Kompas.com - 23/11/2021, 09:24 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020). ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAKaryawan melintas di dekat layar pergerakan saham saat merebaknya wabah Covid-19 di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (28/4/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak pada zona merah di awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Selasa (23/11/2021). Demikian juga dengan mata uang garuda yang melemah pada perdagangan pasar spot.

Melansir data RTI, pukul 09.08 WIB, IHSG berada pada level 6.716,16 atau turun 7,22 poin (0,11 persen) dibanding penutupan sebelumnya pada level 6.723,38.

Sebanyak 189 saham melaju di zona hijau dan 174 saham di zona merah. Sedangkan 192 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 746,8 miliar dengan volume 1,6 miliar saham.

Baca juga: Kenapa Saham Mitratel Malah Nyungsep di Hari Pertama IPO? Ini Kata Analis

Bursa Asia mayoritas merah dengan penurunan Hang Seng Hong Kong 1,15 persen, dan Strait Times 0,13 persen. Sementara itu Shanghai Komposit menguat 0,11 persen.

Wall Street pagi ini mayoritas merah dengan penurunan indeks S&P 500 sebesar 0,32 persen, dan indeks acuan saham teknologi AS Nasdaq 1,26 persen. Sementara Dow Jones Industrial Average (DJIA) menguat 0,05 persen.

Sebelumnya, Analis Artha Sekuritas Dennies Christoper mengatakan, secara teknikal IHSG berhasil ditutup di rekor tertinggi dengan volume yang cukup tinggi didorong oleh optimisme menyambut window dressing.

“IHSG diprediksi menguat, saat ini investor cenderung mengabaikan kekhawatiran akan inflasi dan tapering AS namun investor akan terus mencermati perkembangan dan rilis data ekonomi,” kata Dennies dalam rekomendasinya.

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini melemah. Melansir Bloomberg, pukul 09.01 WIB rupiah bergerak pada level Rp 14.260 per dollar AS, atau atau turun 10 poin (0,07 persen) dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 14.249 per dollar AS.

Pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan, pelemahan rupiah terjadi karena naiknya yield obligasi pemerintah AS 10 tahun di atas 1,6 persen.

"Nilai tukar rupiah berpotensi tertekan turun hari ini. Kenaikan yield obligasi pemerintah AS tersebut seiring dengan kemungkinan terpilihnya kembali Jerome Powell sebagai Gubernur The Fed untuk periode kedua," kata Ariston kepada Kompas.com.

Dia mengatakan, pasar menganggap terpilihnya kembali Powell akan mendukung rencana Bank Sentral AS untuk melakukan pengetatan moneter karena inflasi yang terus naik di AS.

Ariston memproyeksikan hari ini rupiah bisa bergerak melemah pada kisaran Rp 14.300 per dollar AS dengan potensi resisten di kisaran Rp 14.220 per dollar AS.

Baca juga: Sambut Window Dressing, IHSG Bersiap Bikin Rekor Lagi? Simak Rekomendasi Saham Hari Ini

Disclaimer: Artikel ini bukan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Segala rekomendasi dan analisa saham berasal dari analis dari sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi ada di tangan Investor. Pelajari dengan teliti sebelum membeli/menjual saham.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.