Heryadi Silvianto
Dosen FIKOM UMN

Pengajar di FIKOM Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan praktisi kehumasan.

Global Village Itu Nyata

Kompas.com - 30/03/2021, 09:43 WIB
Ilustrasi digitalisasi DOK. SHUTTERSTOCKIlustrasi digitalisasi

Epik ini mengingatkan tentang konsep lawas Marshall McLuhan dalam bukunya yang berjudul Understanding Media: Extension of A Mantentang Desa Global (Global Vilage) mengenai perkembangan teknologi komunikasi di mana dunia dianalogikan menjadi sebuah desa yang sangat besar.

Tidak ada lagi batas waktu dan tempat yang jelas. Informasi dapat berpindah dari satu tempat ke belahan dunia lain dalam waktu yang sangat singkat, menggunakan ICT.

Global Village is Good News

Bisa jadi Fuad bukan yang pertama, kita sadari ada banyak anak-anak kreatif di negeri ini yang bisa menyentuh level global dari desa.

Namun sayangnya cerita baik seperti ini banyak terkubur ditelan hiruk pikuk diskusi nir-mutu dalam dunia media sosial kita. Influencer maupun buzzer berkelindan serta berseliweran dalam ruang publik.

Puncaknya Indonesia berdasar rilis terbaru Microsoft Digital Civility Index (DCI) menempati urutan ke-29 dari 32 negara dalam hal tingkat kesopanan pengguna internet di dunia maya. Miris, namun ini bukan alasan untuk kita berhenti memproduksi kebaikan di dunia digital.

Baca juga: Kenapa Warganet Indonesia Bisa Dapat Predikat Paling Tidak Sopan Se-Asia Tenggara?

Teknologi secara faktual dan gradual merubah langgam orang dalam berkomunikasi. Terlebih disaat pandemik, keberadaan ICT telah secara jelas mengambil peran dalam perubahan kehidupan sosial.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dari mulai pesanan untuk kebutuhan dapur hingga mendukung pekerjaan kantor, semua going virtual. Semua bisa dilakukan dari jarak jauh, namun tidak perlu aktivitas berpergian jauh. “Teknologi yang memungkinkan tindakan dari jarak jauh,” tulis Amit Pinchevski di Southern Communication Journal.

Seorang sosiolog, Danah Boyd, mendeskripsikannya apa yang dia sebut "empat keterjangkauan" yang diizinkan oleh media sosial.

Pertama, ketekunan, yang mengacu pada daya tahan atau kelanggengan dalam memproduksi konten online.

Kemudian, keduavisibility atau audiens potensial yang tidak terbatas untuk berkomunikasi. Ketiga, penyebaran, mengacu pada kemudahan orang untuk berbagi pesan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.