Program Kemitraan dan Digitalisasi Pacu Produktivitas Industri Olahan Susu

Kompas.com - 20/10/2021, 17:00 WIB
Ilustrasi susu ShutterstockIlustrasi susu

JAKARTA, KOMPAS.com - Plt Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika mengatakan, pihaknya terus memacu produktivitas industri pengolahan susu di dalam negeri agar dapat memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor.

Oleh karena itu, kata dia, diperlukan upaya strategi untuk menjamin ketersediaan bahan baku susu segar dalam mendukung proses produksinya.

“Industri pengolahan susu merupakan salah satu sektor pangan yang mendapat prioritas dalam pengembangannya. Hal ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) Tahun 2015-2035,” kata Putu dalam siaran resminya, dikutip Kompas.com, Rabu (20/10/2021).

Baca juga: Susu Beruang Jadi Rebutan, Ini Kata Nestle

Sementara untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu serta mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor, dijelaskan dia, Kemenperin berupaya untuk melakukan peningkatan rasio penggunaan susu segar dari peternak dalam negeri.

“Upaya ini diwujudkan melalui pengembangan dan penguatan program kemitraan yang saling menguntungkan antara industri pengolahan susu dengan koperasi atau peternak sapi perah lokal,” ungkap Putu.

Putu juga membeberkan, pada tahun 2020, kebutuhan bahan baku susu untuk industri pengolahan susu tercatat 3,95 juta ton (setara susu segar), dengan pasokan bahan baku susu dalam negeri sebesar 909.000 ton (20 persen), dan sisanya dipasok dari negara lain dalam bentuk Skim Milk Powder (SMP), Whole Milk Powder (WMP), Anhydrous Milk Fat (AMF), Butter Milk Powder (BMP), dan Demineralized Whey Powder (DWP).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Putu juga mengatakan, masih kecilnya populasi sapi perah di Indonesia berimbas pada rendahnya ketersediaan pasokan susu segar di dalam negeri.

Baca juga: Australia Batal Jual Perusahaan Produsen Susu ke China

Selain itu, dia juga menilai meningkatnya investasi di sektor industri pengolahan susu, menyebabkan kebutuhan bahan baku selama 6 tahun terakhir rata-rata tumbuh 4 persen, sedangkan produksi susu segar hanya tumbuh 2,6 persen.

“Laju pertumbuhan produksi susu segar di Indonesia, baik itu dari peternak rakyat maupun dari peternakan sapi perah modern yang terintegrasi, saat ini belum dapat mengejar laju pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu, sehingga menyebabkan gap antara produksi susu segar dan kebutuhan bahan baku industri pengolahan susu yang semakin melebar setiap tahunnya,” papar Putu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.