Garuda Indonesia Catatkan Pendapatan Rp 20 Triliun di 2020

Kompas.com - 16/07/2021, 14:17 WIB
Tangkapan layar pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia menggunakan masker, Selasa (13/10/2020). dok. Instagram @garuda.indonesiaTangkapan layar pesawat maskapai penerbangan Garuda Indonesia menggunakan masker, Selasa (13/10/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatatkan pendapatan usaha sebesar 1,4 miliar dollar AS atau setara dengan Rp 20,3 triliun (kurs Rp 14.500 per dollar AS) sepanjang 2020.

Kinerja di masa pandemi itu turun 69 persen dari pendapatan usaha tahun 2019 yang sebesar 4,57 miliar dollar AS.

Pendapatan Garuda Indonesia sepanjang tahun lalu berasal dari pendapatan penerbangan berjadwal sebesar 1,2 miliar dollar AS, pendapatan penerbangan tidak berjadwal 77 juta dollar AS, dan lini pendapatan lainnya 214 juta dollar AS.

Baca juga: Hampir Bangkrut, Serikat Karyawan Garuda Surati Jokowi

Di sisi lain, maskapai pelat merah ini mencatatkan penurunan beban operasional penerbangan sebesar 35,13 persen menjadi 1,6 miliar dollar AS dibandingkan tahun 2019 yang sebesar 2,5 miliar dollar AS.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan, penurunan beban operasional ditunjang oleh langkah strategis efisiensi biaya.

Salah satunya melalui upaya renegosiasi sewa pesawat maupun efisiensi biaya operasional penunjang lainnya yang saat ini terus dioptimalkan oleh perseoran.

"Melalui upaya tersebut, saat ini Garuda Indonesia berhasil melakukan penghematan beban biaya operasional hingga 15 juta dollar AS per bulannya," ungkapnya dalam keterangan tertulis, Jumat (16/7/2021).

Sementara itu, menyikapi catatan disclaimer atau opini tidak memberikan pendapat Laporan Keuangan Garuda Indonesia tahun buku 2020 oleh auditor independen, kata Irfan, pihaknya menghargai independensi auditor yang mencatatkan keterangan tersebut.

Baca juga: Apa Kabar Dana Talangan dari SMI untuk Garuda Indonesia?

Catatan disclaimer itu diberikan dengan pertimbangan aspek keberlangsungan usaha yang menjadi perhatian auditor, di tengah upaya restrukturisasi yang dijalankan perusahaan sebagai langkah pemulihan kinerja.

Irfan menjelaskan, hal tersebut merupakan realitas bisnis yang tidak dapat terhindarkan di tengah tekanan kinerja usaha. Sebab kondisi pandemi membuat industri penerbangan dunia pada level terendah sepanjang sejarah, di mana lalu lintas penumpang internasional turun drastis lebih dari 60 persen selama 2020.

"Kondisi itu yang turut tergambarkan pada kinerja usaha Garuda Indonesia yang saat ini terdampak signifikan pada aspek keberlangsungan usaha," ujarnya.

Menurut Irfan, hal tersebut juga merupakan situasi yang tidak terhindarkan dihadapi oleh berbagai pelaku industri penerbangan lainnya, di mana harus melakukan berbagai langkah fundamental guna mengoptimalkan kinerja usahanya. Di antaranya, melalui upaya diversifikasi bisnis baik dalam skala besar maupun kecil.

"Dalam kondisi yang penuh tantangan ini, Garuda Indonesia memastikan komitmennya untuk senantiasa hadir memenuhi kebutuhan aksesibilitas layanan penerbangan masyarakat Indonesia melalui pengalaman terbang yang aman dan nyaman," kata Irfan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.