Kepala BKPM Siap Mundur pada 2023, jika...

Kompas.com - 29/01/2020, 14:20 WIB
Mantan Ketua HIPMI Bahlil Lahadalia datang ke Istana memenuhi panggilan Presiden Joko Widodo KOMPAS.com/RAKHMAT NUR HAKIMMantan Ketua HIPMI Bahlil Lahadalia datang ke Istana memenuhi panggilan Presiden Joko Widodo

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal ( BKPM) Bahlil Lahadalia berencana turun dari jabatannya bila tidak mampu menaikkan peringkat kemudahan berbisnis (Ease of Doing Business/EoDB) Indonesia.

Dia menyatakan siap dicopot pada tahun keempatnya, alias tahun 2023 bila tidak mampu menaikkan RI ke peringkat 50 dari peringkat 73.

"Pada tahun keempat, ya. Bukan tahun ini. Kalau enggak (bisa), ya sudah itu saya reformasi. Dan itu komitmen moralitas saya. Komitmen moralitas saya," tegas Bahlil saat menyampaikan realisasi investasi 2019 di Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Baca juga: Kepala BKPM Yakin Indonesia Tak Alami Resesi Ekonomi pada 2020

Dia bilang, pejabat mesti tahu malu saat tidak bisa menyelesaikan perintah Presiden RI. Sebab, pejabat tidak boleh menjadi beban negara.

"Saya pikir pejabat itu harus punya tahu malu juga, kalau pejabat enggak positif, ya tahu diri lah jangan disuruh-suruh. Ini fair saja," terang Bahlil.

Bahlil menuturkan, menaikkan peringkat EoDB RI ke peringkat 50 itu sudah melalui proses tawar-menawar dengan Presiden RI yang semula meminta RI berada di peringkat 40.

Bahlil yakin, EoDB RI mampu meningkat dari peringkat ke-73 karena adanya peran omnibus law yang memangkas proses perizinan dan persetujuan investasi di dalam negeri. Sehingga tak ada lagi tumpang tindih aturan dan mangkraknya investasi.

"Jujur saya katakan ini akan efektif. Kita ingin agar peringkat EoDB kita turun (ke peringkat 50). Memang secara bertahap, tapi akan berturun. Kalau ditanya seberapa yakin itu turun? Sebagai pengusaha sih 80-90 persen keyakinan saya turun," pungkas Bahlil.

Baca juga: Pemerintah Godok Strategi Dongkrak Kemudahan Berusaha di RI

Sebagai informasi, peringkat kemudahan berusaha adalah laporan peringkat dari Bank Dunia terhadap 190 negara yang disurvei untuk mengetahui kemudahan menjalankan dan membangun bisnis di suatu negara.

Ada beberapa indikator yang menjadi bahan penilaian kemudahan berusaha, antara lain memulai usaha, perizinan mendirikan bangunan, pendaftaran properti, penyambungan listrik, dan pembayaran pajak.

Selain itu, akses perkreditan, perlindungan investor minoritas, perdagangan lintas negara, penegakan kontrak, dan penyelesaian perkara kepailitan.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X