Rudiyanto
Direktur Panin Asset Management

Direktur Panin Asset Management salah satu perusahaan Manajer Investasi pengelola reksa dana terkemuka di Indonesia. Wakil Ketua I Perkumpulan Wakil Manajer Investasi Indonesia periode 2019 - 2022. Penulis buku best seller reksa dana yang diterbitkan Gramedia Elexmedia. Buku Terbaru berjudul "Reksa Dana, Pahami, Nikmati!"

Reksa Dana di Era Old Economy vs New Economy

Kompas.com - 03/09/2021, 15:09 WIB
ilustrasi investasi FREEPIK/JCOMPilustrasi investasi

Bahkan kapitalisasi pasar yang dihitung berdasarkan harga saham x jumlah saham beredar, ARTO bernilai Rp 210 triliun lebih dari 2 kali lipat dibandingkan dengan BBNI yang bernilai “hanya” Rp 100 Triliun. Untuk saham bank lainnya sebagai berikut BBCA Rp 807 triliun, BBRI Rp 484 triliun, dan BMRI Rp 284 triliun.

Pilih Saham Old Economy atau New Economy ?

Dalam konteks pengelolaan reksa dana, manajer investasi selaku pengelola dihadapkan pada pilihan. Apakah berinvestasi pada perusahaan Old Economy yang terbukti sudah mampu mencetak laba triliunan atau memilh perusahaan New Economy yang model bisnisnya masih belum terbukti tapi harga sahamnya naik berlipat-lipat?

Perlu dipahami, kinerja reksa dana TIDAK diukur berdasarkan seberapa besar laba yang dicetak perusahaan-perusahaan dalam portofolio investasinya. Tapi pada kenaikan atau penurunan HARGA sahamnya.

Secara sederhana, meskipun mencetak laba Rp 14.5 triliun, investor yang membeli saham BBCA dari awal tahun masih rugi 3 persen karena harga sahamnya turun. Sebaliknya meski masih perusahaannya masih rugi Rp 46 miliar, investor yang membeli ARTO dari awal tahun telah untung 237 persen.

Reksa dana sebagai pemegang saham, kinerjanya akan mengikuti HARGA saham bukan laba bersih yang dicetak perusahaan tersebut.

Dalam situasi ini, memilih saham new economy memang adalah pilihan yang rasional. Logika investasinya mudah dipahami oleh investor dan didukung dengan hype atau sentimen yang tinggi dari investor.

Baca juga: Mengenal Jenis dan Produk Pasar Modal, dari Saham Sampai Reksa Dana

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Keberhasilan Bukalapak menggalang IPO senilai Rp 21 triliun yang merupakan terbesar sepanjang sejarah merupakan bukti bahwa permintaan investor untuk saham di sektor ini sangat kuat.

Risiko Memilih Saham New Economy

Meski demikian, saham new economy juga bukannya tanpa risiko. Semua saham memiliki risiko fluktuasi harga, baik itu saham old ataupun new economy. Dan kalau sedang turun, tanpa ampun juga bisa sampai puluhan persen.

Yang membedakan, perusahaan yang mampu mencetak laba yang besar dan konsisten tumbuh, ketika harganya turun akan semakin menarik bagi investor.

Ibaratnya mobil Mercy yang sedang diobral seharga Avanza. Kemungkinan harganya akan naik kembali di masa depan akan lebih tinggi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.