Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Laporan Pendapatan Nvidia Tak Mampu Jadi Katalis, Wall Street Melemah

Kompas.com - 24/05/2024, 08:08 WIB
Kiki Safitri,
Aprillia Ika

Tim Redaksi


NEW YORK, KOMPAS.com - Bursa saham AS atau Wall Street berakhir di zona merah pada penutupan perdagangan hari Kamis (23/5/2024) waktu setempat. Laporan pendapatan perusahaan pembuat chip Nvidia yang lebih baik dari perkiraan analis, tak mampu mendorong kinerja saham-saham di bursa AS.

Dow Jones Industrial Average (DJIA) mencatatkan hari terburuknya sepanjang tahun 2024, dan gagal memanfaatkan reli pasca rilis pendapatan Nvidia. Indeks yang berisikan 30 saham itu turun 605,78 poin, atau 1,53 persen, dan ditutup pada level 39.065,26. Saham Boeing yang ambles 7,6 persen jadi pemberat indeks.

Sementara itu, S&P 500 ambles 0,74 persen, dan ditutup pada level 5.267,84. Nasdaq Komposit anjlok 0,39 persen dan berakhir pada level 16.736,03. Di awal sesi, indeks pasar luas dan indeks acuan teknologi sempat mencapai rekor tertinggi.

Baca juga: Menanti Arah Kebijakan The Fed, Bursa Saham AS Berakhir Hijau

Perusahaan pembuat chip dan kecerdasan buatan Nvidia melonjak 9,3 persen pada penutupan perdangan, dan menjadikan harga saham berada di level 1.000 dollar AS per saham. Posisi tersebut berhasil dicapai setelah membukukan hasil fiskal kuartal pertama yang lebih kuat dari perkiraan dan mengumumkan rencana stock split atau pemecahan saham 10:1.

Perusahaan juga mengeluarkan panduan pendapatan fiskal kuartal kedua sekitar 28 miliar dollar AS yang juga mengalahkan perkiraan konsensus LSEG sebesar 26,61 miliar dollar AS. Ini merupakan sebuah tanda bahwa perusahaan tidak melihat momentumnya melambat. Analis memperkirakan laba per saham Nvidia mencapai 5,95 dollar AS per saham.

Hasil Nvidia telah menjadi titik fokus bagi Wall Street, karena para investor mengharapkan adanya sinyal positif dari euphoria seputar AI yang masih terus berlanjut. Dengan kapitalisasi pasar lebih dari 2,5 triliun dollar AS, Nvidia juga memiliki pengaruh besar terhadap indeks S&P 500.

Namun, mayoritas saham dalam indeks berubah negatif pada hari Kamis. Lebih dari 400 saham di S&P 500 melemah, dan sektor teknologi informasi menjadi satu-satunya sektor yang positif pada perdagangan tersebut.

Baca juga: Bursa Saham AS Ditutup di Zona Merah Imbas Lonjakan Harga Minyak

Data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan juga menghentikan reli pada hari Kamis karena investor mengurangi peluang penurunan suku bunga pada bulan September. Menurut survei S&P Global yang dirilis Kamis, data jasa dan manufaktur untuk bulan Mei melampaui ekspektasi para ekonom.

Klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir 18 Mei mencapai 215.000, sementara ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan 220.000. Hasil ini menambah kekhawatiran investor bahwa Federal Reserve tidak akan menurunkan suku bunga dalam waktu dekat.

Menurut CME FedWatch Tool, Para investor saat ini memperkirakan hanya 51 persen kemungkinan The Fed akan menurunkan suku bunga pada pertemuan bulan September, turun dari 58 persen pada hari yang lalu dan hampir 68 persen pada minggu sebelumnya. Ketika probabilitasnya turun di bawah 60 persen, kemungkinan besar The Fed tidak akan mengambil tindakan lagi.

“Pasar memiliki pijakan yang longgar,” kata chief market technician Craig Johnson Piper Sandler, dikutip dari CNBC.

“Perpaduan kepemimpinan pasar, dikombinasikan dengan turunnya harga saham-saham transportasi, membuat kami tidak begitu yakin bahwa kenaikan baru akan dipertahankan dari level saat ini,” tambah Sandler.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Menteri PPN Sebut Masih Ada Pejabat Eselon I Terima Bansos

Menteri PPN Sebut Masih Ada Pejabat Eselon I Terima Bansos

Whats New
Saham Bank-bank Besar Terkoreksi, OJK: Lumrah dan Sejalan dengan Mekanisme Pasar

Saham Bank-bank Besar Terkoreksi, OJK: Lumrah dan Sejalan dengan Mekanisme Pasar

Whats New
E-commerce Makin Ngetren, Ini Wujud Transformasi Perusahaan Jasa Logistik

E-commerce Makin Ngetren, Ini Wujud Transformasi Perusahaan Jasa Logistik

Whats New
Emiten Kertas TKIM Bakal Tebar Dividen Rp 77,8 Miliar

Emiten Kertas TKIM Bakal Tebar Dividen Rp 77,8 Miliar

Whats New
Kembangkan Energi Bersih, Pertamina NRE Siapkan Investasi 6,2 Miliar Dollar AS pada 2029

Kembangkan Energi Bersih, Pertamina NRE Siapkan Investasi 6,2 Miliar Dollar AS pada 2029

Whats New
Link Cek Hasil Seleksi Administrasi Sekolah Kedinasan 2024

Link Cek Hasil Seleksi Administrasi Sekolah Kedinasan 2024

Whats New
INKP Bakal Tebar Dividen Rp 273,5 Miliar

INKP Bakal Tebar Dividen Rp 273,5 Miliar

Whats New
AI Jadi 'Sephia' di Tempat Kerja: Benci tapi Rindu

AI Jadi "Sephia" di Tempat Kerja: Benci tapi Rindu

Whats New
P2MI: Masyarakat Jangan Lagi Termakan Pesan Berantai soal Daftar Makanan dan Bumbu Masak Tidak Halal

P2MI: Masyarakat Jangan Lagi Termakan Pesan Berantai soal Daftar Makanan dan Bumbu Masak Tidak Halal

Whats New
Strategi Pupuk Indonesia Tingkatkan Penyerapan Pupuk Bersubsidi

Strategi Pupuk Indonesia Tingkatkan Penyerapan Pupuk Bersubsidi

Whats New
PYFA Resmi Akuisisi 100 Persen Saham Perusahaan Farmasi Australia

PYFA Resmi Akuisisi 100 Persen Saham Perusahaan Farmasi Australia

Whats New
Waspada, Ini 15 Ciri-ciri Atasan Pelaku 'Micromanagement'

Waspada, Ini 15 Ciri-ciri Atasan Pelaku "Micromanagement"

Work Smart
Gandeng Baznas, Mitratel Salurkan Hewan Kurban ke Wilayah Terluar Indonesia

Gandeng Baznas, Mitratel Salurkan Hewan Kurban ke Wilayah Terluar Indonesia

Whats New
Pemerintah Bangun Pipa Gas Bumi Cirebon-Semarang II Senilai Rp 3 Triliun

Pemerintah Bangun Pipa Gas Bumi Cirebon-Semarang II Senilai Rp 3 Triliun

Whats New
Rupiah Melemah Lagi di Atas 16.400, Simak Kurs Dollar AS di 5 Bank Besar Indonesia

Rupiah Melemah Lagi di Atas 16.400, Simak Kurs Dollar AS di 5 Bank Besar Indonesia

Whats New
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com