Rendahnya Tarif Angkut Barang Jadi Akar Masalah Truk Odol

Kompas.com - 22/02/2022, 15:30 WIB


JAKARTA, KOMPAS.com - Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai tarif angkut barang yang semakin rendah menjadi akar masalah dari keberadaan truk kelebihan muatan atau over dimension-over load (ODOL).

Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan MTI Djoko Setijowarno mengatakan, di tengah biaya produksi yang meningkat, pemilik barang tidak mau keuntungan yang selama ini didapat berkurang.

Pihak pemilik armada truk atau pengusaha angkutan barang, juga tidak mau berkurang keuntungannya. Hal yang sama terjadi pula pada pengemudi truk yang tidak mau berkurang pendapatannya.

Baca juga: Truk Odol yang Rusak Jalan Tergolong Tindak Pidana Ringan? Ini Penjelasannya

"Sesungguhnya, akar masalah truk ODOL adalah tarif angkut barang semakian rendah," ujar Djoko dalam keterangan tertulisnya, Selasa (22/2/2022).

Pengamat transportasi itu mengungkapkan, pada akhirnya pengemudi truk yang berhadapan langsung dengan kondisi di lapangan, membawa kelebihan muatan (over load) dengan menggunakan kendaraan berdimensi lebih (over dimension) untuk menutupi biaya tidak terduga yang dibebani pada mereka.

Sepanjang perjalanan pengemudi truk harus menanggung beban biaya, seperti tarif tol, pungutan liar yang dilakukan petugas berseragam dan tidak seragam, parkir, urusan ban pecah, dan sebagainya.

"Uang yang dapat dibawa pulang (pengemudi truk) buat keperluan keluarga pun tidak setara dengan lama waktu bekerja meninggalkan keluarga," katanya.

Baca juga: Kemenhub Normalisasi 1.500 Kendaraan ODOL di Banyuwangi

Djoko mengatakan, tekanan terbesar ada pada pengemudi truk karena mereka yang berhadapan langsung dengan kondisi nyata di lapangan. Maka kini profesi pengemudi truk tidak memikat bagi kebanyakan orang, sehingga semakin sulit mendapatkan pengemudi truk yang berkualitas.

Menurutnya, jika masih ada yang bertahan sebagai pengemudi truk, kemungkinan disebabkan belum punya alternatif pekerjaan yang lain. Kondisi ini akan membuat Indonesia ke depannya banyak kehilangan pengemudi truk yang profesional.

Ia juga menyoroti, jika terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan truk ODOL, maka seharusnya tidak hanya pengemudi truk yang dijadikan tersangka, tetapi pemilik barang dan pemilik angkutan juga harus dimintakan pertanggungjawabannya.

Dia bilang, pemerintah selama ini baru mengajak pemilik barang dan pengusaha angkutan barang untuk berdiskusi menyelesaikan masalah truk ODOL.

Padahal tidak ada salahnya untuk mendengar keluhan dari sisi pengemudi truk, karena mereka adalah bagian tidak terpisahkan dari proses mata rantai penyaluran logistik dari hulu hingga hilir.

"Jadikanlah pengemudi truk mitra, bukan selalu dijadikan tersangka. Tingkatkan kompetensinya dan naikkan pendapatannya," kata Djoko.

Baca juga: Soal Truk ODOL, YLKI Minta Presiden Jokowi Turun Tangan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.