Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Kurangi Impor, Menteri ESDM Minta Target Produksi Migas Dipercepat

Kompas.com - 06/12/2022, 18:10 WIB
Kiki Safitri,
Akhdi Martin Pratama

Tim Redaksi


JAKARTA, KOMPAS.com – Pemerintah meminta target produksi minyak 1 juta berrel per hari dan gas 12 BSCFD pada tahun 2030 dapat dipercepat, agar dapat mengurangi impor. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan, hal ini seiring dengan pengurangan impor migas yang dilakukan.

“Ini membuat pemerintah memiliki ruang yang lebih luas untuk melakukan pembiayaan pengembangan energi terbarukan yang menjadi prioritas dalam transisi energi. Dalam periode transisi energi, minyak bumi masih sebagai energi utama untuk transportasi sebelum digantikan oleh kendaraan listrik,” kata Arifin dalam siaran pers, Senin (5/11/2022).

Arifin bilang, gas bumi dimanfaatkan sebagai energi transisi sebelum tercapainya 100 persen EBT di pembangkit. Sementara itu, realisasi produksi dan lifting migas saat ini masih di bawah target, sehingga berdampak cukup berat terhadap APBN.

Baca juga: Dirjen Migas: Teknologi Baru Bikin Industri Migas Bergerak Lebih Cepat

Sementara itu, produksi minyak saat ini kurang lebih 612 MBOPD dibawah target APBN 703 MBOPD, sedangkan untuk produksi gas dapat melewati target dalam APBN yaitu sekitar 6.687 MMSCFD melebihi dari target 5.797 MMSCFD.

Untuk itu, Arifin meminta SKK Migas bersama Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) terus berupaya meningkatkan produksi migas nasional. Antara lain dengan melakukan pengeboran sumur pengembangan, kegiatan workover dan well service secara massif serta melakukan berbagai upaya dan terobosan agar produksi migas dapat mencapai target APBN atau bahkan melebihi target.

“Meski terjadi penurunan produksi, saya minta produksi tetap dijaga dengan menghindari shutdown-shutdown yang tidak direncanakan,” tambahnya.

Baca juga: Kementerian ESDM Dorong Revisi UU Migas Rampung Tahun Depan

Arifin bilang, saat ini dunia sedang dihadapkan dalam krisis, mulai dari krisis energi, krisis keuangan dan krisis geopolitik.

Krisis tersebut juga berdampak terhadap Indonesia dan menjadi tantangan yang sedang dihadapi bersama, sekaligus mencari peluang agar Indonesia tetap mampu menyediakan energi kepada masyarakat dengan harga yang terjangkau.

“Kita memiliki potensi sumber daya alam yang besar. Untuk itulah diperlukan berbagai strategi, inovasi dan kebijakan agar kebutuhan energi masyarakat tetap dapat terpenuhi,” ujar dia.

Baca juga: Genjot Produksi Migas, Pemerintah Optimalkan Reaktivasi Idle Well

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com