Listrik Pelanggan Bisnis dan Industri Besar Bakal Naik, Ini Tagihannya

Kompas.com - 13/04/2021, 14:44 WIB
Petugas PLN saat memeriksa jaringan tegangan tinggi di Pulau Bangka. Dokumentasi PLN.Petugas PLN saat memeriksa jaringan tegangan tinggi di Pulau Bangka.


JAKARTA, KOMPAS.com – Rencana tarif listrik naik pada kuartal III 2021 atau mulai 1 Juli 2021 akan berdampak pada melonjaknya tagihan ke pelanggan, termasuk untuk golongan pelanggan bisnis dan industri besar.

Salah satu skenario kenaikan tarif listrik adalah dengan menghapus 100 persen kompensasi yang selama ini dibayarkan pemerintah. Dengan skenario ini, semua golongan pelanggan akan lebih mahal bayar tagihan listrik per bulannya.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana, menjelaskan bahwa besaran kenaikan untuk tiap golongan berbeda-beda.

Baca juga: Berapa Kenaikan Tagihan Listrik Rumah Tangga Per Bulan Mulai 1 Juli?

Yang jelas, industri besar akan jadi yang paling mahal kenaikannya karena listriknya pun bertegangan tinggi.

“Yang paling tinggi kenaikannya adalah golongan industri besar, i4 itu naiknya kurang lebih Rp 2,9 miliar per bulan (30.000 KVA ke atas) seperti industri semen, makanan dan masakan olahan, dan seterusnya,” ungkap Rida dalam Rapat Badan Anggaran (Banggar) DPR RI, Kamis (8/4/2021).

Dalam bahan paparannya yang diterima Kompas.com, dikutip pada Selasa (13/4/2021), pelanggan bisnis besar dan industri besar masing-masing terdiri dari 2 golongan sistem pentarifan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pelanggan PLN bisnis besar, meliputi 2 golongan yakni B-2/TR 6.600 VA s.d 200 kVA dan B-3/TM di atas 200 kVA (tarif listrik bisnis besar).

Baca juga: Awas Main Layang-layang Sembarangan, Bisa Bikin Listrik Padam Total

Adapun untuk industri besar, meliputi 2 golongan yakni I-3/ TM di atas 200 kVA dan I-4/ TT 30.000 kVA ke atas (tarif listrik industri besar).

Rincian tagihan listrik pelanggan bisnis besar

Semula, tagihan listrik untuk pelanggan golongan B-2/TR 6.600 VA hingga 200 kVA adalah Rp 3.699.946 per bulan, dengan asumsi pemakaian daya 2.561 kWh sebulan.

Adapun jika kompensasi dari pemerintah dihapus 100 persen mulai 1 Juli nanti, maka tagihannya ikut berubah. Dengan asumsi pemakaian daya yang sama, tagihan listrik akan naik Rp 181.886 per bulan.

Dengan begitu, total tagihan listrik pelanggan bisnis besar B-2/TR 6.600 VA hingga 200 kVA adalah Rp 3.881.832 per bulan.

Pelanggan yang masuk golongan tersebut di antaranya bisnis di bidang tekstil, pergudangan dan penyimpanan, serta pengolahan dan pengawetan.

Baca juga: Beda Tarif Listrik Saat Ini Dibandingkan Era Awal Jokowi Presiden

Sementara itu, untuk pelanggan golongan B-3/TM di atas 200 kVA tagihannya berbeda lagi. Yang termasuk pelanggan golongan ini di antaranya mall atau pusat perbelanjaan, apartemen, dan hotel.

Pada golongan bisnis besar ini, untuk asumsi pemakaian listrik 208.707 sebulan, maka sebelumnya biaya tagihan listriknya adalah Rp 234.328.239 per bulan.

Nantinya, jika tarif listrik naik maka dengan asumsi pemakaian yang sama, tagihan listriknya naik Rp 33.152.271 per bulan. Dengan begitu, total tagihan listrik sebulan menjadi Rp 267.480.510.

Rincian tagihan listrik pelanggan industri besar

Jika tarif listrik naik mulai 1 Juli 2021, maka salah satu skenario tagihan listrik ke pelanggan industri besar I-3/ TM di atas 200 kVA juga akan naik.

Yang termasuk dalam pelanggan golongan ini di antaranya adalah industri pengolahan kopi seperti Nestle, Mustika Kencana, dan Ghandapala, juga industri air minum seperti PDAM.

Semula, tagihan listrik golongan ini adalah Rp 381.802.353 per bulan, dengan asumsi pemakaian rata-rata sebulan 341.970 kWh.

Baca juga: Simak Rencana Tarif Listrik Naik Mulai 1 Juli 2021, Ini Skenarionya

Nantinya, dengan asumsi pemakaian rata-rata yang sama, tagihan listrik lebih mahal dengan selisih Rp 54.016.601 per bulan. Dengan begitu, total tagihan listrik per bulan menjadi Rp 435.818.954.

Sementara itu, golongan pelanggan industri besar I-4/ TT 30.000 kVA ke atas bakal jadi yang termahal kenaikan tagihannya jika skenario kenaikan tarif berlaku 1 Juli 2021.

Pelanggan yang masuk golongan ini misalnya industri semen seperti Holcim, Semen Cibinong, Semen Gresik, dan Jui Shin, serta industri makanan dan masakan olahan seperti Indofood, Ajinomoto, dan Miwon.

Dengan rata-rata pemakaian sebulan sebesar 15.216.984 kWh, biasanya industri ini membayar tagihan listrik Rp 15.221.665.922 per bulan.

Baca juga: Subsidi Akan Diubah, Berapa Harga Elpiji 3 Kg Tahun Depan?

Dengan adanya skenario kenaikan tarif tanpa kompensasi, maka tarifnya akan naik dengan tambahan tagihan sebesar Rp 2.873.476.192 per bulan untuk asumsi pemakaian yang sama.

Dengan tambahan itu, maka total tagihan listrik yang harus dibayarkan dalam sebulan adalah Rp 18.095.142.114.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X