkanya melesat dibandingkan dengan 9,22 persen pada tahun sebelumnya.

Artinya, dalam setahun, ada sekitar 2,76 juta orang Indonesia yang jatuh kembali ke garis kemiskinan, yaitu mereka yang berpenghasilan Rp 458.947 (32,5 dollar AS) setiap bulan.

Ukuran antara garis kemiskinan dan pengeluaran rata-rata orang di bawah garis itu, melonjak menjadi 2,39 pada September 2020 dari 2.11 tahun sebelumnya.

"Hilangnya pendapatan dan pekerjaan juga lebih banyak dirasakan di kota daripada di desa, dengan angka kemiskinan perkotaan naik menjadi 1,32 poin, dibandingkan dengan 0,6 poin lonjakan tingkat kemiskinan desa," ucap Satria.

Satria menyebut, melebarnya disparitas pendapatan bisa berpengaruh pada pemulihan ekonomi berbentuk K (K-shape). Hanya 39,5 persen pekerja formal dari total angkatan kerja yang memiliki jaminan kerja relatif aman dari dampak negatif Covid-19.

Masyarakat yang lebih kaya, diuntungkan oleh kebijakan moneter longgar yang menaikkan harga aset. Dikombinasikan dengan budaya bekerja dari rumah, membuat krisis ekonomi akibat Covid-19 hampir tidak dirasakan oleh masyarakat yang lebih kaya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X