Covid-19, Pembuktian Kedua Industri Syariah?

Kompas.com - 01/04/2020, 21:06 WIB
Ilustrasi Syariah Thinkstockphotos.comIlustrasi Syariah

Karakter industri Syariah yang sesungguhnya dibangung di atas empat pilar, yakni pemenuhan hukum Tuhan (legal), kebutuhan diri (self-interest), kesejahteraan sosial (social-interest), dan kesinambungan lingkungan (ecological-interest).

Sayangnya, pembangunan industri "halal" seringkali hanya berfokus pada pilar pertama dan melupakan kesetimbangan tiga pilar yang lain.

Masa krisis adalah waktu yang paling tepat untuk memunculkan karakter di atas. Karena di momen ini lah manusia menunjukan sifat aslinya.

Sebuah realita di Inggris Raya dapat menjadi contoh sederhana. Hand sanitizer dan masker adalah dua produk yang sangat langka di masa pandemi Covid-19, sebagaimana juga terjadi di negara lain.

Suatu waktu di kota tempat saya tinggal, Durham, saya menelusuri beberapa supermarket untuk mencari produk tersebut. Durham terkenal dengan sebutan kota pensiunan. Selain mahasiswa sebagian besar penduduknya telah berusia lanjut.

Beberapa kali saya menyaksikan kesedihan dan kekecewaan para penduduk senior karena tidak mendapatkan barang yang mereka cari. Padahal untuk berjalan saja mereka kepayahan. Mereka pun masuk kategori yang paling rentan dalam wabah Covid-19.

Masyarakat Inggris Raya dengan histori panjang peradabannya yang glamor pun tak sanggup menahan panic buying. Demi memproteksi diri sendiri dari serangan wabah Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Lebih parah lagi, banyak pemilik modal yang melakukan price gouging. Meningkatkan harga barang yang sangat dibutuhkan di waktu bencana atau krisis.

Hand sanitizer yang biasa dibanderol tidak lebih dari 1 poundsterling (Rp 18.000), kini ini meroket 3.000 persen menjadi 30 poundsterling (Rp 540.000).

Sementara di bagian Inggris Raya yang lain, sebuah toko kelontong di Scotland membagikan paket berisi hand sanitizer, hand wash, dan masker kepada para pensiunan di komunitas sekitar secara gratis.

Asiyah and Jawad Javed mengorbankan uang 2.000 poundsterling (Rp 36 juta) yang seyogianya akan mereka gunakan untuk liburan di musim panas (self-interest) untuk komunitas mereka (social and ecological-interest).

Walaupun pandemi Covid-19 lebih sistemik dan multi dimensi dibandingkan krisis keuangan 2008, industri syariah masih berpeluang mengaplikasikan petuah Jenderal Sun Tzu.

Musibah ini dapat menjadi momentum pembuktian kedua, bahwa ekonomi syariah dapat menghadirkan keadilan dalam berekonomi melalui keseimbangan antara legal, self-interest, social-interest, dan ecological-interest.

Momen ini tepat untuk menunjukan empat karakter yang membedakan ekonomi Syariah dengan selainnya tersebut. Sebagaimana Denis Leary katakan, "crisis doesn't create character; it reveals it."

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.