Kinerja Ekspor dan Impor Cemerlang di Awal 2021, Pertanda Ekonomi Pulih?

Kompas.com - 15/03/2021, 13:51 WIB
Kepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020). KOMPAS.com/FIKA NURUL ULYAKepala BPS Suhariyanto di Gedung BPS, Jakarta, Rabu (5/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan kinerja neraca perdagangan Indonesia mengalami surplus sebesar 2 miliar dollar AS.

Hal tersebut diakibatkan oleh nilai ekspor yang lebih besar daripada impor.

Meski di sisi lain, kinerja keduanya mencatatkan pertumbuhan pada periode Februari 2021.

Baca juga: Kedua Kalinya di Awal 2021, Neraca Dagang RI Surplus

Untuk ekspor, realisasinya sebesar 15,27 miliar dollar AS atau tumbuh 8,56 persen (yoy).

Sedangkan nilai impor realisasinya 13,26 miliar dollar AS atau tumbuh 14,86 persen.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, perbaikan kinerja ekspor dan impor tersebut menunjukkan kinerja perekonomian yang mulai bergeliat dan mengalami pemulihan setelah terhantam dampak pandemi Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Kalau dengan memperhatikan performa ekspor yang mengalami peningkatan 8,56 persen dan ekspor berasal dari seluruh sektor, kemudian impor juga naik terutama bahan baku dan barang modal, saya katakan ya, ini ini menunjukkan geliat berbagai sektor dan investasi di dalam negeri mulai bergerak," jelas Suhariyanto ketika memberikan paparan, Senin (15/3/2021).

Baca juga: Ada Konflik, Ekspor RI ke Myanmar Turun

Suhariyanto mengatakan, perbaikan kinerja ekspor dan impor tersebut beriringan dengan kinerja manufaktur.

Data Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Januari hingga Februari menunjukkan adanya ekspansi, yakni berada di level di atas 50.

Di bulan Januari, posisi PMI Indonesia berada di level 52,2 sedangkan di Februari di level 50,9.

"Artinya masih ada berada di level ekspansi. Kalau dilihat itu, saya setuju performa ekspor dan impor di Februari menggembirakan apalagi masih surplus 2 miliar dollar AS," jelas Suhariyanto.

Untuk diketahui, pertumbuhan kinerja ekspor terjadi karena ada kenaikan ekspor migas sebesar 6,9 persen (yoy) dan nonmigas tumbuh 8,67 persen (yoy).

Baca juga: Era SBY dan Jokowi Sama Saja, Tiap Tahun Impor Garam Jutaan Ton

Sedangkan untuk impor, surplus terjadi lantaran peningkatan impor nonmigas sebesar 22,03 persen, sementara untuk migas turun 25,37 persen.

"Migas ini turun adalah karena impor minyak mentah yang nilainya turun 62,3 persen dan nilai impor hasil minyak turun 18,75 persen. Sedangkan impor gas masih mencatatkan kenaikan," ujar Suhariyanto.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.