Renungan Hari Perhubungan Nasional: Kebingungan Transportasi

Kompas.com - 17/09/2020, 16:21 WIB
Bandara Kertajati saat ini memiliki kapasitas 5 juta penumpang per tahun. Kedepannya akan dilakukan pengembangan, sehingga kapasitas meningkat menjadi sekitar 29,3 juta penumpang per tahun. Dok. Humas Angkasa Pura IIBandara Kertajati saat ini memiliki kapasitas 5 juta penumpang per tahun. Kedepannya akan dilakukan pengembangan, sehingga kapasitas meningkat menjadi sekitar 29,3 juta penumpang per tahun.

Kebingungan transportasi sampai saat ini juga masih terjadi terutama di sisi komersial. Sub sektor transportasi dibiarkan berjalan sendiri-sendiri dan saling mematikan dengan persaingan harga yang ketat.

Diawali dengan persaingan harga yang ketat di sektor penerbangan yang dampaknya tidak hanya pada sub sektor itu sendiri, namun juga sub sektor darat, kereta dan laut.

Harga tiket pesawat yang murah, hampir seharga tiket bus atau kereta membuat penumpang bus dan kereta beralih ke pesawat. Perusahaan otobus pun menjerit karena penumpangnya kosong yang berarti penghasilan turun drastis.

Padahal dengan berjalannya bus, tidak saja perekonomian transportasinya yang hidup, tetapi juga restoran, pedagang dan wisata di kota-kota yang dilewati jalur bus juga hidup. Tak ada bus lewat bawa penumpang, tak ada yang mampir membeli produk mereka.

Lalu bagaimana dengan penerbangannya sendiri? Banyaknya penumpang ternyata tidak membuat maskapai menjadi makmur, justru banyak yang hampir bangkrut karena bisnis tidak untung. Besarnya penumpang namun dengan harga tiket yang murah ternyata tidak bisa mengimbangi biaya-biaya yang dikeluarkan oleh maskapai.

Biaya operasional penerbangan yang penuh risiko memang sangat tinggi. Di dunia internasional, yang tarif tiketnya tidak diatur pemerintah dan bisa menjual tiket setinggi-tingginya atau serendah-rendahnya menurut penilaian pasar mereka, margin keuntungan maskapai sangat tipis.

Menurut Asosiasi Maskapai Penerbangan SIpil Internasional (IATA), rata-rata margin keuntungannya hanya 5 persen. Lalu bagaimana dengan maskapai domestik kita yang tarifnya diatur oleh pemerintah dan tidak boleh menjual tiket terlalu mahal?

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Anda bisa baca sendiri di berbagai pemberitaan media massa, bagaimana maskapai nasional selalu menjerit di akhir tahun karena selalu rugi. Bahkan pada akhir tahun 2018, salah satu maskapai besar, Sriwijaya Air, hampir saja lempar handuk karena terlilit hutang.

Maskapai sempat bernafas lega ketika pada tahun 2019 mereka bersama-sama menaikkan harga tiket, namun masih dalam koridor tarif batas atas yang ditetapkan pemerintah. Jumlah penumpang memang turun, tapi di akhir tahun mereka menuai keuntungan.

Penumpang yang tidak naik pesawat pun beralih ke transportasi darat yaitu bus dan kereta sehingga mereka juga turut tersenyum dan bisa memperbarui armadanya. Namun hal ini ditangkap lain oleh pemerintah. Penurunan jumlah penumpang pesawat dianggap sebagai kemunduran sehingga maskapai pun diminta menurunkan harga tiket lagi.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X