Perjalanan "Ketan Adem" Binaan PHE Jambi Merang, dari Bikin Wisata Embung hingga Cegah Karhutla dan Pengeboran Ilegal

Kompas.com - 19/12/2021, 14:02 WIB
Penulis Aprillia Ika
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Kelompok binaan PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Jambi Merang, yakni Kelompok Tanggap Api Desa Mendis (Ketan Adem) di Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, dinilai sukses menanggulangi masalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sekaligus mendorong potensi desa menjadi lebih berdaya.

Awalnya, pada 2017 Desa Mendis jadi mitra binaan PHE Jambi Merang untuk Program Desa Cinta Bumi Tanggap Api. Program itu memanfaatkan embung sebagai kolam retensi dan penghijauan kawasan embung.

Baca juga: Kisah Warga Desa Prangat Baru, Dulu Terjerat Tengkulak, Kini Sejahtera berkat Budidaya Kopi Luwak Inisiasi PHKT DOBU

Pada 2018, dilakukan revitalisasi embung dan pembukaan kawasan wisata dan wahana permainan air. Ketan Adem dilibatkan sebagai rescue team.

Pada 2019, dilakukan optimalisasi embung dengan menambah wahana air dan kolam renang anak. Tahun lalu, seiring dengan pandemi Covid-19 dilakukan pemberian fasilitas protokol kesehatan pendukung di kawasan embung.

Kemudian, PHE mempersatukan antara masyarakat dengan pemerintah desa, pemkab, organisasi sosial dan organisasi kemanusiaan lainnya untuk mengelola embung.

Baca juga: Kisah Pemuda Tang dan Fang, Masuk 10 Besar Anak Muda Terkaya Dunia gara-gara Aplikasi Pengiriman Makanannya Laris Manis Saat Pandemi

Hal ini disampaikan Tomy Yohana, mitra binaan PHE Jambi Merang.

Ia menceritakan perjalanan Kelompok Ketan Adem penuh perjuangan. Saat ini kelompok ini masih bertahan berkat bantuan PHE Jambi Merang.

"Intinya warga Desa Mendis yang awalnya tidak tahu, bisa mengetahuinya. Banyak dapat wawasan pengetahuan,” kata Tomy yang juga menjadi anggota Ketan Adem saat berbicara secara virtual dalam Sharing Session: Cinta Bumi Tanggap Api, Kisah Inspirasi Mitra Binaan PHE Jambi Merang, Jumat (17/12/2021).

Dalam hal ini, Desa Mendis berkontribusi ikut mengembangkan Ketan Adem dengan melibatkan dalam pengelolaan wisata embung.

“Mengelola aset desa yaitu tanah khas Desa Mendis untuk kami berkumpul, merencanakan kerja, hingga diskusi antar kelompok masyarakat,” cerita Tomy.

Baca juga: Kisah Pengusaha Distro Raup Omzet Miliaran di Tengah Pandemi

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.