Soal Ancaman Krisis Pangan Dunia, Buwas: Jangan Terlalu Khawatir

Kompas.com - 14/07/2020, 13:22 WIB
Direktur Utama Perum Bulog Komjen (Purn) Budi Waseso menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Kompas.com di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Kamis (31/5/2018). KOMPAS.com/GARRY ANDREW LOTULUNGDirektur Utama Perum Bulog Komjen (Purn) Budi Waseso menjawab pertanyaan saat wawancara khusus dengan Kompas.com di Kantor Pusat Perum Bulog, Jakarta, Kamis (31/5/2018).

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso mengatakan, tak perlu khawatir dengan ketahanan pangan dalam negeri, khususnya komoditas beras. Lantaran, hingga saat ini sejumlah daerah di Indonesia masih melakukan panen.

Hal tersebut disampaikan setelah ada peringatan Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) mengenai ancaman krisis pangan dunia di masa pandemi Covid-19. Musim kemarau berkepanjangan yang tengah terjadi diperkiran membuat terjadinya kekeringan.

"Soal pangan, di negara-negara lain itu memang sudah membatasi ekspor pangannya, tapi di Indonesia menurut saya jangan terlalu khawatir (terkait pasokan pangan)," ujarnya dalam acara diskusi virtual Market Review IDX Channel, Selasa (14/7/2020).

Baca juga: Wamen BUMN Minta Perusahaan Pelat Merah Sedekah ke Krakatau Steel

Menurut Buwas, sapaan akrabnya, kondisi cuaca di Indonesia tak seekstrem di luar negeri, seperti yang diprediksi sebelumnya. Saat ini, bahkan hujan masih terjadi di beberapa wilayah Tanah Air.

Hal tersebut membuat sejumlah daerah masih panen hingga hari ini. Bahkan beberapa wilayah sudah mulai melakukan musim tanam selanjutnya, sehingga tiga bulan mendatang akan ada wilayah yang juga melakukan panen raya.

"Jadi kekuatan pangan kita itu masih stabil," kata dia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia meyakini, produksi beras dalam negeri kedepannya akan cukup besar sehingga bisa memenuhi kebutuhan nasional.

Baca juga: Freddy Widjaya Gugat Pembagian Warisan, Ini Gurita Bisnis Sinar Mas

Kendati demikian, Buwas memastikan, pihaknya bersama pemerintah tetap waspada dalam menghadapi ancaman krisis pangan. Ini dilakukan dengan melakukan penyerapan gabah petani

"Kami juga sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk dengan menyerap gabah yang bisa disimpan lebih lama untuk mengantisipasi krisis," ungkapnya.

Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) juga sedang mendorong program percepatan musim tanam kedua (MT II) tahun 2020 yang targetnya bisa memproduksi beras 12,5-15 juta ton.

Baca juga: 5 Fakta Baru Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 4

Dengan stok beras dalam negeri hingga Juni 2020 yang tersedia 7,49 juta ton, dan bila musim panen kedua bisa mencapai 15 juta ton, maka stok beras bisa mencapai 22 juta ton hingga akhir Desember 2020.

Pasokan itu akan melebihi kebutuhan nasional yang diperkirakan mencapai 15 juta ton hingga akhir tahun. Dengan demikian, ketahanan pangan ditengah krisis akibat Covid-19 pada tahun ini dinilai bisa teratasi.

"Insya Allah kalau prognosis ini tidak ada halangan, maka akan terjadi surplus sekitar 5-6 juta ton beras, dan akan menjadi carry over untuk tahun depan," ungkap Syahrul dalam webinar Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, Kamis (2/7/2020).

Baca juga: Sosok Freddy Widjaya, Anak Pendiri Sinar Mas yang Tuntut Warisan



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X