Inflasi Inggris Mencapai 9 Persen, Tertinggi dalam 40 Tahun

Kompas.com - 19/05/2022, 08:08 WIB


LONDON, KOMPAS.comInggris mencatatkan kenaikan inflasi pada April 2022 sebesar 9 persen, atau tertinggi dalam 40 tahun terakhir. Kenaikan inflasi ini disebabkan karena harga makanan dan energi melonjak dalam bulan terakhir.

Penyebab utama kenaikan inflasi juga akibat kenaikan biaya hidup, dimana harga konsumen naik 2,5 persen mtm (month to month), atau sedikit di bawah ekspektasi Reuters, yakni 2,6 persen. Kenaikan inflasi 9 persen ini melampaui inflasi Maret 1992 yakni 8,4 persen, atau lebih tinggi dibandingkan Maret 2022 lalu, sebesar 7 persen.

Mulai 1 April, regulator energi Inggris meningkatkan batas harga energi rumah tangga sebesar 54 persen, menyusul lonjakan harga energi grosir, termasuk rekor kenaikan harga gas global. Regulator, Ofgem, tidak mengesampingkan kenaikan lebih lanjut hingga batas pada evaluasi berkala tahun ini.

Baca juga: Pemerintah Mulai Waspada, Konflik Rusia-Ukraina Bisa Kerek Inflasi Tinggi

Bank of England telah menaikkan suku bunga pada empat pertemuan berturut-turut. Kenaikan biaya pinjaman dari level terendah di era pandemi sebesar 0,1 persen ke level tertinggi dalam 13 tahun sebesar 1 persen, dilakukan untuk mengendalikan inflasi.

Richard Carter, kepala penelitian bunga tetap di Quilter Cheviot mengatakan, dalam sebuah survei baru-baru ini menunjukkan, seperempat warga Inggris terpaksa melewatkan waktu makan mereka karena tekanan inflasi dan krisis pangan yang terjadi.

Rilis inflasi tersebut, juga memukul industri rumah tangga yang sebelumnya sudah bergejolak akibat tekanan kenaikan harga. Ini diperburuk dengan peringatan, bahwa akan ada lagi kondisi yang lebih buruk di masa mendatang.

“Tidak seperti di AS, inflasi Inggris terus meningkat untuk saat ini, memicu kekhawatiran lebih lanjut seputar biaya hidup. Ini juga akan menambah tekanan pada Bank of England untuk menaikkan suku bunga dan mengatasi kenaikan harga. Selain itu, ada banyak faktor yang mendorong inflasi berada di luar kendali,” kata Carter, kepala penelitian bunga tetap di Quilter Cheviot, mengutip CNBC, Kamis (19/5/2022).

Baca juga: 10 Negara dengan Tingkat Inflasi Tertinggi, Indonesia Termasuk?

Ambrose Crofton, ahli strategi pasar global di JPMorgan Asset Management mengatakan, untuk pertama kalinya, jumlah pengangguran lebih sedikit, daripada jumlah lowongan pekerjaan. Tingkat pengangguran sekarang berada di level terendah hampir 50 tahun.

“Pekerja memanfaatkan daya tawar mereka untuk meminta pengusaha menaikkan gaji untuk mengatasi masalah (kenaikan biaya hidup) tersebut, dengan biaya hidup yang lebih tinggi, dengan pertumbuhan upah sekarang mencapai 7,” kata Crofton.

Dia melanjukan, risikonya jika Bank of England menaikkan suku bunga terlalu cepat pada saat konsumen sudah merasa terjepit, dapat menghambat permintaan dan mendorong ekonomi ke dalam resesi.

“Namun, melakukan (kenaikan suku bunga) yang sedikit, juga berisiko memperkuat ekspektasi inflasi dan mendorong kebutuhan upah yang lebih tinggi,” tambah dia.

Baca juga: 5 Negara dengan Tingkat Inflasi Terjaga, RI Peringkat Berapa?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.