Asosiasi Feri Tak Mau Angkut Truk ODOL Mulai Mei 2020

Kompas.com - 26/02/2020, 08:32 WIB
Ratusan kendaraan yang akan menyebrang ke Sumatera antre memadati Dermaga Pelabuhan Merak sebelum masuk kapal ferry di Merak, Cilegon, Banten, Sabtu (2/12/2017). Meski dampak siklon tropis Dahlia belum sepenuhnya normal, otoritas Syahbandar dan PT ASDP Merak secara bertahap membuka kembali layanan penyeberangan dengan mengoperasikan 22 kapal ferry ukuran besar di atas 15 ribu GT untuk mengurai kemacetan kendaraan yang sempat mencapai 6 kilometer hingga KM-96 ruas tol Tangerang-Merak. ANTARA FOTO/ASEP FATHULRAHMANRatusan kendaraan yang akan menyebrang ke Sumatera antre memadati Dermaga Pelabuhan Merak sebelum masuk kapal ferry di Merak, Cilegon, Banten, Sabtu (2/12/2017). Meski dampak siklon tropis Dahlia belum sepenuhnya normal, otoritas Syahbandar dan PT ASDP Merak secara bertahap membuka kembali layanan penyeberangan dengan mengoperasikan 22 kapal ferry ukuran besar di atas 15 ribu GT untuk mengurai kemacetan kendaraan yang sempat mencapai 6 kilometer hingga KM-96 ruas tol Tangerang-Merak.

JAKARTA, KOMPAS.com - Asosiasi Pemilik Kapal Ferry Nasional Indonesia atau Indonesian National Ferryowners Association (INFA) memastikan tak akan melayani penyeberangan untuk truk bermuatan berlebih atau Over Dimension Over Load (ODOL) mulai 1 Mei 2020.

Aturan tersebut akan mulai diterapkan di Pelabuhan Merak dan Bakaheuni.

“Kapal-kapal ferry yang ada tidak akan menyeberangkan kendaraan tersebut (ODOL) dari Merak ke Bakauheni maupun sebaliknya,” ujar Ketua Umum INFA Eddy Oetomo dalam keterangan tertulisnya, Rabu (26/2/2020).

Baca juga: Mau Nelayan RI Melaut Sampai Alaska, Edhy Prabowo Lobi Internasional

Eddy menambahkan, mengangkut truk kelebihan muatan dapat merusak rampdoor dan mobile bridge. Bila hal tersebut terjadi, maka bisa mengganggu proses embarkasi dan debarkasi (loading dan unloading) muatan kendaraan dari dan ke kapal ferry.

Selain itu, truk ODOL juga dapat mempengaruhi keselamatan penyeberangan karena bisa membuat keseimbangan kapal terganggu.

“Bila rampdoor kapal patah, biayanya dapat mencapai miliaran rupiah. Ini harus ditanggung pengusaha kapal ferry. Belum lagi bila untuk memperbaiki kerusakan tersebut harus mengorbankan waktu operasi kapal ferry yang bersangkutan,” kata Eddy.

Baca juga: Akankah Pemerintah Suntikan Rp 15 Triliun Demi Selamatkan Jiwasraya?

Eddy menilai penerapan pelarangan kendaraan bermuatan berlebih di pelabuhan akan tepat sasaran.

“Karena pelabuhan penyeberangan sebagai simpul transportasi yang dapat menjaring pelanggaran ODOL untuk tidak melanjutkan perjalanan (memutus mata rantai pelanggaran ODOL),” ucap dia.

Baca juga: Sandiaga Uno: RI Masih Negara Berkembang, Belum Berpenghasilan Tinggi

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X